Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 54


__ADS_3

Zain bersimpuh di hadapan Alika yang duduk di sisi pembaringan.


Kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan Alika.


" apa kau masih mencintai Ohan...?! " sumpah percayalah... Zain seperti orang yang sedang menyakiti dirinya sendiri karena memilih menyampaikan pertanyaan itu pada Alika.


Tapi apa boleh buat, ia benar benar harus mengetahuinya untuk menentukan langkah yang harus ia ambil.


Ia tak ingin lagi menjadi seorang pria pemaksa bagi Alika.


Ia ingin mencoba memberi kebebasa Alika bersuara, meski nanti endingnya, ia akan kehilangan wanita itu.


Alika terdiam membisu.


" katakanlah...aku siap mendengarnya " kata Zain pasrah.


" tidak tahu..." akhirnya itu adalah jawaban yang dipilih Alika. Zain memejamkan mata...ia sedikit lega, setidaknya jawaban Alika tak semenyeramkan yang ia pikirkan dan ia sangkakan.


" maafkan aku..." katanya kemudian, ia menelungkupkan wajahnya di pangkuan Alika sementara kedua tangannya melingkar di perut Alika.


" kita bahkan telah kehilangan kedua anak kita bahkan sebelum kita menyadari kehadirannya.." Zain tak mampu lagi menahan kesedihan di hatinya.


Entah adakah hal lain yang akan lebih bisa menyakiti dan merapuhkan pria angkuh itu ketimbang kenyataan ia yang telah kehilangan seorang anak, bukan seorang... tapi bahkan dua orang anak yang selama ini sangat ia harapkan untuk merekatkan hubungan keduanya.


Satu satunya harapannya untuk mempertahankan Alika di sisinya.


Dan kini...ia harus siap kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu.


" aku memang bukan seorang laki laki yang bertanggung jawab... Aku memang seorang pecundang, bahkan untuk membuatmu tetap bersamaku saja aku tak mampu " ucapnya di tengah isaknya yang tertahan. Bahunya bergerak naik turun.


Alika diam tak bergerak sedikitpun. Juga tak bersuara sekalipun.


Ia hanya diam dan diam. Hatinya tiba tiba terasa trenyuh.


Perlahan Alika menyentuh bahu Zain dan menariknya, Zain mendongak menatap wajah sendu Alika.


Untuk pertama kalinya selama ia bersama wanita itu, ia melihat tatapan hangat di mata Alika kepadanya.

__ADS_1


Zain tak melihat kebencian atau kemarahan di sana. Alika menatapnya cukup lama. Tangannya perlahan mengusap air mata Zain.


Sungguh hatinya sangat sakit, ia pun tak tahu dengan apa yang ia rasakan..kenapa hatinya perih melihat pria itu serapuh ini.


" sungguhkah kau masih ingin pergi dariku...?! Tidakkah sedikitpun di hatimu ingin menemaniku...berada di sisiku ?! " tanya Zain sekali lagi dengan wajah penuh harap. Ia menggenggam jemari Alika.


Alika mendongakkan wajahnya keatas, berusaha menahan sesuatu yang tiba tiba ingin meluncur begitu saja di pipinya.


" kau tidak akan mengingkari kata katamu sendiri kan ?! " Alika balik bertanya dengan suara yang bergetar dan terbata bata.


Zain menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan berat.


" bersabarlah tiga bulan lagi...aku tidak akan ingkar janji " kata Zain, ia kini berdiri mengikuti tarikan tangan Alika pada bahunya.


Alika tak ingin pria itu berlama lama di bawahnya, rasanya sangat tidak sopan.


Kemudian Zain mengangkat tubuh Alika dan menidurkannya, menyelimutinya.


Perlahan ia ikut menyusul.


" apa yang pernah Ricko katakan padamu..?! " tanya Zain sembari menarik tubuh Alika merapat kepadanya


" katakan sejujurnya..." pinta Zain dengan lembut


Alika mendongak menatap Zain, karena posisinya yang ada di dada Zain.


" kau memintanya melecehkanku ?! " Alika justru bertanya dengan suara bergetar.


Zain mengerutkan keningnya.


" kau yakin dia berkata seperti itu ?! " tanya Zain lagi


" tentu saja, aku tidak tuli...aku juga bukan orang bodoh yang tak bisa mengartikan kata katanya " jawab Alika ketus.


" kau tahu kenapa aku menghajarnya habis habisan di depan kelasmu dulu ?! "


Alika menggeleng.

__ADS_1


" karena dia mengatakan hal buruk tentangmu padaku " jawab Zain.


" jika dengan hanya mengatakan hal buruk saja tentangmu aku sudah menghajarnya dan mempermalukannya di depan umum, lalu..


Apakah mungkin aku memintanya melakukan itu padamu ?! " jelas Zain panjang lebar membuat hati Alika bergetar.


" kau adalah hidupku...andai kau tahu itu, tanpamu..aku benar benar bisa gila Malayka " desah Zain.


" entah bagaimana aku menjalani hidupku setelah kepergianmu nanti " tambah Zain lahi semakin mempererat pelukannya pada Alika.


Zain mengepalkan erat tangannya.


" aku sungguh akan membuat perhitungan dengamu Ricko..." tak sadar Zain menggeram, Alika kembali mendongak menatapnya.


" jangan berbuat apapun yang bisa merugikan dirimu sendiri, apalag nama baik keluargamu " kata Alika kemudian.


Zain diam tak bersuara.


Zaidan Almeer Al Kahfi



Malayka Khumaira RasyidM



Zain kembali menatap sendu wajah Alika.


Ia menundukkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Alika.


Perlahan tapi pasti, Zain melabuhkan bibirnya di bibir Alika.


Meny**** dan me***** bibir Alika yang telah benar benar menjadi candu baginya. Menguasai bibir itu hingga bagian terdalamnya.


" Zain...aku..." desis Alika perlahan ketika tautan bibir keduanya sedikit merenggang karena Zain yang sengaja melepaskannya untuk memberi kesempatan Alika bernafas, membuat mata Zain terbelalak tak percaya. Setelah sekian lama benarkah wanita itu menyebut namanya.


Zain kembali menarik dagu Alika

__ADS_1


" panggil namaku lagi Maly...aku mohon " bisik Zain mencoba memastikan ia tak salah dengar.


__ADS_2