
" kami telah lama berpisah....!! "
sebuah suara seorang wanita memecah keheningan yang tiba tiba tercipta karena sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh seorang wartawan.
Semua perhatian segera terarah kepada sang empunya suara. Begitupun dengan lampu sorot kamera.
Nadira melangkah dengan langkah yakin memasuki pelataran dengan di ikuti langkah seorang pria yang wajahnya cukup di kenal oleh para kalangan wartawan wartawan majalah bisnis itu.
" tuan Barnard..." nama itu terdengar di antara para wartawan.
Pria yang hadir mendampingi langkah Nadira adalah memang benar Ricko Aroon Barnard. Tak ada yang mencurigai akan hubungan di antara keduanya karena memang sudah bukan menjadi rahasia lagi jika keduanya ada proyek kerjasama bersama.
Gamis syar'i Nadira berkibar tertiup angin. Kehadiran Nadira bersama Ricko cukup mengejutkan keluarganya, terutama sang kakak....Abdullah dan Zubair.
Kedua pria itu melototkan matanya kemudian saling pandang dan penuh tanda tanya demi melihat kehadiran si bungsu dari Ibrahim Khan itu bersama dengan pria yang kurang mereka kenal, namun mereka cukup tahu juga.
" jangan kaitkan kehidupan mereka lagi dengan saya....karena kami telah lama berpisah..." kembali Nadira menyambung kata katanya setelah sebelumnya ia menyalami semua yang ia tuakan.
" sekarang kami tidak mempunyai hubungan apapun selain persaudaraan....kami telah memiliki kehidupan kami masing masing " lanjut Nadira lagi, kali ini mendekat kepada Alika kemudian ia menggenggam jemari wanita hamil itu dan kemudian tersenyum lembut kepadanya.
Alika melipat bibirnya di balik cadarnya, sudut matanya sedikit menyipit.
" maaf..." desis Alika pelan, sekali lagi Nadira menggeleng dengan tetap tersenyum.
Kembali ia menatap kepada para wartawan yang sibuk membidikkan lensa kamera mereka kearahnya.
" pria yang datang bersamaku...anda semua pasti sudah mengenalnya. Dia adalah tuan Ricko Aroon Barnard...suamiku " kata Nadira seketika membuat semua mata tanpa terkecuali mata setiap anggota keluarganya melotot tak percaya kepadanya.
Begitupun dengan Ricko sendiri, ia tak menyangka sama sekali wanita yang masih sulit ia taklukakan itu mengakui dirinya di hadapan keluarganya bahkan di hadapan umum.
Matanya tak lepas menatap wanita yang satu langkah berdiri di hadapannya itu.
Mungkinkah wanita itu telah membuka hati untuknya.....tanyanya dalam hati.
Ada sejuta rasa terselip di hatinya demi mendengar pengakuan itu.
__ADS_1
Ia berharap hal yang ia pikirkan adalah kenyataannya.
Tuan Ibrahim nampak mengerutkan keningnya dengan mata memicing menatap putri satu satunya itu, begitupun dengan sang istri.
Apalagi kedua kakak Nadira. Kedua pria itu sudah nampak merah padam di buatnya.
Mata keduanya sudah sedari tadi menatap tak berkedip dan tak beralih sedikitpun dari Nadira juga Ricko.
Ricko sedikit merinding di buatnya, ia merasa dirinya sudah seperti domba yang yang sudah di intai dua ekor binatang buas.
" mampuslah aku...." bisiknya dalam hati sembari tangannya mengusap tengkuknya yang tiba tiba terasa berdiri bulu kuduknya,
tapi ia sudah memantapkan tekad...apapun akan ia hadapi demi wanita yang telah ia klaim sebagai istrinya itu.
ia memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Nadira kepada keluarga wanita itu cepat atau lambat.
Sekarang atau nanti itu sama saja, hanya perkara waktu saja.
Nadira menoleh kearah keluarganya dan menangkup kedua tangannya di depan dada.
Ricko mendekat kepada Nadira dan mengusap lembut bahunya.
Pria berbadan kekar dan tegap itupun menurut. Ia kembali mendudukkan pantatnya di kursinya kembali meski masih dengan menahan amarah dan matanya yang memerah
Matanya tetap menatap tajam kearah Ricko yang berdiri dengan posisi yang begitu dekat dengan sang adik.
Andai ini bukan acara tuan besar Zain, niscaya....sudah di buatnya babak belur pria itu. Umpat Zubair dalam hati. Begitupun dengan Abdullah.
Ia benar benar merasa gagal menjaga si bungsu. pikirnya.
Tuan besar Zain menghela nafas dengan berat.
Acara berakhir dengan di persilahkannya para undangan untuk menyantap hidangan yang telah di persiapkan.
Ricko nampak mengikuti langkah Nadira yang memasuki mansion mengikuti langkah kakek Zain.
__ADS_1
" kakek...maafkan aku " kata Nadira ketika mereka telah berhadapan.
" tak apa...tetaplah berbahagia " tuan besar Zain mengusap pucuk kepala Nadira yang tetutup hijab.
Nadira memeluk erat pria tua yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri itu sejak dulu, apalagi semenjak kakeknya sendiri tuan Ghofur Ibrahim Khan meninggal dunia enam tahun lalu sebelum melihat terlaksananya perjodohan yang ia rencanakan sendiri bersama tuan besar Zain Almeer Al Kahfi.
" terimakasih kakek..." kata Nadira kemudian.
" tetaplah di sini...kau tidak keberatan bukan ?! " tanya Tuan Zain kepada Nadira, gadis itu tersenyum lembut.
" rasanya sudah sangat lama aku tidak melihatmu.." lanjut tuan besar Zain lagi kepada Nadira.
" salam tuan besar..." sapa Ricko mencoba mengakrabkan diri kepada tuan besar Zain demi mengimbangi sang istri yang memiliki hubungan sangat baik dengan pria tua itu.
" tunggu..." sebuah suara barinton menghentikan langkah dan ucapan Ricko yang hendak mendekat kepada tuan besar Zain.
Rombongan keluarga Ibrahim Khan tiba tiba sudah hadir di antara mereka.
Tuan besar Zain terdengar menghela nafas seakan tahu dengan apa yang akan terjadi.
" kau sudah salah langkah anak muda..." bisik tuan Zain di telinga Ricko. Belum sempat Ricko bertanya sebuah bogem mentah telah mendarat di wajahnya.
Alika yang turut mendekat bersama Zain sedikit terpekik karena sangking terkejutnya, ia reflek membuang pandangannya kearah Zain dan Zain segera menutup mata Alika.
" bugh....bugh....bugh..." pukulan keras mendarat kembali di wajah dan perut Ricko tiba tiba dari tangan Zubair.
Nadira hendak melerai namun segera di hentikan oleh Ricko dengan cara mengangkat telapak tangannya keatas sembari menggelengkan kepalanya kepada Nadira.
Nadira menghembuskan nafasnya dengan berat, ia membuang pandangannya ketempat lain.
Jauh di dasar hatinya yang paling dalam, ia tak tega melihat Ricko di hajar habis habisan oleh kakaknya.
" bugh..bugh.." kembali terdengar suara pukulan, kali ini Abdullah yang giliran menghajar Ricko.
Ricko meringis menahan sakit, tapi ia tetap diam tak bergeming.
__ADS_1
Ia pun tak berniat membalas sedikitpun.
Nadira memejamkan matanya sembari melemparkan arah wajahnya ketempat lain. Ia sangat hapal bagaimana perangai kedua kakaknya jika itu menyangkut dirinya.