Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 101


__ADS_3

Zain menatap Alika yang nampak sibuk dengan sesuatu di hadapannya. Perutnya kian nampak membuncit di usia kandungannya yang menginjak tujuh bulan.


Perut Alika yang membesar tak di barengi juga dengan tubuhnya.


Badannya tetap pada ukuran semula bahkan cenderung kurus.


Terkadang Zain miris sekali melihatnya. Meski dokter bilang bayi bayi mereka baik baik saja dan perkembangannya juga sangat bagus. Namun melihat tubuh sang istri....Zain sering menangis di malam hari.


Rasa bersalah selalu terselib di hatinya setiap kali menatap waja Alika yang lelap dalam tidur, beruntung kehamilannya tak begitu membuat wanita cantik itu tersiksa


Sering ia mengkonsultasikan tentang hal ini, namun kata dokter...bawaan orang hamil emang beda beda.


" sayang....!! " panggil Zain sambil melangkah masuk, segera Desy dan Novi yang berada di sana membantu Alika pamit undur diri.


Keduanya keluar kamar dan segera menutup pintu.


" hmmmm....." jawab Alika tanpa menoleh kepada Zain karena kesibukannya.


" sedang apa sih....kok aku di cuekin ?! " tanya Zain sambil memeluk perut Alika dari belakang.


" lagi persiapan aja..." jawab Alika enteng, Zain mengerutkan keningnya


" persiapan apa ?? " tanya Zain lagi.


" persiapan buat kita balik kerumah besar...kamu mau bawa aku kesana kan ?! " gantian Alika yang bertanya.


Zain sedikit menarik tubuh istrinya dan kemudian membalik tubuh itu untuk melihat kepadanya.


" kamu mau aku bawa kesana lagi ?! " Zain seakan tak percaya dengan yang ia dengar, pasalnya kemaren kemaren Alika seolah enggan untuk di ajak kembali kerumah mereka berdua.


" hmmm..." jawab Alika dengan mengangguk


" kau yakin sayang....?! "


" ya aku yakin...aku tidak seperti yang mereka sangkakan ?! " tanya Alika mengisyaratkan sesuatu kepada Zain, Zain menatap wanita itu lekat lekat.


" tentu saja...kau istriku, impianku yang terwujud.." jawab Zain dengan mata mata yang berkaca kaca, ia kemudian memeluk erat wanita itu.


Mencium seluruh wajah Alika bertubi tubi.


" kau sudah tahu berita itu ?! " tanya Zain penuh penyesalan.

__ADS_1


Alika mengangguk pelan, wajahnya nampak sendu.


" maafkan aku...maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud membawamu dalam posisi sulit seperti ini.." Zain mendudukkan sang istri di tepi ranjang.


" cintaku padamu memang membuatku lupa segalanya, andai aku tahu akan seperti ini.....aku akan berpikir dua kali untuk mengejarmu " lanjut Zain sembari mencium punggung tangan Alika yang ada di genggamannya.


" jadi...kau menyesal karena telah mengejarku dan sekarang aku malah menjadi istrimu...?! " Alika berkata kata dengan wajah cemberut, matanya sudah berkaca kaca.


Ah .....dia salah mengartikan kata kata Zain, atau Zain yang sudah salah menyampaikan kata kata. Entahlah....tapi yang jelas, sejak hamil Alika memang lebih sensitif jika itu menyangkut Zaidan.


Zain segera berdiri dan memeluk sang istri.


" eh...eh...kok nangis, aku salah ngomong ya ?! " Zain jadi panik sendiri, ia masih belum menyadari kesalahannya.


Alika terisak tanpa suara, wanita itu memang seperti itu....ia tak pernah bertindak frontal meski merasa sakit hati. Paling dia menangis dan mendiamkan Zain jika tak enak hati pada pria itu.


Dan itu malah membuat Zaidan ketakutan.


" kamu kenapa..jangan nangis sayang kenapa ?! ada apa...?! " tanya Zain lagi.


" kamu nyesel udah ngejar ngejar aku dulu kan...?! " kata Alika di tengah tengah isaknya.


Alika sedikit tenang ketika Zain mencoba menjelaskan maksud dari kata katanya tadi.


" kapan kita berangkat ?! " tanya Alika dalam dekapan sang suami.


" kamu beneran udah siap ?! " Zain balik bertanya sambil sedikit menarik kepalanya kebelakang agar bisa melihat wajah Alika yang kini terlihat sembab karena habis menangis.


Sangat hati hati dan penuh perasaan, Zain mengusap pipi Alika. Wanita itu mengangguk pelan.


Wajahnya masih tampak di tekuk.


" ada apa lagi ?! " tanya Zain sambil mencium pipi Alika.


" kamu udah bosen ya sama aku..?! " tanya Alika dengan wajah kembali nampak memerah karena menahan tangis.


Zain mengerutkan keningnya tak paham.


" kenapa bertanya begitu....?! " Zain kembali balik bertanya.


Alika diam saja, kembali isakan lirih terdengar darinya.

__ADS_1


" Malayka.... " panggil Zain.


" kamu nggak pernah minta lagi sama aku, kamu udah males kan sama aku " jawab Alika dengan kembali terisak dan membenamkan wajahnya di dada Zain.


Sementara Zain menganga demi mendengar kata kata dari istrinya itu, ia tak menyangka jika wanita cantik dalam dekapannya itu bisa memiliki pemikiran semacam itu.


Dirinya kini memang jarang meminta jatah haknya sebagai seorang suami pada Alika, tapi itu karena ia yang tak tega untuk memintanya karena melihat wajah kelelahan sang istri dalam kehamilannya.


Ia mati matian menahan hasratnya karena takut Alika akan sakit.


" sayang...kok ngomongnya begitu, mana ada aku bosen sama kamu " kata Zain sambil mengangkat dagu Alika agar melihat kepadanya.


" buktinya kamu gitu...nggak pernah minta minta lagi sama aku " jawab Alika sambil cemberut hingga bibirnya mengerucut.


Zain jadi gemas dan me***** pelan bibir itu.


" kamu pingin...iya..." goda Zain sambil menoel dagu Alika.


" ihh...kamu apa ich, bukan itu maksudnya...." Alika semakin di buat cemberut oleh kata Zain. Sementara ekspresi Alika membuat Zain tertawa.


" kamu itu lucu sayang...mana ada aku bosen sama kamu, aku tuh dapetin kamu tuh susahnya setengah mati tahu...yang ada aku tuh nahan mati matian kalau lihat kamu. Apalagi yang kayak gini ini...." kata Zain sambil sedikit meremas gunung kembar Alika yang menyembul seakan menggodanya dan menantangnya.


Membuat Alika sedikit terkejut karena tindakan absurd Zain barusan.


apalagi sejak hamil, sesuatu milik sang istri itu nampak telihat lebih besar lagi dan menggoda meski badanya tetap tak berubah.


" aku suka nggak tega liat kamu yang kayak capek banget kemana mana bawa anak kita...asal kamu tahu, liat kamu aja tuh aku udah on, nih liat..." Zain menarik tangan Alika kepada sesuatu miliknya yang terasa telah mengeras.


" kebayang kan gimana tersiksanya aku nahan selama ini, kok bisa bisanya kamu mikirnya gitu ?! " tanya Zain membuat Alika menunduk malu dan semakin membenamkan wajahnya di dada Zain.


" maaf...." kata Alika.


" jadi...sekarang kamu harus tanggung jawab, nggak mau tahu aku " Zain merangsek semakin memeluk erat tubuh Alika.


" katanya tadi gak tega liat akunya..." Alika mencoba menghindar.


" nggak untuk kali ini...siapa suruh mancing mancing...sini kamu, ngapain jauh jauh " Zain menarik pelan tubuh Alika yang sedikit membuat jarak padanya.


Kemudian ia menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.


" bilang ya kalau sakit....aku akan pelan pelan kok " pesan Zain pada Alika sebelum melancarkan aksinya memanjakan miliknya di bawah sana dan di angguki oleh Alika.

__ADS_1


__ADS_2