Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 39


__ADS_3

Alika terdiam membisu tak bergerak sama sekali, ia tak menangis...ia pun tak tertawa, hanya diam tanpa ekspresi.


Bik Sumi dan bi Anti segera mendekat kepadanya dengan tergopoh gopoh sembari membawa segelas air putih.


" anda tidak apa apa nona....nona minumlah " kata Bi Anti dengan sedikit menggerak gerakkan tubuh Alika. Wajah khawatir nampak jelas di wajah kedua wanita paruh baya itu.


Tak ada jawaban, Alika hanya terdiam.


Sangat lama Alika dalam posisi membisu seperti itu. Bi Anti dan Bi Sumi setia menemani.


Mereka ingin menghubungi tuan muda mereka, tapi mereka tak tahu no hand phone tuan mudanya itu.


Mata Alika menatap kosong kedepan. Ekspresinya datar saja. Sungguh jiwa Alika sangat terguncang hingga ia tak mampu lagi mengekspresikan perasaannya sendiri.


Ini adalah yang kesekian kalinya jiwanya terguncang


Bi Sumi dan Bi Anti bingung harus berbuat apa, mereka mendengar dengan jelas apa yang di katakan tuan besar Zain tadi kepada istri majikannya itu. Karena memang mereka berdua yang sedang berada di area dapur yang posisinya menyatu dengan ruangan itu.


Sungguh keterlaluan memang, tapi apa yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya seorang pembantu.


Ingin mendekatpun ada tiga orang pria berbadan besar yang siap menghadang keduanya.


Hampir dua jam telah berlalu, Alika mulai bisa menguasai kesadarannya. Ia meraih sendiri gelas di tangan bi Anti dan meminum airnya.


" ayo kita makan bik....aku lapar sekali " ajak Alika kepada kedua wanita paruh baya itu.


Tanpa mereka sadari, sesuatu yang tak biasa telah terjadi pada Alika.


Alika yang seakan tak mampu lagi menyadari apa yang sebenarnya ia rasakan. Alika yang seharusnya ia bersedih atau menangis agar beban di hatinya sedikit berkurang. Tapi Alika bahkan tidak mampu untuk melakukannya.


" nona..anda ?? " hampir bersamaan bi Anti dan bi Sum bertanya.


" tak apa...aku sudah biasa di perlakukan seperti ini sejak dulu " kata Alika sambil tersenyum getir.


Sebenarnya bukan perlakuan tuan besar Zain yang telah membuatnya seperti menangis darah. Tapi tentang seseorang yang akan bersama Zaidan besok yang membuat hatinya kian sakit.


Bagi Alika...Zaidan seakan telah menorehkan luka untuk yang kesekian kalinya di hatinya.


Kali ini...mampukah ia berdiri lagi ?!! Jerit Alika dalam hatinya


" aku seorang yatim piatu yang mendapat beasiswa untuk dapat bersekolah di sekolah elit milik tuan muda kalian. Tentu kalian tahu golongan apa orang orang yang bersekolah di sana. Dan tentu saja aku bukan dari golongan mereka " Alika menghela nafas sembari melangkah kearah meja makan dan di ikuti oleh bi Sumi dan bi Anti.


Seulas senyum aneh tersungging di bibir tipis nan cantik itu.


" dan pasti kalian sudah tahu perlakuan seperti apa yang aku dapatkan disana dari mereka...kurang lebih seperti perlakuan tuan besar tadi padaku " lanjut Alika dengan menyuap makanannya.


Tak ada ekspresi apapun di sana, bik Sumi dan bik Anti menatap getir majikannya itu.


Terbersit tanya di hati mereka, apakah Alika syok...

__ADS_1


Alika masuk kedalam kamarnya setelah selesai menyelesaikan makam malamnya tadi.


Bi Sumi dan bi Anti menawarkan diri untuk menemani tapi Alika menolaknya.


Di sana, di dalam kamarnya ia kembali terdiam membisu tak bergerak cukup lama. Perlahan ia berdiri kearah walk in closet dan mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam tas yang ia simpan di walk in closet itu.


Smart phone pemberian Zain sepuluh tahun lalu. Ia membawanya ke tempat tidur.


Ia berbaring tengkurap dengan tangan kanannya memegang smart phone tersebut, sedang tangan kirinya sibuk memati dan menghidupkan lampu meja.


Tak ada air mata atau bahkan tangisan. Alika hanya diam dan diam. Ia terus memperhatikan smart phone itu.


Hingga jam di dinding menunjukkan angka tiga dan berdentang, ia baru terbangun dari tidurnya yang tanpa memejamkan mata.


Ia melaksanakan kebiasaannya di penghujung malam. Mencoba mengadukan nasibnya pada sang penciptaNya.


Keesokan di sore hari nya, Alika telah siap dengan penampilan syar'inya dan juga sarung tangannya. Namun ada sedikit yang berbeda dari dirinya. Ia memakai cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


" nona....nona mau kemana ?! " tanya bik Sumi sedikit khawatir.


" aku mau keluar sebentar bik..ada sesuatu yang harus ku cari.." jawab Alika sembari tersenyum.


" tapi nona....tuan muda...maksud saya akan ada yang membawakan semua keperluan nona, jadi..." kata kata bik Sumi terpotong oleh Alika


" bik Sumi....aku akan membeli pembalut, sepertinya Zain lupa akan kepentinganku yang satu itu...dan tidak mungkinkan aku meminta pak Boris membelikan itu untukku ?! " jawab Alika.


" tidak usah bik Sumi...bik Anti sedang tidak ada, nanti kalau...." Alika sedikit menjeda kata katanya, ia terdengar menghela nafas berat.


" nanti kalau Zain datang dan saya belum pulang, dia akan bingung kalau tidak ada yang memberi tahunya. Saya hanya sebentar..." kata Alika dengan suara bergeter, ada rasa sakit dan rasa berat di hati dan bibir Alika untuk menyebut nama Zain


" baiklah non...hati hati lah..." pesan Bik Sumi yang di jawab dengan anggukan dan senyuman tipis dari Alika.


Alika tidak ingin menunjukkan kesakitan di hatinya pada siapapun. Baginya...cukup dirinya yang tahu.


💦


Tak butuh waktu lama untuk Alika sampai di hotel berbintang yang di maksud tuan besar Zain.


Memasuki hotel berbintang atau ruang privat room vvip bukan hal yang wah lagi bagi Alika, ia sudah terbiasa dengan tempat tempat itu. Pekerjaannya sebelumnya telah mengajarkan ia akan banyak hal.


Bertemu dengan orang orang kelas atas sudah biasa baginya, sungguh sebenarnya ia bukan lagi gadis lugu usia 18 tahun yang selalu di bully dulu.


Namun Alika tetap pada sifat rendah hatinya, ia tetap pada jati dirinya yang penuh kesederhanaan.


Alika dengan mudah mencari tempat yang ia cari, restaurant dari hotel berbintang ini yang terletak di lantai paling atas.


Belum jauh langkah Alika memasuki restaurant mewah itu, ia sudah dapat menemukan sosok yang ia cari.


Sosok seorang pria tampan dengan postur tubuh yang membuat setiap wanita akan terlena melihatnya.

__ADS_1


Seorang pria yang tanpa ia sadari sangat ia rindukan. Ia sedang duduk dan nampak berdiskusi dengan beberapa orang yang juga memakai jas yang juga terlihat mahal.


Ketampanan dan pembawaan seorang Zaidan Almeer Al Kahfi yang tenang dan dingin bak karang di lautan memang tidak diragukan lagi, ia akan selalu mampu menarik perhatian siapapun dengan pesonanya itu.


Namun...ada sesuatu yang membuat Alika merasa seakan dunianya runtuh, hatiny sakit sesakit sakitnya hingga tak mampu lagi ia melukiskannya.


Seorang wanita yang sangat cantik dan terlihat begitu mewah, ia nampak menggenggam tangan Zain yang tengah berada di atas meja dan satu lagi yang membuat Alika teriris hatinya,


Zain yang sesekali melempar senyuman kepada wanita itu.


Alika memutuskan berbalik dan hendak pergi dari tempat itu, tapi naas...ia menabrak seseorang yang berada di belakangnya.


Alika mundur beberapa langkah kebelakang, dan ia semakin terkejut ketika ia tahu siapa yang ia tabrak


" Ricko..." desis Alika dalam hati, tubuhnya sudah gemetaran. Namun sepertinya pria itu tak mengenali dirinya yang kini tengah memakai cadar.


" mohon maaf saya tidak sengaja " mohon Alika sembari menangkup kedua tangannya di depan dada meminta maaf. Ia menundukkan matanya kebawah.


" tidak apa apa nona..." jawab Ricko yang tak menyadari jika wanita di hadapannya itu adalah Alika. Gadis yang dulu sempat membuat hatinya porak poranda.


" tidak apa apa tuan, sayalah yang seharusnya meminta maaf....permisi, saya harus pergi " pamit Alika hendak segera berlalu dari sana, tubuhnya sudah mulai terasa sakit.


" maaf nona..boleh saya tahu nama anda ?! " Ricko merasa tertarik dengan gadis di hadapannya itu, entah mengapa ia merasa nyaman bersama gadis itu. Ia pun merasa tak asing padanya.


Ricko melangkah mendekat sembari mengulurkan tangannya kepada Alika. Dan adegan ini sontak menarik atensi perhatian tamu yang hadir di sana.


Ricko termasuk salah satu pengusaha muda yang di perhitungkan namanya.


termasuk juga atensi perhatian Zain, ia menoleh kearah yang menjadi pusat perhatian banyak orang, ia memicingkan mata dan mengerutkan keningnya.


Seseorang yang berdiri membelakanginya di sana dan menjadi pusat perhatian banyak orang disana sangat familiar di matanya.


postur tubuh itu sangat melekat di otaknya, meski ia belum melihat wajah pemilik tubuh itu. Tapi ia sudah dapat memastikan siapa dia. Wajahnya seketika pias dan memucat.


" Malayka....kau kah itu " desisnya pelan.


Alika yang merasa ketakutan karena Ricko yang mendekat kepadanya semakin mundur.


" maaf tuan...." putus Alika kemudian ia nekat menerobos Ricko yang masih berdiri menghalanginya.


Ricko melongo melihatnya, karena gadis itu melewatinya begitu saja. Selama ini tidak ada satu orang wanitapun yang mampu menolak pesonanya.


" nona...." panggilnya sekali lagi pada Alika yang telah jauh berlari darinya. Berharap gadis itu mau mempertimbangkan ajakannya tadi.


Sementara Zain, ia tak bisa berbuat apa apa. Ia ingin mengejar Alika tapi tidak mungkin.


Pertemuannya kali ini sangat penting, ia harus mampu menarik para investor ini untuk mau menanam investasinya di perusahaannya.


Apalagi ia melihat Ricko yang berusaha mendekati Alika tadi, ia hanya bisa mengepalkan erat tangannya yang ada di bawah meja sekarang.

__ADS_1


__ADS_2