
Nindy pulang ke rumah Damar untuk memastikan keadaan Cia dan Leo
setelah kejadian kemarin dia tidak pernah bertemu atau pun sekedar bicara lewat telepon dengan Leo
Semua panggilan Nindy selalu di tolak
"Mama lagi apa? " Cia menghampiri Nindy yang sedang duduk di ranjang Leo
"Daddy, papa, grandpa kemana ma? kenapa semuanya jadi gak ada? " tanya Cia yang berdiri di hadapan Nindy
"Papa dan grandpa di rumah sakit nak, dan daddy mama gak tau" Nindy menghela nafas saat menyebut Leo
"Papa sama grandpa sakit apa? Cia tadinya mau ajak mereka liburan" oceh Cia
"Liburan? anak mama mau liburan kemana? " Nindy tersenyum mengangkat Cia ke pangkuannya
"Ke puncak ma, temen Cia pernah cerita katanya tempatnya baguuuss banget"
"Nanti kalo mereka udah sehat dan urusan daddy udah selesai kita ajak jalan jalan, oke? " Nindy membulatkan tangannya membentuk huruf O
"Oke, promise" Cia mengangkat jari kelingkingnya
"Cia bisa bahasa Inggris? "
"Grandpa selalu bilang gitu kalo Cia minta sesuatu"
"Itu artinya janji, Cia tau? " Cia menggeleng sebagai jawaban
"Cia kangen sama grandpa" Cia memeluk Nindy
"Coba cerita waktu Cia disana"
"Cia banyak di beliin cemilan, makanan enak, mainan grandpa juga suka sisir rambut Cia katanya dia gak pernah ketemu sama anaknya dari anaknya masih bayi kecil" Cia memeragakan kata kecil dengan tangannya
"Terus? "
"Cia baru pertama kali ma di bawa naik pesawat ketemu grandma, grandma cantiiikkk banget kayak mama tapi dia gak mau ketemu sama kita dia ngamuk ngamuk" celoteh Cia menceritakan semuanya
"Ohh ya, Cia ketemu grandma dimana? kenapa grandma gak di ajak pulang? " tanya Nindy semakin ingin tau
"Soalnya waktu grandma liat grandpa grandma jadi nangis teriak teriak nyuruh Cia kabur, baju Cia juga di tarik tarik, Cia takut untung suster dateng"
"Apa jangan jangan mommy? " gumam Nindy menerka nerka kemungkinan yang terjadi pada ibunya
"Mama kenapa ngelamun? " tanya Cia
"Gak... kita jenguk papa kerumah sakit gimana mau gak? "
"Ayok mah Cia juga boleh jenguk grandpa kan ma" mendengar permintaan Cia Nindy diam sejenak
"Ma.. mama.. kenapa bengong"
"Mama gak janji sayang" Jawaban Nindy membuat raut wajah Cia berubah kecewa
"Grandpa belum bisa di temuin masih sakit nanti kalo udah sembuh kita jenguk" Nindy terpaksa berbohong pada Cia
"Ya udah kita jenguk papa aja"
.
.
Di rumah Dara Leo baru saja bangun mencari Dara yang hilang di sampingnya
Dia mencium wangi masakan membuatnya mengikuti asal aroma
"Pagi" sapa Dara seraya menyimpan piring ke meja
"Masih pagi kamu udah sibuk" Leo mendekati Dara
__ADS_1
"Udah mandi? " tanya Leo yang sedang memeluk Dara dan mengendus tengkuknya
"Menurut kamu? " tanya Dara seraya mengelus pipi Leo
"Wangi" Leo mencium Dara
"Geli" ucap Dara menepuk lengan Leo
"Aku pengen cepet nikah" ujar Leo
Kini Leo membalikkan tubuh Dara menghadapnya
Leo menatap lekat manik mata Dara dengan mengatakan ingin segera menikahinya
Wajah Dara memerah dia sengaja memalingkan tatapannya kearah lain namun Leo menahan keduanya pipinya agar Dara menatapnya
"Aku gak main main, aku cinta sama kamu aku harap kamu menerima lamaran aku" ucap Leo masih menangkup wajah Dara
"Aku.. a.. ak.. aku" Dara tidak dapat meneruskan kata-katanya
"Aku apa? " Ujar Leo semakin mendekati wajah Dara
"Akuuu"
"Jawab iya atau enggak" wajah Dara dan Leo berjarak sangat dekat membuat jantung Dara berpacu lebih cepat
"I.. i.. iya" dengan susah payah Dara menjawab pertanyaan Leo
"Aku mencintaimu"
Hati Dara bagai di penuhi kupu kupu yang sedang berterbangan
Leo mengusap bibir Dara lalu menciumnya lagi sekilas
"Aku mandi dulu" Wajah Leo berubah sumringah tidak seperti semalam saat kedatangannya kerumah Dara
ingin rasanya dia berteriak sambil lompat lompat saking senangnya
Akhirnya setelah bertahun tahun dia mempunyai pacar dan malah langsung ingin menikahinya
Dara ingin membagi kebahagiaannya dengan Nindy
dia segera mencari handphonenya dan menghubungi sahabatnya itu
Tuuttt
" *Hallo"
"Hallo Nindy, apa kabar? lo tau? gue lagi seneng banget hari ini"
" Baik, lo juga pasti lagi baik banget makanya seneng ampe kayak gitu "
"Kak Leo lamar gue nin, dia ngajak gue nikah"
"Syukurlah kalo kak Leo sama lo, gue restuin banget kalo kalian nikah"
"Seriously? ntar gue jadi kakak ipar lo dong? "
"Iya kalo kak Leo masih mau jadi kakak gue"
"Loh kok ngomongnya gitu? "
"Gue bukan adik kandungnya, gue cuma anak seorang pembunuh"
"Ada apa nin? apa ada sesuatu yang gue gak tau*? "
Nindy menceritakan semuanya pada Dara dia bingung harus berbagi dengan siapa
dan hanya Dara yang bisa mengatakan semua pesan Nindy pada Leo
__ADS_1
Sekaligus Nindy bisa menanyakan kabar Leo pada Dara
" Sorry nin gue bahkan gak tau kondisi kalian, gue jadi gak enak merasa bahagia di atas masalah kalian" lirih Dara
"Jangan gitu Dara, jangan kecewain kak Leo cuma lo satu satunya kebahagiaan dia, jangan sangkut pautkan masalah keluarga gue sama hubungan kalian, please buat kak Leo bahagia, sampein maaf gue sama dia dan bilang juga gue sayang sama dia"
"Pasti nin pasti gue sampein"
Dara menaruh ponselnya di meja usai menelepon Nindy
mereka kini sedang sarapan pagi Leo sangat lahap memakan habis makanan yang di masak Dara
Sementara Dara hanya memutar sendoknya di piring sambil melamun
"Kenapa? Apa kamu mikirin yang tadi? " tanya Leo melihat Dara seperti tidak nafsu makan
"Tidak bukan itu" Dara segera menjawab pertanyaan Leo
"Lalu? "
"Aku cuma... "
"Cuma apa? " Leo mengambil alih sendok Dara dan mulai menyuapinya
"Aku udah omongin ini sama Nindy dan dia setuju"
"Lalu? apa pengaruhnya dia setuju atau enggak? " tanya Leo
"Ya dia kan adik kamu aku cuma berbagi kebahagiaan aku sama dia"
"Tanpa persetujuannya pun aku akan tetap nikahin kamu" ucap Leo kembali menyuapi Dara
"Nindy sayang sama kamu, dia bahkan pesen sama aku buat gak kecewain kamu dia sampai mewanti wanti aku "
"Aku bukan anak kecil" Leo menaruh sendoknya kepiring Dara
"Apa kamu marah juga sama Nindy? dia gak tau apa apa bahkan mungkin kalo bisa milih dia gak bakal mau di lahirin" ucap Dara
"Jangan ikut campur masalah aku sama dia, aku cuma mau berbagi kebahagiaan sama kamu jadi jangan ikut campur masalah aku Sama Nindy "
"Bukannya kita harus mengingatkan juga, jika kita berbagi suka kita juga harus berbagi duka, aku gak mau kamu nanggung itu sendirian"
"Aku udah selesai" leo meninggalkan meja makan
Dara memejamkan matanya merutuki kebodohannya membicarakan itu di waktu yang tidak tepat
saat perasaan Leo masih berapi api dia malah menambah kekesalannya
Baru saja Dara keluar dari dapur menuju ruang tamu Leo yang sudah di ambang pintu kembali dan memeluk Dara
Dara hanya mematung mendapat pelukan dan ciuman di pipinya bertubi tubi
"Maaf aku terbawa emosi, aku gak bermaksud" Leo menggantung perkataannya
"Aku gak masukin dalam hati kok, maafin aku juga ya aku lancang" Leo menutup mulut Dara dengan jari telunjuknya
"Kamu gak salah" Dara hanya manggut manggut
Sesaat kemudian Leo mencium bibir Dara lembut sebelum berangkat ke kantor
tanpa mereka sadari pintu rumah Dara terbuka hingga ibu ibu sekitar kini mulai membicarakan mereka yang macam macam
"Kita berangkat" Leo menuntun tangan Dara keluar
Semua mata memandang Dara dan Leo bahkan ada yang mencibir mereka tanpa mereka tau yang sebenarnya
Like komen dan vote
like dan komen gratis tidak akan membuat jempol kakak kakak keriting 😄😄
__ADS_1