
Merasa lelah dan jengkel karena setiap langkahnya di ikuti oleh Ricko, akhirnya Nadira memutuskan menelpon kakaknya, Zubair untuk menjemputnya.
Ie merasa enggan untuk membawa mobilnya sendiri.
Tapi justru Zubair mengirimkan Ramos untuk menjemputnya. Ia beralasan sedang ada urusan penting.
Ricko yang masih berdiri di sisi Nadira sedikit memicingkan matanya begitu melihat sebuah mobil mewah mendekat kearah mereka berdua.
" anda tidak membawa mobil sendiri nona....?! " tanya Ricko dengan sedikit menundukkan kepalanya karena Nadira jauh lebih pendek darinya.
Dengan reflek Nadira menjauhkan tubuhnya dari kepala Ricko yang ia rasa terlalu dekat dengannya.
Dengan tatapan nanar Nadira menghardik Ricko.
β" jauhkan diri anda dari saya tuan Ricko...dasar tidak sopan " hardik Nadira.
Ricko memanyunkan bibirnya sambil manggut manggut tidak jelas. Ia semakin mengerutkan keningnya ketika seorang pria tampan turun dari mobil mewah itu kemudian membukakan pintu untuk Nadira.
Dari tampilannya, Ricko tak mengira sama sekali siapa sosok itu.
" tunggu..." kata Ricko menghentikan langkah Nadira, kemudian ia kembali mendekat kearah Nadira hampir saja pria itu mencekal lengan Nadira kalau saja ia tak cepat menghindar.
" katakan...siapa dia ?! " tanya Ricko dengan begitu beraninya kepada Nadira, entah mengapa ia tiba tiba merasa tak suka melihat wanita itu di jemput seorang pria yang tidak di kenalnya.
Kembali Nadira melotot kepadanya.
" berhenti ikut campur urusan saya...bukan urusan anda " semprot Nadira dengan sewotnya kemudian meninggalkan Ricko yang masih manyun di tempatnya begitu saja.
π¦
Sementara Alika, tadi setelah ia berhasil keluar dari mall itu seseorang telah menunggunya dengan sebuah mobil mewah di pelataran parkiran mall.
" mari nona..." seseorang mempersilahkan Alika untuk masuk, kemudian tiga orang itu ikut turut masuk.
Di bangku depan nampak dua orang pria, Alika sedikit memicingkan mata saat ia seakan mengenali salah satu dari mereka, tapi ia tak yakin karena pria itu menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam.
Hati Alika sedikit tenang mengingat ada tiga orang wanita bersamanya.
Ia duduk di bangku paling belakang.
Alika menghembuskan nafasnya, sebuah pesan ia kirimkan kepada Zaidan.
** Zain...maaf, tolong izinkan aku pergi...aku sangat merindukan saudara saudaraku di panti. Biarkan aku bersama mereka beberapa waktu ini...
Percayalah..aku sangat mencintaimu.
Sayang...kumohon...berikan kesempatan kepada kak Nadira untuk mengabdi kepadamu seperti diriku.
Satu hal lagi....sebelum aku kembali sendiri, tolong jangan menjemputku plis..kumohon, aku mencintaimu sangat, aku berdoa..andai ada kehidupan lain setelah ini. Aku ingin tetap menjadi istrimu ππ»ππ»ππ» **
__ADS_1
Pesan yang lumayan panjang, yang Alika kirimkan kepada sang suami Zaidan Almeer Al Kahfi.
Setelahnya ia mematikan smart phonenya dan mengeluarkan cardnya dari sana.
ia nampak menghapus setitik bening di pelupuk matanya.
Sakit...itu pasti
perih...jangan di tanya lagi,
Ia sudah sangat mencintai sosok sang suami dengan begitu besarnya.
Sekali lagi Alika terdengar menghela nafas, tak ia sadari sedari tadi tatapan seorang pria nampak sendu menatapnya dari kaca spion depan.
Begitupun tiga orang yang duduk di bangku depan Alika. Berkali kali ketiganya saling pandang dengan tatapan tak tega tentang wanita di belakang mereka itu.
Sungguh berurusan dengan orang berkuasa sangatlah sulit.
Wanita bercadar di belakang mereka itu sudah seperti tahanan saja.
Meski di perlakukan dengan baik, tetap saja ia kehilangan kebebasannya.
Tiga orang itu hanya bisa saling tatap, tanpa bisa berbuat apa apa.
Mereka hanya di tugaskan untuk mengawal wanita itu, memastikan keselamatannya kemanapun ia pergi, terutama dari pria yang terus mencuri pandang pada nya itu sejak tadi.
Dua kali mobil yang membawa Alika dan rombongannya berhenti untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang umat, dan beberapa kali mereka berhenti di rest area untuk sekedar meregangkan otot otot mereka yang lelah karena menempuh perjalanan jauh.
" mari nona..." wanita berseragam itu mengulurkan tangan kepada Alika.
" terimakasih..." jawab Alika, setelah ia turun, tiga orang wanita itu segera mengitarinya, sementara seorang pria di depan tadi sibuk menurunkan sesuatu dari bagasi mobil.
Alika melirik sejenak, barang siapa itu...pasalnya ia tak membawa apapun sama sekali tadi.
Kembali Alika memindai bangunan yang berdiri diatas tanah yang cukup luas itu.
Ia tak pernah datang ketempat ini.
" Alika..." seseorang memanggil namanya, dan reflek Alika menoleh.
Mata Alika berkaca kaca melihat siapa yang memanggilnya.
" umi...." bibirnya bergetar, segera ia berlari menghambur kepada wanita berhijab lebar yang tak lagi muda itu.
Sangat lama kedua wanita berbeda generasi itu berpelukan, kemudia nampak wanit tua itu menciumi berkali kali wajah Alika.
Pemandangan itu sungguh membuat mereka yang melihatnya ikut meneteskan air mata.
" alhamdulillah...umi masih di percaya umur untuk bisa melihat kamu lagi Alika..." ucap wanita tua itu kemudian.
__ADS_1
Alika tak henti menciumi kedua tangan wanita itu yang berada dalam genggamannya kini.
" ini rumah siapa umi...kenapa umi bisa sampai di sini..?! " tanya Alika dengan lembut sembari melihat lihat sekitarnya lagi.
" ayo kita masuk dulu...tidak baik bicara di luar seperti ini..." ajak umi Khasanah, ibu ketua panti tempat Alika dulu di besarkan.
" mari nona nona...tuan tuan mari " umi Khasanah juga mempersilahkan mereka yang datang bersama Alika, sejenak ia mengangguk pelan kepada pria bermasker dan berkaca mata hitam di belakang sana, tanpa di sadari oleh Alika.
Pria itupun turut menganggukkan kepalanya.
Hari sudah sangat malam, sehingga umi Khasanah memutuskan untuk mereka beristirahat terlebih dahulu saja, terutama kepada Alika.
Ia berjanji...besok mereka bisa kembali melepaskan kerinduan mereka.
Tak menolak, Alika segera masuk kedalam kamar yang di tunjukkan oleh umi Khasanah kepadanya.
Begitupan dengan yang lain.
Setelah yakin Alika masuk ke kamar, umi Khasanah menemui pria bermasker dan berkaca mata hitam itu.
" terima kasih tuan Zubair..anda sudah bersedia mengantar putri saya " kata umi Khasanah kepada pria itu yang ternyata adalah Zubair Ibrahim Khan.
" tidak apa apa umi...ini memang sengaja saya lakukan sebagai penebusan atas kesalahan saya kepadanya waktu itu.." jawab Zubair tesenyum.
Ya Zubair memang benar benar jatuh hati kepada Alika,
βketika sang adik mengungkapkan keinginannya kepada sang abi dan tuan besar Zain...bahwa ia memutuskan tetap bersama Zain, akan tetapi tanpa Alika ada di antara mereka.
Tuan besar awalnya tak bersuara sama sekali, hingga akhirnya ia pun mengiyakan permintaan Nadira itu dengan sarat.
Ia sendiri yang akan mengurus kepergian Alika.
Zubair meminta kepada tuan besar Zain untuk di izinkan menemui Alika, ia ingin meminta maaf pada wanita itu.
Sulit bagi Zubair untuk memperoleh izin itu
βhingga akhirnya ia mampu meyakinkan tuan besar Zain. Bahkan ia di perbolehkan mengawal Alika hingga sampai ke tempat yang sudah ia persiapkan untuk wanita itu.
Tempat yang di datangi Alika adalah panti asuhan baru yang baru di bangun tuan besar Zain hampir satu setengah tahun yang lalu untuk saudara saudara Alika.
Tempat yang dahulu di pegang oleh orang lain dan masih tetap beroperasi, sementara di sini...di kota semarang ini sengaja di bangun untuk Alika dengan tetap ibu khasanah sebagai pemimpin panti asuhan ini.
Sementara Zubair, sejak ia di izinkan meminta maaf kepada Alika oleh tuan besar Zain,
Sudah beberapa bulan terakhir ini ia memang telah menjadi donatur tetap panti asuhan ini selain tuan besar Zain.
Sedangkan yang panti asuhan sebelumnya, dipegang oleh Osmand dan Zaidan sebagai donaturnya.
Zaidan satu langkah di belakang sang kakek.
__ADS_1
Ia bahkan tak tahu menahu tentang panti asuhan ini.