
Zain memutuskan membawa Alika kemanapun ia pergi. Ia menjadikan sang istri sebagai konsultan keuangan sekaligus asisten pribadinya selain Alex.
Meski tak ada wajah ceria atau senyum ramah Alika pada Zain, namun tidak adanya penolakan gadis itu pada dirinya, dianggap Zain sudah cukup.
Zain sadar, butuh waktu bagi Alika untuk bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seorang istri kedua.
Zain pun merasa percuma untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya, karena meski ia mengatakan yang sejujurnya namun kenyataannya dirinya telah menjadikan seorang Malayka Khumaira Rasyid sebagai seorang istri kedua.
Sementara Alika, ia mecoba tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Meski sebenarnya sangat sulit bagi dirinya menjalaninya.
Badai besar semakin menerjang dan mengombang ambingkan perasaan dan hati seorang Malayka Khumaira Rasyid sampai sedemikian rupa.
Hidup segan....mati tak mau. Itulah mungkin pepatah yang sangat pantas di sematkan kepadanya.
Hari ini seperti biasanya, Zain memasangkan cadar di wajah Alika sebelum keduanya berangkat ke kantor.
" bik Sumi bik Anti kami berangkat..." pamit Alika lembut dan sopan. Ya...hanya kepada dua orang itu bersikap ramah dan seakan baik baik saja.
Kepada Zain, dia hanya cenderung diam dan menuruti. Tanpa ada banya banyak interaksi percakapan.
" iya non...hati hati " bik Sumi dan bik Anti menanggapi Alik tak kalah ramahnya.
Kini kedua pasangan itu telah berada di dalam mobil yang di kendarai Alex.
Alex sangat tahu persis siapa wanita di samping tuan mudanya itu.
Sementara Zain, ia kini tampak sibuk dengan lap top di pangkuannya. Sesekali ia melirik kearah Alika yang terus melempar pandangannya keluar jendela.
Kini ketiga orang itu telah nampak memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Alika yang berdiri di samping Zain diam seribu bahasa. Sementara Alex mengikuti di belakang keduanya.
Puluhan pasang mata memperhatikan ketiga orang itu, terutama Alika.
Banyak tatapan takjub bahkan tak suka melihat kepadanya. mereka tahu siapa istri Zaidan Almeer Al Kahfi. Sehingga mereka mengira Alika yang sebenarnya adalah ****** seorang Zaidan saja.
Dan hanya sedang menutupi kedoknya sebagai asisten pribadi sang presdir. Agar ia bisa selalu bersama dengan presdir mereka yang tingkat ke tampannya memang di atas batas wajar. Tapi jangan harap ada yang berani mengungkapkannya.
" aku sungguh amazing melihat nona Alika...dengan penampilan seperti itu ia tetap mampu menunjukkan kualitas dirinya..." puji sebagian oraang yang berpikir positif tentangnya.
" aku tidak percaya tidak ada apa apa di antara dia dan presdir...pasti dia sebenarnya seorang wanita penggoda " kata yang lain menimpali
Tentu saja semua pendapat itu hanya terucap di belakang Alika dan Zain. Kalau mereka masih ingin bekerja di perusahaan ini, maka mereka harus bisa meredam pemikiran mereka cukup di dalam otak mereka saja
💦
Alika sedang sibuk dengan file file penting di layar segi empat di depan mejanya, sementara Zain...ia harus berjibaku dengan berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya, ketika Alex masuk dengan dua orang yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Ya...Zain menempatkan Alika di dalam ruangannya.
Dua orang itu nampak melirik Alika yang kini tengah berdiri bermaksud menyambut kedatangan mereka dengan sopan.
Meski sebenarnya hatinya hancur dan sakit melihat pria tua yang kini berdiri di hadapannya mengingat kata demi kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat yang mengahncurkan hati dan perasaannya yang di ucapkan pria itu kepadanya, bersama seorang wanita cantik yang juga Alika tahu siapa dia.
Dia istri pertama Zaidan. Andai bisa...ingin rasanya ia lari sejauh mungkin dari tempat itu jika bisa.
" bawakan kami air putih..." perintah tuan besar Zain kepada Alika hanya dengan meliriknya saja.
" biar saya ambilkan..." jawab Alex dengan cepat, sebenarnya ia tahu siapa yang di maksud tuan besar itu.
" tidak...bukan kau, dia " tuan besar menunjuk Alika dengan dagunya.
" baik..." jawab Alika kemudian dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Zain menatapnya sekilas. Alex menunduk kemudian pamit undur diri. Ia menatap sekilas penuh arti pada Alika.
Tak berapa lama Alika datang dengan membawa beberapa gelas berisi air putih kepada tiga orang yang telah berada di sofa.
Zain duduk berdampingan dengan wanita cantik yang berpenampilan hampir sama dengan dirinya.
dan jelas jika wanita itu sedang melayani Zain makan.
Sementara tuan besar, duduk di seberang keduanya.
" baik..." hanya satu kata lagi yang keluar dari mulut gadis itu.
Alika meletekkan gelas gelas itu di meja, kembali tuan besar memperhatikan Alika yang memakai sarung tangan lengkap dan lumayan tebal untuk menutupi kedua tangannya yang juga terlihat bergetar ketika meletakkan gelas keatas meja.
" cihh...dasar, sudah murahan...masih penyakitan juga rupanya. Wanita seperti ini yang coba di pertahankan Zaidan " omel tuan besar sangat pelan dan hampir tak terdengar oleh siapapun yang ada di sana keculai Alika yang memang posisinya lebih dekat kepada tuan besar Zain.
Oleh sebab itu tubuhnya kian bergetar bergetar,
Ingin sekali ia menjerit
" aku bukan wanita murahan... " namun kata kata itu hanya tercekat di tenggorokannya.
Alika hendak berlalu keluar ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.
" mau kemana ?! " tanya Zain sembari melongokkan kepalanya dengan wajah yang sedingin es batu.
" tentu saja dia akan makan Zain, ini jam makan siang kan.." bukan Alika yang menjawab, tapi tuan besar Zain sambil tetap menikmati makanannya.
Sementara yang di tanya hanya diam tak menjawab.
" Selesaikan dulu pekerjaanmu, baru kau makan " kata Zain
__ADS_1
dan sekali lagi tanpa menjawab Alika kembali kemeja kerjanya melanjutkan pekerjaannya tanpa ada bantahan atau pembelaan pada dirinya.
" beberapa hari lagi bawa Nadira menemui investor kita dari Usbekhistan. Mereka berencana menanam saham pada perusahaan yang coba kau bangun ini.." tuan besar mulai bertitah kepada cucunya itu. Setelah mereka menyelesaikan makan siang bersama mereka.
" kau harus berterimakasih pada Nadira...karena dialah mereka berniat menginvestasikan uang mereka pada perusahaanmu.." tambahnya lagi membanggakan sosok cucu menantu kesayangannya.
Nadira tersenyum anggun.
" terimakasih..." terucap satu kata dari bibir Zain
" apa sekarang kau mulai sadar, Nadira adalah satu satunya wanita yang pantas mendampingimu ?! " tuan besar Zain Almeer mempertajam kata katanya dengan sebuah maksud.
Seorang gadis yang juga duduk tak cukup jauh dari sana dan tentu mampu mendengar apapun percakapan mereka tadi tetap melanjutkan semua aktifitasnya tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan apa yang ia dengar.
Zain menatap sekilas Alika. Bukan ini maksud dia tadi melarang Alika keluar ruangan. Ia hanya takut Alika akan kembali seperti saat mereka berada di lapangan basket waktu tanpa dirinya.
Tapi ini sungguh di luar angan angannya.
Zain menghela nafas berat.
" pulang ke mansion hari ini...keluarga Nadira akan datang berkunjung " perintah tuan besar Zain sembari berdiri dan membenarkan kancing jaznya.
" kakek...aku rasa kita tidak perlu memaksa..." kata kata Nadira terpotong oleh kalimat Zain.
" aku akan pulang nanti..." kata Zain.
Tuan besar menghentikan langkahnya ketika berada di dekat meja Alika. Segera Alika berdiri
" ada yang bisa saya bantu tuan besar ?! " tanya Alika dengan sopan. Tak ada sorot apapun di mata Alika yang di temukan oleh tuan besar Zain di mata itu.
" aku harap aku akan mendengar kabar baik darimu...oh ya..apa kau sudah mengenal istri dari bosmu ?! " tanya tuan besar pada Alika sembari menunjuk Nadira yang berdiri di belakang dirinya.
Zain yang masih berdiri di sofa sana mengepalkan erat tangannya.
Alika memundurkan kursinya kebelakang, dan dengan takzimnya ia menundukkan kepalanya kepada Nadira.
" salam kenal nyonya....perkenalkan saya asisten pribadi tuan besar Zaidan " Alika memperkenalkan dirinya kepada Nadira.
Nadira tersenyum kepada Alika.
" terimakasih nona..." kata kata Nadira terjeda.
" Malayka Khumaira Rasyid...anda bisa memanggil saya Alika " Alika kembali memperkenalkan dirinya.
" terimakasih nona Alika...senang bisa berkenalan denganmu, semoga kau bisa membantu meringankan pekerjaan suamiku..." jawab Nadira kemudian tanpa sadar ia menekankan nama suamiku dalam kata terakhirnya.
" insyaAllah nyonya..." jawab Alika dengan tenang, meski jangan di tanya lagi bagaimana sakitnya perasaannya.
__ADS_1