
Zain meminta nasi goreng seperti kemaren malam, Alika dengan berat membuatkannya. Setelah selesai Alika meletakkannya di meja dan hendak segera pergi tapi Zain menahan tangannya.
" a...." Zain membuka mulutnya, minta Alika menyuapinya.
Dengan berat hati gadis itu menuruti saja, ia tak ingin berlama lama dengan Zain.
Zain tersenyum penuh arti menatap Alika yang menyuapinya dengan wajah muram.
Ia ingat pertama kali Alika menyuapinya dulu dan seakan menjadi candu baginya, suapan yang berakhir dengan dirinya yang kembali berkuasa pada tubuh gadis cantik itu. Meski gadis itu tak menolak seperti sebelum sebelumnya, meski dia tak pernah membalas. Setidaknya di malam itu ia tidak memaksa.
" kau membuatnya dengan penuh cinta kepadaku kah...rasanya sangat enak " goda Zain kepada Alika sambil tertawa yang membuat kadar ketampannya bertambah.
Tentu saja itu hanya di diamkan saja oleh gadis cantik bermata bulat itu, ia seakan tak punya alasan lagi untuk menjawab kata kata Zain.
Seharian penuh Zain terus mengekori Alika kemanapun gadis itu pergi.
Seperti saat ini, Alika sedang sibuk berberes rumah sedang Zain turut duduk di sekitarnya. Ia tak beranjak sedikitpun dari Alika.
Ia takut kelengahannya akan membuatnya kehilangan lagi gadis itu, padahal di luar sana ia telah menyiapkan beberapa orang untuk sekedar berjaga jaga.
Alika kini berkutat di dapur untuk membuat makan siang. Zain tidak ingin makanan lain, ia hanya ingin makan masakam Alika.
Ia ingin mewujudkan rasa irinya dulu yang pernah mendengar Ohan bercerita tentang makanan masakan Alika.
Kali ini pun Zain berdiri dengan menyandarkan bokongnya pada pinggiran wastafel dengan terus memperhatikan Alika memasak. Sesekali ia melabuhkan kecupan di pipi Alika meski Alika selalu menyorotkan tatapan tak sukanya.
" kau anggap apa diriku...pelacurmu kah " sentak Alika sangat kesal dengan perlakuan Zain padanya.
Zain hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya saja sembari bahunya yang turut ia kedikkan.
__ADS_1
Ketika masakan tersaji di meja, lagi lagi Zain minta di suapi oleh Alika. Tak ia hiraukan paras Alika yang sangat tidak enak di lihat.
Malam menjelang, Zain kembali menarik Alika dan mendekapnya di atas kasur ketika keduanya telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagi seorang mahkluk Tuhan.
Alika hanya diam saja, ini adalah malam kedua ia bersama pria itu. Kemarin ia tidur sendiri namun tiba tiba ketika ia bangun di pagi hari dirinya telah berada dalam dekapan pria itu.
" menurutlah...maka tidak akan terjadi apa apa pada kita.." bisik Zain di telinga Alika.
" semua akan terasa sangat sulit dan menyakitkan. Tapi ku mohon tetaplah bersamaku...bagiku, kaulah penyemangat hidupku " bisik Zain lagi di telinga Alika membuat Alika yang berada dalam dekapannya mengerutkan keningnya.
" apa maksudnya..." tanya Alika dalam hati tanpa berani bertanya. Yang terpenting pria ini tidak lagi memaksakan diri padanya itu sudah cukup.
Sejak awal Alika memang telah memendam rasa takut kepada Zain, yang entah dalam konteks apa dia takut pada pria dingin itu ia tak tahu.
Tapi yang jelas, ia takut dengan tatapan Zain yang tajam setajam belati. Ia takut dengan kemarahan Zain yang bahkan mampu merenggut kesuciannya hingga berkali kali.
Ia takut kepada kenekatan Zain. Hingga dalam tiga hari ini dirinya benar benar tak di perbolehkan keluar oleh Zain karena takut dirinya akan kabur seperti dulu lagi.
🌺🌺🌺🌺🌺
" sah..."
" sah..."
" sah..."
Hari yang di janjikan Zain pada Alika akhirnya ia wujudkan, meski belum resmi di mata hukum. Zain telah menjadikan Alika sebagai istrinya yang sah di mata agama.
Zain memberikan mahar yang sangat fantastis kepada Alika. Ia juga membeli rumah yang Alika kontraki atas nama Alika dan akan segera merenovasinya sebelum mereka tinggalkan.
__ADS_1
Zain akan membawa Alika ke Mesir untuk di perkenalkan kepada keluarganya.
Rumah itu di persiapkan Zain untuk Alika dan juga dirinya jika sewaktu waktu mereka kembali kesini. Karenanya ia berniat menyewa seseorang untuk berjaga dan merawat rumah itu nantinya.
Senyum cerah tersungging dibibir Zain,ia membawa teman teman Alika dan memberikan mereka paket liburan ke Bali sebagai tanda terimakasih karena telah bersedia hadir di acara ijab kabulnya.
Sementara Alika, gadis itu hanya diam tanpa ekspresi, ia tak tahu yang ia rasakan.
Tapi setidaknya sekarang ia bisa lega karena ia kini terhindar dari perbuatan dosa karena Zain yang seenak jidatnya terus menyentuhnya.
Namun tak dapat ia pungkiri rasa sakit hati dan luka yang Zain torehkan di hatinya masih membekas dengan jelas meski telah sepuluh tahu berlalu.
Malam kembali menyapa maya pada, Zain membawa Alika ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal di kota ini....puas berputar putar Zain membawa Alika kesebuah arena basket.
Di sana kebetulan sedang ada turnamen. Zain terus merangkul tubuh Alika dari belakang. Alika yang mengenakan setelah rok agak span warna abu abu smoth yang di padukan dengan kemeja putih di balut rompi rajut warna denim berikut kerudung yang senada dengan roknya serta sepati kets warna sangat terlihay fashionnable.
Zain sangat menyukai gaya berbusana Alika yang meski mengikuti mode masa kini tetap dengan tampilan Syar'i.
Semenatara Zain ia memakai celana training warna hitam yang di padukan dengan kaos oblong warna putih di padukan jaket warna mustard dan sepetu kets warna putih sangat terlihat tampan dan lebih muda dari usianya.
Keduanya sungguh bagai pasangan yang romantis dan serasi.
" Dulu kau meninggalkan aku begitu saja di lapangan basket...kau ingat ?! " tanya Zain pada Alika sembari terus memeluknya dari belakang.
" tahukah kamu...jika dalam setiap lemparanku waktu itu yang tepat sasarn aku persembahkan hanya pada mu. Tapi sayang kau pergi begitu saja tanpa mengapresiasi diriku atau sekedar hanya memberiku selamat. Kejamnya kau..." oceh Zain yang tak mendapat jawaban apapun dari gadis dalam dekapannya itu.
Alika menghembuskan nafasnya berat, hatinya panas bila mengingat itu, yang artinya bahwa saat itu juga mengingatkannya pada Ricko yang mencoba melecehkannya.
Terlebih lagi, kata kata Ricko terakhir kali sungguh sangat mempengaruhi kejiwaannya.
__ADS_1
Sementara perlakuan Zain selama hampir tiga hari ini mengurung dirinya di dalam rumah dengan tanpa meninggalkannya meski dalam semenit pun menimbulkan ketergantungan yang tak ia mengerti.