
Alika mendekat kearah balkon kamar di mana Zain tengah duduk, Zain menatap jauh kedepan.
Satu langkah telah berhasil ia gapai.
Setidaknya sekarang, kedua orang tuanya akan membantunya menjaga sang istri...
" kamu sedang apa...?! " tanya Alika lembut sembari mendekat kearah Zain, Zain menoleh dan tersenyum hangat kearah Alika.
" kemarilah...." ajaknya pada Alika.
Menarik tangan Alika dan membawa tubuh ramping itu kedepannya, kedua tangannya mengungkung Alika yang kini berdiri membelakanginya dihadapannya mengikuti arah pandang Zain.
" setelah bertemu mama Ohan...apa kau nenyesal telah bersamaku ?! " tanya Zain sembari mencium rambut Alika, menghirup aroma wangi dari sana.
Alika menggeleng perlahan.
" kenapa aku harus menyesal ?! " tanyanya kemudia.
" setidaknya mereka menerimamu dengan sangat baik, tante Namira bahkan sangat menyukaimu...mungkin kau berfikir, bersama Ohan kau tidak akan menjadi seorang istri kedua. Kau tidak akan menghadapi kerumitan seperti saat kau bersama ku saat ini " Zain berkata sembari mengehela nafas.
" apa sebelumnya kau juga tahu jika kau hanya akan membawaku dalam masalah yang rumit ?! " tanya Alika lagi. Zain tak langsung menjawab
" maafkan aku...." kembali kata maaf itu keluar dari mulut Zain.
" aku tahu...berada di sisiku hanya akan membuatmu terluka. Tapi aku tak berdaya Maly...kau yang ku inginkan, aku bahkan tak pernah merasa sangat mencintai seperti itu....bagiku kau lah semangatku untuk hidup dan berjuang mendapatkan hidupku lagi..." Zain berkata panjang.
" saat itu aku sudah putus asa...aku tak ingin lagi bangkit dari komaku setelah kecelakaan menimpaku. Tapi Ali berbisik di telingaku....dia sudah mendapatkan jejakmu...sekali lagi, kau lah harapanku untuk hidup " Zain melanjutkan kata katanya.
" aku tak bisa keluar dari Mesir begitu saja, kakekku adalah orang yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang sangat luas.
Satu satunya jalan agar aku bisa cepat mencarimu adalah dengan menikahi Nadira terlebih dahulu "
Zain mengepalkan erat tangannya yang berpegangan pada realling pagar besi balkon.
Alika menatap itu. Air matanya mengalir begitu saja.
Sebesar itukah cinta pria ini kepadanya. Hingga ia rela menggadaikan hidupnya dalam sebuah ikatan pernikahan....
Kecelakaan yang menghempaskannya dalam ketidak berdayaan. Betapa berdosanya dirinya yang selalu berprasangka buruk pada Zain.
__ADS_1
Sebenarnya iapun menyadari, meski Zain cenderung kasar, urakan dan arrogant. Tapi pria ini hanya selalu terfokus padanya. Tak pernah pria ini menyentuhnya dengan kasar apalagi menyakiti tubuhnya.
Boleh di kata selama ini Alika tersiksa oleh pemikirannya sendiri kepada Zain yang selalu buruk.
" tuan dan nyonya Kahfi sangat baik, setidaknya itu membuatku tenang dan sedikit pede..." kata Alika membalikkan tubuhnya dan menatap lekat lekat wajah di hadapannya kini.
" maafkan aku...aku selalu berfikir buruk tentangmu selama ini..." Alika memeluk Zain dengan erat, kepalanya yang hanya sebatas dada Zain ia sandarkan di sana.
" asalkan kau selalu bersamaku....insyaAllah aku akan siap menghadapi semuanya, meski aku hanya seorang wanita kedua. Meski dunia tak pernah menginginkan keberadaaku...asalkan kau menginginkanku...itu sudah cukup bagiku " kata kat Alika mengalun lembut menyapa gendang telinga Zain.
Bagai air hujan yang menyirami padang tandus. Zain semakin yakin dan percaya akan keputusannya.
" jika aku tak memiliki apapun yang bisa di banggakan di dunia ini...akankah kau masih bersamaku ?! " tanya Zain meyakinkan dirinya lagi
Alika mengangguk dengan cepat dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Zain.
" satu yang harus kau ingat...aku ikhlas jika pada kenyataannya, aku bukan wanita satu satunya dalam hidupmu. Jangan kkhawatirkan diriku untuk memenuhi kewajibanmu " pesan Alika yang membuat hati Zain seakan tertampar sekaligus teriris juga bangga.
Seluas itu hati seorang wanita demi cintanya kepada seorang laki laki yang sudah bergelar suami. Batin Zain.
Sementara Alika...ia berusaha menempatkan dirinya sebagai Nadira.
Zain keluar kamar setelah perbincangan panjangnya bersama Alika yang berujung sangat melegakan hatinya.
Kini ia jauh lebih tenang dalam melangkah dan mengambil keputusan.
" istrimu mana Zain...kau tidak kekantor ?! " tanya sang mamy ketika mereka bertemu di ruang tengah.
" tidak my...nanti Akex akan mengirimkan berkas berkasnya padaku kemari " jawab Zain.
" lalu istrimu...?! " Almayra masih menanyakan perihal Alika.
" Ada mi..di kamar "
" kau jangan terlalu memforsir tenaganya Zain, kau bilang sendiri istrimu itu habis keguguran. Kau harus lebih bersabar untuk meyiapkan istrimu agar lebih siap hamil lagi.." omel Almayra yang melihat sejak kemaren sore Zain sama sekali tak membawa Alika keluar kamar.
" ck..mamy ngomong apa, dady mana ?! " tanya Zain mengalihkan pembicaraa.
" ilih...kayak mamy gak tahu kamu aja...pasti kamu ngelarang dia keluar kamar kan ?! " cibir mamy Zain sambil melangkah kearah tangga.
__ADS_1
Sementara Zain hanya mencebikkan bibirnya.
" dady di mana my...?! " tanya Zaim lagi
" ada di ruang kerjanya " jawab Almayra sambil terus menaiki anak tangga. ia ingin menemui sang menantu.
Selama ini Nadira sama sekali tak pernah berusaha mendekat kepadanya.
Ia akui, dirinya memang jarang meluangakan waktu untuk menantu pilihan mertuanya itu. Ia pun merasa Nadira pun tak ada niatan untuk lebih dekat kepadanya.
Sementara Alika, ia sadari pada awalnya ia hanya merasa bersalah pada gadis itu karena perilaku Zaidan kepadanya.
Tapi setelah menghabiskan waktu di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, membuatnya banyak mengenal gadis itu dan ia merasa jatuh hati pada perilaku dan kepribadian Alika.
Lembut, tenang dan ikhlas. Itulah kesan yang di tangkap Almayra pada diri seorang Malayka Khumaira Rasyid.
" cklek...." pintu kamar Zain yang di tempati Alika terbuka
" nyonya...saya...maaf, maaf maksud saya " Aliak gelagapan melihat ibunda dari Zain itu mendatanginya seperti itu.
Almayra yang baru sekali ini melihat Alika tak memakai hijab, dibuat menganga.
Rambut yang hitam lurus hingga pinggang tergerai menghiasi kepala Alika.
Wajahnya yang polos tanpa make up namun tetap terlihat luar biasa cantik. Sungguh ibunda dari Zaidan Almeer Al Kahfi itu sangat terpesona dengan keantikan menantu keduanya itu.
" nyonya..." panggil Alika lagi membuyarkan lamunan Almayra.
" pantas putraku sangat tergila gila padamu nak...kau sangat cantik " bisik Almayra sembari memasukkan rambut Alika kebelakang telinga Alika. Alika menjadi kikuk dan serba salah.
Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu selain ibu kepala panti dan para pengurus panti yang lainnya sebelumnya.
" Santai saja....ayo duduk, aku ingin berbincang bincang denganmu " Ajak Almayra pada Alika dan melangkah kearah balkon kamar Zain itu.
Alika pun mengikutinya di belakangnya.
" baik nyonya.." jawab Alika spontan.
" kemarilah..." ajak Almayra kepada Alika sembari mengulurkan tangannya kepada Alika setelah dirinya sendiri duduk.
__ADS_1
Alika pun menurut. Ia duduk di hadapan Almayra.