Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 60


__ADS_3

Pagi itu Nindy sedang berkemas untuk pulang di bantu Bryan


tiba tiba suster datang memberi tahu bahwa Hendrico sudah siuman dan ingin bertemu Nindy namun keadaannya masih kritis


"Mau apa lagi dia" gerutu Bryan


"Jangan gitu, aku temuin dia dulu aku belum ucapin terimakasih"


"Aku gak izinin kamu pergi sendiri" ucap Bryan


"Oke, kamu ikut tapi gak boleh marah marah disana" Nindy menuntun tangan Bryan keruangan Hendrico


"Nindy" lirihnya lemah saat melihat kedatangan Nindy


"Gimana keadaan lo? " tanya Nindy


"Gue minta maaf untuk semua kesalahan Gue" suara Hendrico begitu lemah dengan alat bantu pernafasan yang masih menempel


"Gue udah maafin lo, makasih lo udah nolongin gue kemaren kalo gak ada lo mungkin gue udah gak ada hari ini meskipun gue harus kehilangan bayi gue" ucap Nindy berkaca kaca


"Maaf gue gak bisa lindungin anak lo"


"Bukan salah lo" ucap Nindy


"Bryan gue minta maaf dulu gue gelap mata liat kedekatan kalian, tapi gue bersumpah gue gak pernah celakain Nindy" Hendrico menatap Bryan dengan penuh rasa bersalah


" Gue tau, gue udah maafin lo dan thanks udah selamatin istri gue" Bryan menepuk pelan bahu Hendrico


"Semoga kalian selalu bahagia" doa Hendrico untuk Nindy dan Bryan


"Lo juga, kita pamit ya keluarga lo udah ada di depan" ucap Bryan


.


.


"Hai lagi apa? " Leo menelpon Dara


"Hai, aku baru mau makan siang" jawab Dara


"Tadinya aku mau makan siang bareng tapi bentar lagi aku ada meeting, video call bentar boleh? "


"Oke"


"Hei katanya mau makan siang kok masih di ruangan? " tanya Leo saat video call sudah tersambung


"Ini makanannya dianter kesini, biar lebih enak aja ngobrolnya" Dara menunjukkan makan siangnya


"Ya udah makan aku mau liat kamu makan"


"Kamu gak makan siang? " tanya Dara


"Nanti sekalian meeting, ohh ya aku lupa ngasih tau kamu hari ini Nindy baru keluar dari rumah sakit"


"Apaa? kok kamu gak bilang kemarin? " tanya Dara ngegas


"Iya aku lupa kemarin saking senengnya, nanti sore mau jenguk kasian dia kehilangan bayinya" ujar Leo


"Iya aku harus kesana"


.


.


Di dalam kamar Nindy tidak mau keluar sama sekali


bahkan dia memilih pulang ke apartemen Bryan untuk menenangkan diri


dia sedang menatap kosong kearah jendela duduk di ranjang dengan kaki menjuntai


Bryan membuka pintu dia baru saja membuatkan Nindy sup


"Hei sayang " Bryan duduk disamping Nindy dan mencium pipinya


Nindy hanya melirik sekilas dengan senyum samar


lalu dia kembali menatap keluar jendela


air matanya luruh begitu saja Bryan hanya bisa mengelus punggungnya lalu membawa Nindy ke pelukannya

__ADS_1


"Cia lagi apa ya di luar sana? apa dia udah makan? " ucap Nindy di sela tangisnya


"Dia pasti baik baik aja, dia itu kuat" jawab Bryan


"Tapi anak sekecil itu bagaimana dia bisa.. hah aku.. aku gak bisa bayangin hiks hiks" Nindy menghela nafas meneruskan kalimatnya


" Suuttt sudah sekarang makan dulu besok kita cari Cia lagi" Bryan menenangkan Nindy


.


.


Di tempat Cia di culik


Cia sedang mendandani anak buah Mark


Mark hanya menonton duduk di belakang Cia


untuk sesaat dia terlihat tersenyum melihat Cia


entah penculikan macam apa ini Cia hanya di kurung tapi semua keperluan dan keinginannya terpenuhi


"Aku bosen" ujar Cia meletakkan alat make up nya


Mark menyuruh anak buahnya pergi hanya tinggal mereka bertiga di dalam kamar Cia


sekarang sedikit sedikit Mark bisa berbicara bahasa Indonesia


kini dia sedang menggendong Cia


"Uncle aku mau pulang" Cia memeluk erat leher Mark dan meletakkan kepalanya di bahu Mark


"Panggil grandpa " ucap Mark


"Grandpa? " tanya Cia bingung


"Iya grandpa itu kakek" jawab penerjemah


"Kenapa harus panggil kakek? " tanyanya lagi


"Karena aku adalah kakekmu" ucap Mark di terjemahkan oleh anak buahnya


"Itu tidak bisa, ada hal yang membuat kita tidak bisa bersama" jawab Mark


"Keluarga itu harusnya bersama, grandpa sekarang jadi kakek Cia berarti kita juga keluarga" oceh Cia


Mark hanya tersenyum sambil mengelus kepala Cia


di luar terdengar suara ribut ribut Mark menurunkan Cia dan menyuruh penerjemah menjaganya


Mark keluar memeriksa ada ribut ribut apa disana


"Ada apa ini? " tanya Mark baru saja membuka pintu


"Honey mereka melarangku masuk" ujar Maria dengan manja sambil memeluk Mark


"Memang mereka aku tugaskan untuk melarang siapa pun masuk" jawab Mark


"Tapi aku.. aku kan.. " ucap Maria terpotong


"Sudah jangan pernah masuk keruangan ini lagi" Mark menarik tangan Maria menjauh dari sana


''Kau tidak membunuhnya? " tanya Maria membuat Mark menghentikan langkahnya


"Aku tidak akan melakukannya" jawab Mark tanpa berbalik


"Kenapa apa kau takut?" sindir Maria


"Jaga batasan mu, kau hanya menumpang disini" Mark mengeratkan genggamannya membuat Maria meringis


"Tapi aku kekasihmu, aawww" Mark semakin mengeratkan genggamannya


"Aku bisa mendapatkan J*l*ng lain dengan mudah, orang orang seperti kalian hanya ingin uang dan kekuasaan tidak sulit untukku mencari pengganti wanita sepertimu" ucap Mark menghempas tangan Maria kasar lalu pergi meninggalkannya


"Awas saja kau lelaki tua, kalau saja aku tidak butuh perlindunganmu sudah ku habisi kau" Maria mengepalkan tangannya


.


.

__ADS_1


Di depan sebuah kantor Dara sedang menunggu Leo menjemputnya


tiba tiba handphonenya berdering


"Halo sayang aku masih ada kerjaan, kamu berangkat sendiri dulu ya" ucap Leo di sebrang telepon


"Ohh iya, semangat kerjanya cepet cepet pulang ya " jawab Dara


"Iya, I love you"


"love you to" jawab Dara


Tanpa sepengetahuan Dara ternyata Reno sedari tadi mendengarkan percakapan mereka


Reno berjalan sedikit menabrak bahu Dara membuat Dara mendelik menatapnya


"Pak kalo jalan pake mata dong" ucap Dara


"Sorry gak keliatan ada orang" Jawab Reno seraya masuk kedalam mobil


"Lo mau kemana? biar sekalian gue anter" lanjut Reno


"Tadinya mau ke rumah Nindy tapi kalo ikut bapak saya takut di turunin tengah jalan"


"Kebetulan saya juga mau kesana kita bisa sekalian"


" Ikut gak ya? " Dara terlihat sedang memikirkannya


"Kalo gak mau gak apa apa" Reno menghidupkan mobilnya


"Iya iya saya ikut" Dara masuk ke mobil Reno


sesampainya di apartemen Bryan disana tampak sepi


Dara melihat sekeliling tidak ada siapa pun


"Apa mereka ada disini? " tanya Dara


Bryan keluar dari kamar seorang diri dia juga mempersilahkan Reno dan Dara duduk


"Nindy dimana? " tanya Dara


"Ada di kamar, coba kamu hibur dia" jawab Bryan


Dara masuk ke kamar Bryan dia melihat Nindy masih dengan posisi yang sama menghadap jendela


"Nin lo gak apa apa? " tanya Dara duduk di sampingnya menggenggam tangan Nindy


"Gue baik Dara" Nindy tidak mau menatap kearah Dara


"Sorry gue baru datang, gue baru tau dari kak Leo kemaren handphone gue rusak" ucap Dara


"Gak apa apa Dara gue baik" Dara memegang wajah Nindy agar berbalik menghadapnya


"Jangan sembunyiin apapun dari gue" ucap Dara


Sesaat kemudian Nindy berhambur memeluk Dara dengan tangis yang pecah


Dara pun ikut menangis melihat Nindy yang rapuh


beban hidup yang silih berganti bahkan bertubi tubi menghantam kehidupan Nindy


meskipun Nindy terlihat tegar namun hatinya begitu rapuh


"Dosa apa gue Dara sampai sampai hidup gue penuh dengan penderitaan hiks hiks" Dara mengeratkan pelukannya


"Lo orang baik nin, Tuhan gak akan nguji manusia lebih dari batas kemampuannya, itu tandanya lo kuat lo mampu lewatin semuanya" Dara mengelus punggung Nindy


"Tapi gue hancur Dara remuk berkeping keping, Meskipun gue coba buat berdiri tegak tapi gue selalu runtuh " ucap Nindy penuh keputus asaan


"Di sekeliling lo banyak orang orang yang sayang sama lo, support lo, jangan buat mereka semakin mengkhawatirkan keadaan lo, lo bisa lo kuat"


"Gue juga bisa liat keputus asaan di mata pak Bryan tapi dia masih terlihat kuat demi lo, bahkan kantor terbengkalai kalo gak ada Reno gue gak tau bakal jadi kayak apa kantornya" mendengar ucapan Dara Nindy melepaskan pelukannya


Dia mengelap air matanya dengan tangan lalu kembali memeluk Dara


"Gue gak pernah rasain ada di posisi lo, tapi gue harap Nindy gue masih tetep Nindy yang ceria dan tabah" ucap Dara tersenyum menghapus air mata Nindy


"Thanks Dara, lo sahabat terbaik gue" mereka kembali berpelukan

__ADS_1


__ADS_2