Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 33


__ADS_3

Suasana lapangan basket semakin ramai, tubuh Alika mulai gemetaran, posisinya terlalu dekat dengan pria lain dan Zain tak menyadari itu.


Dan yang pasti, Zain tak tahu tentang trauma Alika itu.


Namun tiba tiba ia merasa tubuh Alika menjadi dingin.


" ada apa ? Kau kenapa ?! " tany Zain di telinga Alika.


Zain membalik tubuh Alika menghadap kepadanya, ia menangkup wajah pucat itu yang kini memegang erat jaketnya


" bawa aku keluar dari sini.." pinta Alika dengan nafas yang mulai tersengal. Tanpa banyak tanya Zain segera mengangkat tubuh Alika dan dengan sedikit berlari ia keluar mall itu menuju basemant.


Alika memeluk erat leher Zain, ia merasakan Zain berkeringat.


" turunkan aku ....biarkan aku sedikit bernafas lega di sini " bisik Alika di telinga Zain sesampainya mereka di sebelah mobil Zain.


Ada yang berdesir di hati Zain mendengar bisikan Alika di telinganya.


Alika berdiri bersandar pada mobil Zain sembari terus berpegangan pada Zain, entah mengapa Zain merasa sangat bahagia, ia merasa di butuhkan wanita itu.


Zain menarik tubuh Alika kedalam dekapannya, memeluk tubuh yang bergetar dan terasa sangat dingin itu.


kemudian Zain mengurai pelukannya dan menggosok kedua tangan Alika dengan tangannya.


Perlahan tapi pasti tubuh Alika tak lagi bergetar, tangannya pun mulai menghangat. Wajahnya tak lagi pucat.


" kau sudah tenang ? kita kerumah sakit sekarang " kata Zain dengan wajah penuh kekhawatiran dan peluh yang membasahi wajahnya sembari membuka pintu mobil untuk Alika.


" tidak tidak perlu...aku tidak apa apa " jawab Alika, Alika tanpa sadar terus menatap kearah Zain. ia sebenarnya sedang bingung dengan dirinya sendiri. Biasanya jika ia telah merasakan seperti itu ia akan segera pingsan dan tak akan sadar dalam hanya dengan waktu satu dua jam saja.


Tapi ini...rasa sakit itu seakan hilang seiring dekapan Zain padanya. Ketenangan seakan segera menjalari batinnya.


" kita pulang saja...aku butuh istirahat " kata Alika sembari mengurai pandangannya ketempat lain.


Zain menatapnya tak berkedip.


" kita kerumah sakit..." katanya kemudian dengan sudah menghidupkan mobilnya.

__ADS_1


" tidak...aku mau pulang, aku mohon...


Aku ingin cepat istirahat. Besok aku ingin kau membawaku ke suatu tempat " jawab Alika tanpa melihat kearah Zain.


Ada sakit di dalam hatinya, tapi juga ada rasa nyaman di hatinya kepada pria di sampingnya itu.


" kita makan dulu..ok ?! " pinta Zain


" sesuka aku..." jawab Alika


" maksudnya ?! " Zain mengerutkan keningnya tak paham.


" aku tak bisa makan di tempat kau biasa makan " kata Alika masih dengan menatap ketempat lain meski Zain terus melihat kearahnya sejak tadi.


" terserah kau saja...asal kau suapi aku, aku tak apa apa " jawab Zain sembari melajukan mobilnya.


Tak berapa lama kedua pasangan pengantin baru itu telah nampak duduk di sebuah emperan toko yang telahdi sulap menjadi sebuah warung tenda.


Lalapan ayam goreng, dan beberapa ikan air tawar bakar telah berada di hadapn Alika dan Zain berikut jeruk hangatnya.


Udara sangat dingin sehingga Alika hanya memesan minuman hangat untuk mereka berdua.


Ya ...waktu sepuluh tahun seakan tak membuat Zain canggung berhadapan dengan Alika. Justru ia semakin manja pada gadis itu meski ia tahu Alika memberikan perhatian kepadanya karena terpaksa.


Seperti saat ini, ia makan dengan lahapnya karena di suapi oleh Alika. Dan jelas Alika menyuapinya karena paksaan darinya.


Tak ia hiraukan tatapan orang orang padanya.


" tidak usah...jeruk hangat saja, udara sudah sangat dingin di sini, tidak perlu air dingin lagi... Kau bisa sakit nanti " jawab Alika sembari terus menyuapi Zain dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri karena Zain mengarahkan suapannya kepada Alika sendiri setelah kepadanya.


Zain tersenyum simpul


" kau takut aku sakit ?! " tanya Zain membuat Alika menghela nafas berat.


" kau sangat pucat...kita kerumah sakit saja ya ?! " ajak Zain lagi sembari menangkup kedua pipi Alika dengan kedua tangannya.


Keduanya kini duduk bersisihan, sejenak beristiraaht setelah makan dan kenyang.

__ADS_1


Alika menggeleng perlaha.


" sudah aku bilang tidak usah...ini sudah biasa padaku, aku mau pulang dan istirahat. Cepat bayarlah...aku mau cepat pulang " kata Alika sambil berdiri


" mau kemana...?? " seketika Zain turut berdiri mengikuti langkah Alika.


" pulang...cepat bayar " perintah Alika, Zain menggeret tangan Alika, ia merasa takut jika harus meninggalkan Alika.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya tak banyak bicara. Zain terus menggenggam jemari Alika yang terasa kembali dingin.


Zain mengajal Alika menginap di hotel tapi wanita yang telah ia nikahi siri itu menolaknya dengan dalih ingin istirahat di rumah saja.


Tak butuh waktu lama keduanya telah sampai di depan rumah Alika.


Keduanya langsung masuk dan menutup pintu.


Alika langsung masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan diri. Tak berapa lama Zain turut masuk.


Ia telah bersih karena sudah membersihkan diri di kamar mandi tamu di sebelah dapur.


Melihat Alika telah berada di atas kasur, ia segera menyusul.


Ditariknya tubuh Alika kedalam dekapnnya. Tak di pungkiri Alika, ia merasa tenang dalam dekapan Zain.


Perlahan Zain mengelus rambutnya dan mengelus bahunya perlahan.


" kau sebenarnya sakit apa..?! " tanya Zain.


Alika diam


" bagaimana bisa tubuhmu bergetar dan sedingin itu ?! " lanjut Zain.


Alika tetap diam dan kemudian ia terlihat telah tertidur.


Zain menghela nafas besar.


Kembali di kecupnya kepala Alika. Dan tak berapa lama kemudian ia pun nengikuti jejak Alika yang tertidur.

__ADS_1


Keduanya akhirnya hanya tidur berdua dengan posisi Alika di dalam pelukan Zaidan Almeer La Kahfi. Dan tanpa melakukan yang lainnya.


__ADS_2