Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 29


__ADS_3

 " kau...." Alika terkejut bukan main melihat siapa yang berusaha menahan pintunya.


Setengah mati Alika berusaha menutup pintu rumahnya dengan sekuat tenaga. Tapi sia sia...ujung sepatu seseorang itu telah masuk setengah sehingga sangat sulit baginya untuk memaksa.


Dalam sekali hentakan pria itu saja, pintu yang berusaha di tutup oleh Alika dengan sekuat tenaga terbuka lebar dan menampilkan sosok tinggi tegap yang amat tampan.


Tatapan matanya menatap tajam sekaligus sendu kepada Alika. Alika hendak berbalik dan berlari dari sana tapi pria itu telah lebih dulu menarik dirinya dalam dekapannyan.


Zaidan melingkarkan tangan kanannya di perut Alika sedang tangan kanannya melingkar di bawah dagu wanita itu.


" beraninya kau lari sejauh ini dariku...." bisiknya dengan suara bergetar di telinga Alika.


Ia menghirup dalam dalam aroma wangi yang menyeruak dari balik kerudung Alika.


Sementara Alika sejenak tertegun. Ia bingung bukan kepalang. Kenapa tubuhnya tak bereaksi terhadap sentuhan pria ini.


Dalam jarak sedekat ini, bisa bisa dirinya akan langsung jatuh pingsan. Tapi ini....ia tak merasakan sakit sama sekali pada tubuhnya.


Hanya saja rasa takut mencekam jiwanya pada Zaidan. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Saat laki laki ini terus menatap dirinya dimanapun mereka bertemu.


Hingga puncaknya ketika pria ini berhasil mengambil satu satunya yang berharga miliknya.


Sadar dengan apa yang terjadi, Alika meronta dengan mengumpat kata kata kasar pada laki laki yang kini tengah mendekapnya dengan erat.


" lepaska brengsek...lepaskan aku, dasar bajingan " umpat Alika membuat Zaidan merasa dejavu kepada waktu dimana Alika mengumpatinya penuh kemarahan namun berakhir dengan diringa yang mampu mengungkung gadis itu di bawahnya.


Mengarungi kenikmatan dunia yang belum sepantasnya seharusnya mereka rasakan.


Zain semakin erat mendekap tubuh mungil Alika, ia meraih kerudung Alika dan melemparkannya asal. Menarik tali rambut yang mengikat di sana. Dan membiarkan rambut panjang hitam dan lurus itu terurai. Kemudian ia kembali memposisikan kedua tangannya dalam posisi semula. Namun bedanya kini ia semakin menenggelamkan wajahnya pada rambut Alika.


" lepaskan aku sialan.....kau tahu aku ini bikan wanita lajang, aku wanita bersuami. Lancang sekali kami berani menyentuhku seperti ini " oceh Alika berharap pria itu segera melepasnya.


Dan berhasil, Zain seketika mundur dan mengangkat kedua tangannya keatas seperti orang yang angkat tangan.

__ADS_1


Alika dengan cepat melangkah menghindar dengan lega.


" apa yang kau katakan....?! " tanyanya dengan wajah yang merah padam.


" ya...aku sudah menikah, jadi pergi sekarang dari sini. Aku tidak mau ada kesalah pahaman antara aku dan suamiku hanya gara gara dia melihat mu disini " jawab Alika semakin berani.


Zaidan menatap nyalang kearah Alika dengan wajah merah padam.


Ia menggeram tak terima ketika gadis itu menyebut dirinya " HANYA "


" tutup mulutmu..." bentaknya pada Alika.


" tapi itulah kebenarannya.. " tambah Alika lagi.


" akh......" Zain menjambak rambutnya sendiri, ia menendang meja dan kursi yang berada dekat dengannya. Ia mengamuk sangat parah.


Alika gemetar ketakutan berdiri di sudut ruangan itu. Keringat dingin membasahi keningnya. Telapak tangannga terasa sangat dingin.


Ia bahkan tak tahu lagi harus berbuat apa ketika melihat Zain meninju ninju dinding yang mengakibatkan tangan pria itu berdarah cukup banyak.


Dengam tangan yang penuh darah, Zain mencengkeran dagu Alika dengan kuat hingga bibir gadis itu mengerucut di buatnya.


" beraninya kau memberikan tubuh ini kepada orang lain.....kau milikku kau dengar itu " bentak Zaim lagi penuh kemarahan.


Alika menggeleng gelengkan kepalanya, ia ingin menjawabnya tapi ia sulit untuk bicara.


Zain menangkup kedua pipi Alika dan mencium bibir Alika tak ayal Alika memberontaknya. Merasa tak mampu mengehentikan Zain Alika menggigit dengan kuat bibir Zain hingga berdarah. Tapi tetap saja Zain tak melepasnya.


Tak ada pilihan lain lagi, Alika menendang dengan kuat sesuatu di kedua paha Zain dan berhasil.


Zain bergerak mundur dengan wajah meringis menahan sakit. Penampilan Zain nampak kacau.


Rambutnya acak acakan,bibirnya berdarah.

__ADS_1


" keluar kamu dari rumahku bajingan...." bentak Alika


Zaidan jatuh terduduk di bawah kursi, pengakuan Alika seakan mampu membunuhnya. Dadanya terasa sangat sesak dan terbakar kini.


" sebentar lagi suamiku akan pulang, pergilah...." tambah Alika lagi.


" Malayka.....tutup mulutmu !! " Zaidan seketika berteriak yang membuat Alika terjengkit dan kembali ketakutan.


Zaidan berdiri dan duduk di kursi


" aku bersumpah akan menceraikanmu darinya...kau milikku...hanya milikku " lanjut Zaidan, kemudian ia nampak mengeluarkan hand phonenya dan nampak berbicara dengan seseorang di seberang sana.


Sangat serius nampaknya.


Beberapa menit kemudian pria itu tersenyum miring dengan sesekali melirik kearah Alika yang masih berdiri di tempatnya dengan setia.


Zaidan nampak menutup teleponnya, ia terdengar menghembuskan nafasnya. kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sejenak ia menutup matanya.


Alika di buat kebingungan melihatnya.


" buatkan aku makanan, aku sangat lapar...kau tahu sendiri tadi aku tidak sempat makan " pinta Zain sedikit lembut kepada Alika seperti permintaan seorang suami kepada istrinya.


Tak ada lagi nada kemarahan di sana.


Alika hanya diam tak bergeming.


" cepatlah...atau kau ingin aku memakanmu " ancam Zain kemudian.


Alika menghentak kakinya dengan keras kelantai


" suamiku akan..." Alika tak berhasil melanjutkan kata katanya karena keburu Zain memotong kalimatnya.


" aku tidak perduli...kau buatkan aku makanan atau kau saja yang aku makan dan jika kau yang aku makan maka aku pastikan kau tidak akan lagi berani membual kepadaku " kali ini Zain berucap sambil menatap tajam kearah Alika.

__ADS_1


Alika seketika merasa takut, dengan cepat ia melangkah kearah dapur. Ia tahu Zain tak pernah main main dengan kata katanya.


" selalu seperti ini...dasar pemaksa..." omel Alika.


__ADS_2