
Nindy sedang ada di sebuah pusat perbelanjaan
Nindy membawa keranjang belanjaan yang cukup penuh
dia masih fokus memilih beberapa barang sampai dia menabrak seseorang
"Ehh maaf saya gak sengaja" ucap Nindy
"Nindy" ucap orang tersebut
" Hendrico, apa kabar?" ucap Nindy
"Baik, lama banget ya kita gak ketemu" ujarnya
"Iya, sekarang sibuk apa?" tanya Nindy
"Biasa nerusin usaha orang tua, Lo lagi hamil?" tanya Hendrico saat melihat susu hamil di keranjang Nindy
"iya, anak kedua" jawab Nindy
"Selamat kalo begitu, suami Lo?"
"Bryan "
"Ada waktu gak gue mau ajak ngopi dulu di cafe sebrang" Hendrico menunjuk ke arah luar
"Kayaknya ada kebetulan Bryan ada meeting juga disana"
.
.
Nindy dan Hendrico masuk ke dalam cafe
kebetulan cafe itu di sekat dinding kaca
sedari tadi Bryan memperhatikan Nindy dan Hendrico yang sedang tertawa entah apa yang mereka bahas
ingin rasanya dia pergi kesana tapi meeting masih berlanjut
"Jadi bagaimana tuan apa ada yang akan anda tanyakan lagi?" Bryan tidak mendengarkan perkataan kliennya
"Tuan" ucapnya sekali lagi membuat Bryan terlonjak
" Ya tuan maaf saya kurang memperhatikan" ucap Bryan
"Jadi bagaimana apa ada pertanyaan?"
"Tidak saya rasa semua sudah jelas, masalah kontrak besok anda bisa datang ke perusahaan" Bryan menyelesaikan meeting
"Sayang" panggil Bryan membuat kedua orang itu menoleh
Bryan menghampiri Nindy dan mencium keningnya
Nindy mengernyitkan keningnya melihat sikap Bryan
"Halo Bryan lama kita gak ketemu" ucap Hendrico mengulurkan tangannya
"Iya, kebetulan ketemu disini" ujar Bryan menjabat tangannya
"Kenapa belum pesan?" tanya Bryan
"Kita lagi nunggu Lo , mau makan bareng" ucap Nindy
"Gak sopan sama suami bilang gitu" ucap Bryan mencubit pelan hidung Nindy
Nindy tahu sekarang Bryan sebenarnya sedang menunjukkan siapa dia di hadapan Hendrico
secara tidak langsung Bryan cemburu melihat Nindy yang berbincang dengan Hendrico
__ADS_1
Saat makan pun Bryan menyuapi Nindy meskipun Nindy menolak tapi Bryan tetap saja memaksa
Hendrico hanya menatap jengah
"Kalo gitu gue pergi dulu ya, thanks udah mau nemenin makan hari ini" ucap Hendrico sebelum pergi
"Ngapain sih pake sok akrab segala?" tanya Bryan sewot
"Gak gitu, kitakan gak sengaja ketemu terus dia ngajak ngobrol ya udah sekalian aja disini ngikutin Lo" ucap Nindy
"Coba biasain deh manggil suami tuh yang sopan yang romantis gitu" ucap Bryan membuat Nindy mendelik seketika
"Gak ah udah nyaman gini aja" jawab Nindy
"Kalo gitu gak salah dong cari lagi yang bisa manggil secara romantis" goda Bryan
Nindy mendelik mencubit perut Bryan sebelum pergi
"Makan tuh romantis" Bryan tertawa melihat wajah Nindy yang sedang kesal
Di kantor Bryan Mark juga mengajukan kerja sama
dia tahu semua orang orang terdekat Nindy dan Leo dari Maria
"Baik tuan nanti saya jadwalkan untuk bertemu tuan Bryan " ucap Reno
"Baiklah semoga tuan Bryan menyetujui kerjasamanya dan kita bisa bekerjasama dengan baik" Reno mengantar Mark keluar
Reno melihat meja Dara kosong dia menelepon Dara untuk menanyakan file yang hendak di bawa meeting
"Dara kamu dimana cepat keruangan saya dan bawa file untuk meeting 30 menit lagi" Reno memutuskan teleponnya begitu saja sebelum Dara menjawab
"Dasar nyebelin gak tau apa orang capek, mana istirahat masih lama lagi" keluh Dara
Sebenarnya Dara sedang memfotocopy beberapa file
Sialnya lagi saat Dara hendak kembali ke ruangannya lift rusak jadi dia harus naik tangga darurat
dengan nafas terengah-engah dia menyerahkan filenya ke ruangan Reno
"Per..mis.. si pak ini filenya hah hah"
"Kamu habis maraton sampe ngos-ngosan gitu?" tanya Reno
"Saya abis motocopy di luar kantor bapak buru buru nyuruh saya mana liftnya rusak lagi jadi saya naik tangga darurat" ucap Dara mengomel
"Kamu nyalahin saya?" ucap Reno dengan nada tinggi
"Bu.. bukan gitu pak" jawab Dara
"Terus itu apa namanya kalo bukan nyalahin saya" Dara hanya menunduk
"Maaf pak" ucap Dara
"Udah keluar" ucap Reno
"Ya ampun itu orang kenapa coba, gak tau apa gue capek gak ada terimakasihnya sama sekali" gerutu Dara sambil keluar ruangan
Baru saja ia duduk teleponnya kembali berdering
"Keruangan saya sekarang" Dara menghembuskan nafas kasar
Dara sampai mengepalkan tangannya dengan menggertakkan gigi
saking gregetnya dia dengan sikap semena menanya Reno
"Iya pak ada yang bisa saya bantu" ucap Dara dengan senyum yang amat di paksakan
"Kamu bawakan saya kopi, gulanya jangan banyak banyak pastikan airnya benar benar panas" titahnya sambil tetap fokus pada laptopnya
__ADS_1
"Astaghfirullah pak kan ada OB kenapa nyuruh saya" ucap Dara
"Kamu mau bantah saya?"
"Eng.. nggak pak, saya buatkan"
"Cuma asisten aja belagunya ya ampun, bosnya aja baik kenapa dia sikapnya melebihi seorang bos" gerutu Dara
Dara yang kesal berniat mengerjai Reno dia mencampur garam pada kopinya
dia tidak peduli lagi apa pun yang akan terjadi padanya nanti
"Silahkan pak kopinya saya permisi" ucap Dara hendak pergi
"Tunggu, kesini kamu" Dara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu
Dia memejamkan matanya menghembuskan nafasnya
dia berbalik mendekati Reno yang sedang menyeruput kopinya
Reno tidak menunjukan ekspresi apapun
sesaat kemudian Dara di buat tercengang
"Kopi terenak yang pernah saya coba" ucap Reno
Dara membulatkan matanya seolah tidak percaya Reno mengatakan kopi itu enak
"Dan untuk barista yang super hebat ini saya mau anda mencicipi kopi yang mengagumkan ini" Reno menyodorkan gelas ke hadapan Dara
"Gak perlu pak saya gak minum kopi" Dara beralasan
"Tapi ini kopi yang berbeda '' Reno berdiri dari duduknya menghampiri Dara
Reno mengangkat cangkirnya dan meminumkannya pada Dara
tepat setelah Reno menarik kembali cangkirnya Dara menyemburkan kopinya tepat ke wajah Reno
"Maaf pak " Dara mengelap wajah Reno dengan sapu tangannya
"Benar benar" Reno menyudutkannya ke dinding
Dara sudah bersiap memejamkan matanya untuk mendengarkan makian Reno
tiba tiba pintu terbuka muncul sosok wanita dengan raut wajah marah melihat
Reno dan Dara
Wanita tersebut mendekat dan memukuli Reni dengan tasnya
Dara membulatkan matanya dia menggunakan kesempatan ini untuk kabur
"Dasar laki laki kurang ajar bilangnya mau meeting tapi mesra mesraan sama sekretaris" hardiknya
"Sayang dengerin dulu ini gak seperti yang kamu liat" ucap Reno
"Gak usah ngeles pokoknya kita putus Putuuuusss" wanita itu menekankan kata putus berkata sambil terus memukuli Reno
"Sayang dengerin dulu" Reno menahan tangannya
"Gak usah ngomong apa apa lagi aku mau putus" wanita itu kembali memukul Reno lalu pergi begitu saja
Aku juga nulis novel lagi
jangan lupa baca berikan like komen dan vote
semoga kalian suka 😍😍😍
__ADS_1