
Namira menatap wanita bercadar di hadapannya itu tak berkedip. Sekilas ia memang seakan tak asing dengan kening dan mata itu.
Ya..dia ingat, mata itu mengingtkannya pada foto seorang gadis yang sering di tunjukkan dulu oleh Ohan kepadanya. Namira menghembuskan nafasnya dengan tak rela.
Gadis itu mengingatkannya pada cinta putranya yang menyedihkan. Cintanya di rebut paksa oleh saudara sepupunya sendiri.
" ah....Ohan yang malang " desis wanita cantik yang tak lagi muda itu di dalam hatinya.
Almayra melepas cadar yang di pakai Alika setelah membawanya duduk di sofa yang melingkar di ruangan itu.
Begitupun dengan tantenya Zain, Namira...
Namira mengikuti sang kakak dan menantunya duduk di sofa.
Zain terus memperhatikan pergerakan demi pergerakan mamynya terlebih tantenya.
Ibu dari sepupunya yang ia akui atau tidak telah ia tikung. Ohan.
" masyaAllah kakak....cantiknya dia, ah....aku merasa iri padamu....seharusnya dia menjadi menantuku bukan...secara Ohan kan yang lebih dulu bersamanya " tanpa di duga Zain, sang tante malah berkata narsis seperti itu.
" mama..." sang suami mengingatkan Namira dengan panggilan yang di panjangkan. Namira mencebikkan bibirnya.
Namira kemudian mendekat kepada Alika, menyentuh wajah cantik dan mulus Alika.
Betapa ia di buat takjub dengan kesempurnaan yang dimiliki wanita di hadapannya itu.
Alisnya yang hitam tipis, hidung yang kecil dan mancung jangan lupakan bibir mungil yang semerah cerry. pipi putih sedikit cubby bersemu kemerahan.
Ya Tuhan..Namira saja yang seorang perempuan saja di buat terkagum kagum dengan kecantikan yang di miliki Alika.
Apalagi putranya Ohan...dan juga keponakannya yang anarkis itu... Zain.
jelas saja dua bersaudara itu jatuh hati pada gadis di hadapannya itu.
__ADS_1
" Zain..aku tidak terima semua ini, kembalikan dia padaku. Seharusnya aku yang menjadi ibu mertuanya...bukan ibumu " ralat Namira sambil berkacak pinggang kepada Zain, sementara Zain di buat bingung oleh kata kata tantenya itu.
Matanya berkali kali berkedip kedip, sementara dua orang pria dewasa di seberang sana di buat menggeleng gelengkan kepalanya sembari menahan tawa demi melihat perilaku ibu dari Ohan itu.
Termasuk Almayra...ibu dari Zain itu beberapa kali nampak menggeleng gelengkan kepalanya.
" kakak...aku tidak terima kalau seperti ini....seharusnya dia menjadi istri Ohan kan ?! ....seharusnya dia menjadi menantuku bukan !! " Namira masih terus bermonolog.
Almayra tersenyum bijak.
" kemarilah Nami...jangan seperti itu, kau bisa membuatnya merasa tak enak.." kata Almayra, dan Namira pun menurut. Ia duduk di samping Alika. Jadilah kini Alika duduk diapit oleh ibu Ohan dan ibu Zain yang notabene kini menjadi mertuanya.
" mau dia jadi menantuku atau menantumu, itu sama sajakan...kita bisa sama sama menyayanginya, iyakan ?! " kata Almayra sambil mengelus kepala Alika. Alika tersenyum malu.
Sementara Zain, demi mendengar ucapan sang ibu ia segera berdiri dan protes.
" mana ada mamy, dia istriku...menantu mamy, kalau tante Namira juga menjadi mertuanya itu artinya Ohan.....ah tidak tidak...dia hanya istriku mamy " protes Zain yang di sambut pelototan oleh Namira.
" dasar anak bodoh....bisanya keras kepala saja, mana ada seperti yang kau pikirkan itu.." omel Namira.
Zain cemberut di buatnya.
Segera ia berdiri dan menarik Alika untuk ikut dengannya.
" mana ada...yang pasti sekarang, dia istriku....itu kenyataannya titik " kata Zain sambil menarik tangan Alika dan membawanya pergi.
" eh...eh...mau di bawa kemana menantu mamy itu, jangan bilang kamu akan membawanya pulang " teriak Almayra.
" enggak mi....biarkan dia istirahat dulu, dia lelah...mamy tahu sendiri dia habis keguguran " jawab Zain menekankan kata keguguran sembari menatap kearah Namira yang melongo melihatnya.
" nanti kelamaan disini ada yang ngeklaim istri Zain menantunya lagi..." omel Zain lagi menggeret tangan Alika.
" maaf nyonya..saya.." Alika kebingungan dengan tingkah konyol Zain. Ia juga merasa tak enak pada Namira.
__ADS_1
" tak apa sayang....turuti suamimu yang posesif itu saja...karena kalau tidak, dia akan jadi anak yang menyebalkan.." kali ini Namira yang menjawab dan di ikuti senyuman oleh Almayra.
Sepeninggal Alika dan Zain, empat orang itu kembali terlibat perbincangan.
" kau lihat Zain kakak....sepertinya yang di katakan Ohan benar, Zain terlihat lebih manusiawi sekarang bukan...?! " kata Namira kepada kakaknya Almayra dan di angguki oleh tuan Osmand dan Althan.
Almayra menghela nafas lega, selama ini Zain memang lebih mirip terlihat seperti robot tak berhati.
Ia monoton dan kaku. Cenderung berbuat sesuka hati....
Seakan orang lain selain dirinya tak ada artinya. Sungguh Zain memang sangat sombong dan angkuh.
" sekarang kami hanya akan mendukungnya, kami ingin lihat, bagaimana cara dia mempertahankan istrinya itu untuk tetap berada di sisinya...sementara papa sangat tidak menyetuji hubungan mereka berdua " tuan Osmand bermonolog di hadapan istri dan sudara iparnya itu.
" lalu...bagaimana dengan Nadira kakak....dia juga menantumu..." Althan mencoba mengingatkan.
" iya kau benar...kita akan lihat bagaimana Zain menyingkapi permasalahan ini...selama ini aku rasa Zain cukup cekatan dalam mencari jalan keluar dari masalahnya ini " kali ini Almayra menimpali.
" tapi kakak....kalau masalah ini hanya sampai pada Nadira itu tidak apa apa, tapi jika sampai ketelinga keluarga Ibrahim Khan...aku justru mengkhawatirkan Alika " Namira mengingatkan kakaknya.
" iya kau benar...." Almayra mengiyakan dengan kening yang mengkerut.
Keluarga Ibrahim Khan memang sangat terkenal dan terpandang di dunia bisnis. Mungkin itulah sebabnya sang mertua sangat berambisi menjodohkan sang cucu kesayangan dengan salah satu anggota keluarga itu selain alasan persahabatan yang sudah terjalin lama antara tuan Zain Almeer Al Kahfi dengan Tuan Zubair Ibrahim khan. Ayah dari Nadira Ibrahim Khan.
Masalah ini sungguh rumit, ini bukan sekedar cerita rumah tangga dengan latar belakang suami dan dua orang istrinya. Tapi lebih kepada kerjasama bisnis yang mempertaruhkan keutuhan sebuah rumah tangga dan hati anak manusia.
Monolog Almayra dalam hati, begitupun yang tengah dipikirkan oleh tuan Osmand kini. Andai sang papa tak melibatkan sang putra dalam urusan kerajaan bisnisnya. Mungkin kehidupan rumah tangga putranya akan normal normal saja seperti rumah tangga orang kebanyakan.
Zain pasti sudah rumah tangga yang bahagia, dengan ia memiliki istri yang sangat ia cintai dan mungkin anak anak yang lucu.
Dalam hati tuan Osmand pun menyesali dirinya yang tak mampu berbuat apa apa demi sang putra.
Alasan Zain sebagai satu satunya penerus bisnis Al Kahfi menjadikan dirinya lemah di hadapan sang papa. Tuan besar Zain Almeer Al Kahfi.
__ADS_1
Sementara Namira, ia berfikir...andai saja Zain tak memaksakan dirinya kepada Alika, mungkin kini Ohan tidak akan jauh darinya. Dan putranya itu mungkin telah berumah tangga bahagia bersama Alika dan anak anak mereka.
Ah....semua orang memang selalu memiliki pemikiran yang akan menguntungkan dirinya sendiri. Tanpa mereka ingat...ada Dia yang maha lebih berkuasa dan maha tahu yang tidak mereka tahu.