
Nindy dan Bryan tiba di depan panti tampak dari luar sepertinya sepi
'apa mereka sudah berangkat' pertanyaan dalam hati Nindy
Bryan turun membukakan pintu
"Assalamualaikum.." ucap Nindy
"Waalaikum salam... ehh ayo nak silahkan masuk" Ibu Ambar menuntun Nindy dan Bryan setelah mereka bersalaman
"Anak anak udah pada berangkat ya Bu?" tanya Nindy
"Iya baru saja, tapi.." ucapan ibu Ambar tergantung
"Tapi apa Bu?" tanya Nindy penasaran
"Cia sudah dua hari tidak masuk sekolah karena sakit" wajah Nindy tampak panik menunjukkan kekhawatirannya
Dia segera pergi ke kamar Cia, setelah membuka pintu terlihat tubuh kecil itu terbaring lemah dengan handuk kecil di keningnya
"Cia ini mama nak" Nindy duduk disampingnya
"Ma..mmaa" lirih Cia
Anak kecil itu perlahan membuka matanya dia tersenyum manis dengan wajah memerah karena demam
Nindy tak kuasa menahan tangisnya entah mengapa melihat anak ini sakit membuat hatinya ikut sakit juga
"Mama jangan nangis Cia udah sehat kok" anak itu bangun mengusap air mata Nindy
Tangan kecil itu begitu panas menyentuh pipi Nindy
Nindy mengusap pucuk kepalanya dan mendudukan Cia di pangkuannya
"Sudah ke dokter? tanya Nindy bukan menjawab Cia hanya menggeleng
"Kenapa?" lanjut Nindy
"Cia tau ibu gak punya uang Cia denger waktu di anterin kakak ke kamar mandi, ibu nangis Karena gak ada uang buat Cia ke dokter" tutur anak itu
"Mama bawa ke dokter ya biar cepat sembuh" Cia hanya mengangguk
Nindy mengganti pakaian Cia lalu menggendongnya keluar
Bryan yang sedang mengobrol dengan ibu Ambar langsung berdiri memegang kening Cia
"Ya ampun ini panas banget cepat kita harus ke dokter"
"Maaf nak ibu bukan ibu yang baik bahkan untuk mengobatinya saja ibu tidak mampu" ibu Ambar nangis sesegukan merasa dirinya tidak berdaya
"Ini bukan salah ibu, saya harus membawa Cia dulu nanti saya akan bicara lagi dengan ibu" ucap Bryan lalu mereka pergi
Sesampainya di rumah sakit Cia berbaring dengan selang infus di tangannya
Nindy duduk di kursi samping Cia dengan Bryan yang setia berdiri di samping Nindy
"Makasih, mama dan om sudah mau bawa Cia kerumah sakit
"Sama sama sayang" ucap Nindy mengusap puncak kepalanya
"Mama beliin Cia makan dulu ya, ada om yang jagain disini" Nindy berlalu keluar
Bryan duduk di kursi dan menggenggam tangan Cia
__ADS_1
menatap dalam wajah anak itu hatinya terasa damai kala dekat dengan anak itu
"Om kenapa liatin Cia?" pertanyaan anak itu membuyarkan lamunan Bryan
"Jangan panggil om dong" pinta Bryan
"Terus panggil apa?" tanya Cia
"Leo aja di panggil Dady masa sih manggil saya om" Cia tampak mengernyitkan alisnya
"Kan Dady sama mama tinggalnya bareng bukannya orang tua harus tinggal bareng ya?" tanya Cia polos
Bryan di buat terkejut oleh penuturan Cia ternyata Nindy benar benar tinggal serumah dengan Bryan
'Gue pikir cuma di kasih apartemen doang ternyata serumah juga' batin Bryan
"Gak apa apa saya maunya di panggil papa, mau kan?" tanya Bryan sejenak Cia tampak berpikir
"Hmmm boleh deh jadi papanya Cia ada dua, horeeeeee" seru anak itu kegirangan
Bryan nampak puas dengan jawaban Cia dia memeluk anak kecil itu
saat Nindy kembali membawa bubur untuk Cia dua orang di ruangan itu sedang tertawa entah apa yang dibicarakan mereka
"Hai sayang seperti seru sekali, lagi ngobrolin apa?" tanya Nindy
"Ada deh" ucap Bryan dan Cia bersamaan
Nindy menyimpan mangkuk di ranjang samping Cia hendak menyuapinya
Bryan mencekal tangan Nindy membuatnya mengerutkan kening
"Ikut sebentar" Bryan menarik kasar tangan Nindy
Mereka keluar dari ruangan itu dan berdiri di depan pintu ruangan dimana Cia dirawat
lalu Nindy menepis kasar tangan Bryan
"Kenapa hah? kenapa Lo gak suka gue sentuh padahal Lo tinggal satu rumah sama cowok lain? bukan gak mungkin kan kalo dia sentuh sentuh Lo atau bahkan lebih" hardik Bryan
"Lo ngomong apa? Lo ngomong seakan Lo rendahin gue kenapa Lo gak berkaca sama diri Lo sendiri?" bentak Nindy
"Gue gak yakin sama kejadian dulu itu cuma terjadi sekali setelah itu gue gak pernah sama cewek lain, sementara Lo bertahun tahun tinggal sama cowok dan gak mungkin kalo hanya tinggal satu atap bisa ajakan satu ranjang bahkan satu bantal" Bryan seakan merendahkan Nindy
Plak
Satu tamparan mendarat di wajah Bryan berkali kali Bryan mengatakan hal yang menyakitkan untuk Nindy
dia tidak pernah tau apa yang terjadi tapi dengan mudahnya dia menyimpulkan sesuatu yang hanya dia dengar sepenggal kata
"Mas mbak tolong kalo berantem di rumah aja disini banyak orang sakit kasihan terganggu" Bryan dan Nindy melirik ke asal suara
Ternyata disana terdapat beberapa orang yang menonton perdebatan mereka
ahh betapa malunya mereka setelah minta maaf mereka segera masuk ke ruangan Cia
"Maaf ya sayang mama lama" ucap Nindy
"Gak apa apa buburnya udah habis ma"
"Anak pintar, Cia makan sendiri?" tanya Nindy dan di angguki Cia
"Pa jadi kapan kita jalan jalan sama mama?" pertanyaan Cia membuat Nindy menatap tajam Bryan 'papa?' Nindy membatin
__ADS_1
"Tanya mama kapan ada waktu luang" jawab Bryan
"Jadi kapan ma?" Cia mengguncang lengan Nindy
"Hmm kalo Cia udah sembuh dan hari libur" jawab Nindy
"Horeeeeee Cia akan sembuh cepat biar bisa jalan jalan"
Setelah di beri obat Cia akhirnya tertidur
Nindy menatap keluar jendela entah apa yang di lihatnya tapi dari ekspresinya dia seperti menginginkan sesuatu
"Liatin apa sih" tanya Bryan ikut mengintip di samping Nindy
"Bukan urusan Lo, sana minggir males gue Deket deket" ucap Nindy mendorong bahu Bryan dengan mata masih tertuju ke luar jendela
"Jadi Lo pengen soto?" tanya Bryan
"Bukan urusan Lo, kenapa sih masih disini pergi kerja sana" Nindy masih mendorong tubuh Bryan
Dorongan Nindy yang awalnya pelan menjadi keras membuat Bryann tidak siap menahan
lalu mereka terjatuh dengan posisi Nindy di atas
Bryan tersenyum mengejek membuat Nindy kesal dan memukul dadanya
Belum sempat Nindy bangun Bryan menggulingkannya ke samping
membuat posisi mereka terbalik
Nindy memukul mukul tubuh Bryan agar melepaskannya tapi itu tidak membuat pria itu bergerak sedikit pun
Bryan menahan tangan Nindy di samping kepalanya
Nindy hendak berteriak tapi takut Cia bangun dan melihat mereka
perlahan wajah Bryan mendekat
"Apa Lo coba goda gue dengan berpura pura jatuh?" tanya Bryan dengan senyum jahatnya
Nindy dengan cepat menggeleng wajahnya terlihat panik
'apa dia akan melakukan sesuatu disini? ohh tidak siapapun tolong gue' batinnya berteriak tapi mulutnya tidak kunjung mengeluarkan suara
Krucuucuukkk
Bryan menaikkan sebelah alisnya dia menatap dalam Nindy yang jadi salah tingkah karena malu
Bryan melepaskannya dan segera bangun pergi meninggalkannya Nindy yang masih berbaring melongo
"Apa apaan dia ini" batin Nindy dia sudah tidak mengerti dengan jalan pikiran. Bryan
Sebentar sebentar marah, kadang merendahkannya, mengejeknya dan kadang perhatian
"Apa dia punya keperibadian ganda ya?" Nindy bertanya dalam hatinya
Di tempat lain orang suruhan Leo sudah mendapat bukti bahwa ayah Bryan tidak bersalah
tapi masih menjadi pertanyaan siapa yang membawa kabur uang itu
Leo kini sudah berada di kantor polisi bersama pengacara
dia sudah menelpon Nindy tapi Nindy tidak juga menjawabnya
__ADS_1
"Kemana anak ini padahal dia yang paling semangat tapi sekarang malah menghilang " gumam Leo