Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 111


__ADS_3

Tuan besar Zain nampak tengah menyirami bunga bunga berdaun lebar dan besar serta berwarna hijau pekat di taman samping mansionya yang baru ia bangun.


Ya...taman itu memang baru ia bangun, taman berisi tanaman hias Anthorium juga kolam besar dengan berbagai macam ikan hias warna warni.


Ia terinspirasi dari taman yang sering di rawat Alika saat masih di panti asuhan Semarang dulu.


Ia berharap, dengan adanya taman berisi tanaman kesukaan Alika itu, wanita hamil itu akan betah berada di mansionnya itu.


Anthorium...tanaman hias favorit Alika, sejak mengetahui jenis tanaman hias itu adalah favorit istri dari cucunya itu, pria tua itu meminta pelayannya untuk menanam tanaman itu di kebun bunga mansionnya.


Tak perduli meski ia harus merogoh kocek lumayan untuk mewujudkan taman itu.


Pria tua itu nampak sumringah, kemaren setelah Zaidan dan Alika memberi tahunya tentang jenis kelamin si kembar, ia sangat bahagia.


Pasalnya ia akan mendapatkan cicit laki laki dan perempuan.


Sesuai keinginannya....ia ingin seorang cicit laki laki sebagai penerus keluarganya, tapi ia juga ingin cicit perempuan sebagai pewarna keluarganya.


Sebenarnya....tuan besar tak mempersoalkan apakah bayi perempuan atau laki laki, baginya sama saja laki laki atau perempuan...mereka akan tetap menjadi penerusnya.


Asalkan sang ibu dan janinya sehat, itu yang terpenting.


Sejak dulu ia sangat ingin cucu perempuan setelah Zaidan, tapi apa daya..Osmand tak ingin lagi melihat sang istri kembali hamil setelah melihat proses kelahiran Zain yang hampir merenggut nyawa sang istri.


Ya...bayi dalam kandungan Alika adalah kembar laki laki dan perempuan. Kabar yang cukup membuat hati tuan besae Zain berbunga bunga dan bangga.


" ayo Maly....lihatlah.....daunnya sangat lebar dan tebal kan ?! " tuan besar berbicara dengan sangat antusias pada Alika yang berdiri di sisinya sambil membawa kain untuk membersihkan daun daun tanaman itu.


Ia ikut ikutan Zain memanggil Alika dengan sebutan Maly karena ia merasa juga cukup spesial bagi wanita hamil itu. Ia juga telah mendapat protea dari sang cucu tapi ia tak perduli.


" iya kakek...mereka sangat sehat " jawab Alika,


Alika ikut bersama sang kakek ke taman di samping mansion tadi setelah mengantar Zain berangkat bersama Alex tadi pagi.


" kau suka....?! " tanya tuan besar Zain


" awas...jangan cepat cepat jalannya, ini basah " kata Tuan Zain memperingatkan Alika.


" sayang...minum susu mu, kau lupa meminumnya " Almayra tiba tiba datang sambil membawa segelas susu. Alika tersenyum canggung namun tetap menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas.


" terimakasih mamy.." kata Alika sambil menyerahkan gelas yang telah kosong itu kepada seorang pelayang yang berdiri tak jauh dari mereka.


" it's ok sayang..." jawab Almayra sambil mengusal bahu Alika.


" kapan kau datang Alma ?! " tanya Tuan besar Zain.

__ADS_1


" setengah jam yang lalu papy...ini makanlah papi.." jawab ibunda Zain itu sambil menyodorkan buah mangga yang telah di kupas kepada mertuanya itu.


Tuan Zain menerimanya dan segera memakannya.


" kau datang sendiri...tidak bersama Osmand ?! "


" iya pi..aku bersamanya, tapi dia kembali keluar..ada meeting katanya " jawab Almayra.


" hmmm......kau tak ikut ?! " tanya sang mertua lagi.


" tidak pi..." jawab Almayra kemudian.


" kau sudah tahu mereka kembar ?! " tanya tuan besar menyelidik pada sang menantu.


Almayra tersenyum


" iya papi..." jawabnya kemudian sambil kembali memberikan potongan buah mangga pada pria itu.


Tuan besar mencebik meski ia pun tak menolak pemberian sang menantu.


" cihh....kalian merahasiakannya dariku ?! " omel pria tua itu.


Almayra kembali tersenyum


" tidak papi...hanya ingin memberi surprise " jawabnya kemudian


Tak berapa lama, nampak seorang pria tampan berbadan tinggi tegap melangkah mendekat kearah ketiga orang itu.


Alika di buat gememtar olehnya, sekilas pria itu tersenyum kearahnya...Alika membuang muka ketempat lain.


" selamat pagi tuan besar, selamat pagi nyonya Almayra..." sapa pria itu sembari menatap Alika penuh pesona.


" selamat pagi tuan muda Zubair " jawab Almayra


" hmmm....kupikir kau sudah pergi bersama Abdullah tadi pagi " kata Tuan besar sambil melanjutkan aktifitasnya menyiram tanaman di hadapannya.


Zubair tersenyum simpul.


" tidak tuan besar...saya tidak mungkin pergi tanpa membawa sesuatu dari sini " jawab Zubair membuat Tuan besar Zain dan nyonya Almayra mennatapnya penuh tanya.


" selamat pagi Alika...bagaiman keadaanmu ?! " sapa Zubair dengan lembut dan wajah mengulas senyum hangat pada Alika tanpa menghiraukan tatapan kedua orang di sampingnya.


Alika menoleh kearah pria itu jengah.


" selamat pagi tuan muda Zubair, alhamdulillah sehat..." jawab Alika kemudian setenang mungkin, ia tak ingin terprovokasi dengan kehadiran pria itu.

__ADS_1


" lalu bayinya....mereka baik baik saja bukan ?! " tambah Zubair lagi semakin berani.


Alika menatap tak berkedip pria itu dengan tajam.


" tentu saja sangat baik tuan muda.....ayahnya memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh sayang meski mereka masih di dalam kandungan. Lalu apa ada alasan untuk anak anaku tidak baik baik saja ?! " jawab Alika panjang lebar membuat mimik wajah Zubair seketika berubah.


Tuan besar Zain dan Almayra semakin menatap penuh tanya pria di hadapan mereka itu.


Pasalnya kepala mereka penuh tanya....kenapa pria itu bertanya seekstrim itu pada Alika.


Dan Alika.....tak biasanya wanita itu menanggapi ketus pria di hadapannya itu.


Meski tahu Zubair semakin berani menunjukkan perasaannya kepadanya, biasanya Alika hanya akan menghindar atau menjawab singkat saja.


" sepertinya kita perlu bicara tuan muda Zubair...." Almayra menengahi kedua orang itu.


" ya nyonya...." jawab Zubair kemudian pada Almayra. Namun tak lupa ia masih mencuri pandang pada Alika yang sudah melempar pandangannya ketempat lain.


Zubair mengikuti langkah Almayra yang sedikit menjauh dari Alika dan Tuan besar Zain.


" ada apa nyonya..?! " tanya Zubair sok polos pada Almayra


" berhenti mengganggu menantuku, dia adalah wanita bersuami..apalagi kini ia tengah hamil, sadarlah...kau tak pantas melakukannya " Almayara langsung bicara pada pokoknya, ia merasa jengah melihat pria muda itu terus saja merecoki menantunya itu.


Zubair menghela nafas berat.


Ia diam tak berkata apapun.


" pertimbangkan hubungan baik dia antara kita...Alika adalah istri putraku, ia sedang mengandung cucu kami sekarang " lanjut Almayra lagi. Kemudian wanita cantik itu berlalu meninggalkan Zubair.


" maaf aku tidak bisa nyonya..." jawab Zubair menghentikan langkah Almayra.


ibunda Zain itu menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh kepada Zubair.


Zubair memutar tubuhnya hingga kembali berhadapan dengan wanita itu.


" apa maksudmu tuan muda Zubair..." tanya Almayra bingung.


" aku tidak bisa menuruti saran anda nyonya " Zubair menjawab dengan cepat dan tegas. Almayra mengerutkan keningnya menatap pria itu.


" aku akan pergi...tapi aku akan membawa Alika bersamaku " kata pria itu lagi.


" kau sadar dengan yang kau ucapkan, memalukan....wanita yang namanya kau sebut itu adalah menantuku, istri dari putraku. Dia juga tengah mengandung garis keturunann kami " jawab Almayra dengan tegas.


" janin yang di kandung Alika adalah anakku..." jawab Zubair penuh percaya diri, ia sungguh telah buta. Hatinya pun telah mati.

__ADS_1


Di pikirannya kini hanya memiliki Alika dan ingin segera membawanya pergi dari sini.


Jedarrrr.....bagai petir di siang bolong, Almayra sampai melotot mendengarnya tak percaya.


__ADS_2