Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 75


__ADS_3

Zain membawa sendiri tubuh Alika di dalam dekapannya, ia tak mengizinkan perawat laki laki yang datang menyonsongnya dengan membawa brankar.


" Alex minta semua dokter yang memeriksa istriku wanita " perintah Zain setelah ia turun dari mobil dan langsung di iyakan oleh Alex.


Ia tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan dokter pria memeriksa Alika.


Alex segera melesat dengan cepat melaksanakan perintah sang majikan.


Setengah jam telah berlalu, Zain berada di depan pintu dengan berdiri tak begerak sedikitpun.


Matanya tak lepas dari pintu ruang dimana Alika di periksa.


" bagaimana keadaannya ...?! " tanya Zain langsung begitu salah seorang dokter yang menangani Alika keluar.


" maaf tuan muda...keadaan nona muda sangat memprihatinkan. ia mengalami tekanan yang sangat parah...hingga memicu kembali traumanya "


" lalu..."


" semoga tindakan yang kami ambil cepat bereaksi, kita tunggu nona muda sadarkan diri terlebih dulu.." dokter itu menjelaskan kepada Zain tentang keadaan Alika, setelahnya ia mempersilahkan Zain masuk dan melihat Alika.


Zain menghembuskan nafas berat.


" minta bik Sumi atau bik Anti datang membawa baju ganti kami " perintah Zain


" dan jangan lupa..lacak sampai dapat siapa mereka dan apa kepentingan mereka " lagi Zain memerintahkan kepada Alex sebelum dirinya masuk kedalam ruang perawatan Alika.


" baik tuan muda..." jawab Alex dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.


Dua hari telah berlalu sejak peristiwa buruk yang menimpa Alika, wanita cantik bermata bulat itu belum juga sadarkan diri.


Sementara Zain, tak sedetikpun ia meninggalkan Alika.


" cklek...." pintu ruang perawatan Alika terbuka, dari balik pintu yang terbuka masuk tuan besar Zain di sertai sang menantu kesayangannya....Nadira.


Zain tak bergeming sedikitpun dari duduknya di samping Alika. Ia menggenggam lembut jemari Alika dan menyentuhkan jemari itu pada pipinya.


Tuan besar Zain menatap miris pemandangan itu.


Perlahan...dari tempatnya berdiri, tuan besar Zain menatap Alika yang terbaring tak berdaya di sana


wajah gadis itu terlihat sangat pucat.

__ADS_1


Tuan besar Zain mengeraskan rahangnya, ia merasa tidak terima akan hal itu.


siapa yang telah berani mengusik seseorang yang berhubungan dengan keluarga Al Kahfi...meski ia tak menyukai Alika, tapi ia juga tidak suka ada orang yang berani menyentuh seseorang yang berhubungan dengan keluarganya.


Terlebih orang itu ada kaitan erat dengan cucu kesayangannya.


Jikapun ada yang boleh mengusik wanita itu...itu adalah dirinya, hanya dirinya


Sementara Nadira, tak jauh beda dari tuan besar Zain, Nadira nampak menatap sendu tubuh Alika yang terbaring tak berdaya.


Tak dapat ia bayangkan bagaimana jika hal itu menimpa pada dirinya. Di dekati dan di sentuh oleh pria yang bukan mahromnya. Pasti kewarasannya pun akan terganggu.


Penampilan Alika dan dirinya hampir sama persis, itu artinya...keduanya pun pasti memiliki pemahaman dan prinsip hidup yang hampir sama.


Menjaga diri dari yang bukan halal adalah satu hal yang mutlak harus mereka jaga.


" sudah kau temukan siapa mereka ..?! " terdengar suara sang kakek bertanya.


" aku hanya berharap bukan kakek dalang di balik semua ini " jawab Zain tanpa menoleh kepada sang kakek.


" jika aku pelakunya, pasti kau tidak akan bisa lagi melihatnya...temukan mereka, dan sampaikan pesan ku pada mereka. Hanya aku yang berhak atas gadis itu...kau paham ?! " sentak tuan besar Zain pada cucunya itu.


" dasar bocah tengil...tak tahu diri, beraninya dia menuduhku..." omelnya sembari berlalu meninggalkan ruangan itu.


" hmmm...." Zain hanya mengiyakan dengan deheman saja.


Nadira melangkah semakin mendekat kearah brangkar Alika, hatinya semakin miris melihat wanita yang terbaring tak berdaya di hadapannya itu.


Wanita yang selalu ia pojokkan tapi masih begitu menghormati keberadaannya.


Wanita yang beberapa hari yang lalu telah menerima kemarahannya dan kata kata kasarnya namun tak sekalipun ia membalas dengan kata kata kasar juga.


Nadira menatap lekat lekat wajah Alika yang begitu cantik dan terlihat menenangkan namun juga sangat pucat, bibir mungil berwarna merah cerry itu tampak kering.


Ia mengambil pelan jemari Alika yang tidak di genggam Zain.


Ia mengerutkan keningnya...


" dingin sekali.." katanya dengan ekspresi terkejut,


jemari tangan Alika terasa sangat dingin di genggaman Nadira, telapak tangan dan kuku wanita itu juga terlihat putih memucat. Tapi.... ia masih bisa merasakan denyut nadi Alika yang terasa lemah.

__ADS_1


" dia sedang koma...." jawab Zain pelan,


Ya....tekanan yang dialami Alika kemaren sangatlah berat bagi kejiwaan wanita itu. Hingga bukan hanya rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya...tapi juga kehilangan kesadaran karena tekanan yang ia terima memicu traumanya semakin besar.


" dia tidak bisa berdekatan dengan laki laki selain aku, apalagi bersentuhan...tapi orang itu memaksa mendekatkan dirinya bahkan berani menyentuhnya begitu saja " geram Zain


" trauma....dengan laki laki, bagaimana bisa...?! " Nadira sulit mencerna penjelasan Zain.


Zain menghela nafas berat.


" akulah penyebab traumanya...dia gadis yang sangat ramah dan ceria meski kehadirannya penuh dengan cacian dan di rendahkan..." Zain berkata penuh penyesalan.


Nadira mulai menggosok gosok telapak tangan Alika, entahlah..apa yang ia rasakan kini, ia merasa trenyuh dan tak tega melihat Alika.


" andai aku tak memaksakan diriku padanya, mungkin saat ini ia telah menjadi seorang wanita yang sangat bahagia karena di cintai suami dan diterima oleh keluarga suaminya.


Alika pasti sudah berbahagia dengan rumah tangganya, dengan suami yang sangat mencintainya dan anak anaknya ..."


Lanjut Zain lagi dengan suara yang terdengar bergetar, Nadira mendengarkan dengan sabar.


Ia sadari...sepertinya Zain butuh teman bicara.


" dia hanya seorang yatim piatu yang mencoba meraih cita citanya...tapi aku dengan tak tahu malunya malah menghancurkannya begitu saja. Menyeretnya dalam kubangan duka yang tak bertepi.."


" apa yang kau lakukan padanya hingga ia memiliki trauma seperti ini.." perlahan Nadira dapat memahami arah pembicaraan Zain.


Pria itu berkata seolah kesalahan besar dan fatal telah ia perbuat pada wanita di hadapannya itu.


" aku memperkosanya..." Zain mengakui perbuatannya yang membuat Nadira menoleh kearahnya sembari membulatkan mata tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Ia seakan sulit menerima pria di hadapannya itu mampu melakukan tindakan tak bermoral itu pada gadis yang semenyenangkan Alika.


Ya....jauh di dasar hatinya yang paling dalam, Nadira mengakui, Alika adalah sosok wanita dengan kepribadian yang sangat baik dan menyenangkan. Alika memiliki rasa empaty yang tinggi terhadap sesama wanita.


Itu dapat ia lihat dengan bagaimana cara Alika memperlakukan dirinya selama ini. Seakan wanita itu rela menepis luka di hatinya sendiri demi menjaga hati wanita lain yang tak lain adalah dirinya.


Andai keduanya tidak di pertemukan dengan cara dan keadaan yang seperti ini, sudah pasti Nadira akan sangat senang bisa mengenal sosok seperti Alika.


Karena keduanya yang sudah pasti satu server, bila di lihat dari segi penampilan.


Alika seorang wanita pribumi asli, namun ia memiliki penampilan di atas rata rata wanita pribumi. Pasti pemahaman Alika tentang agamanya juga tinggi.

__ADS_1


" dia kehilangan anak kami hingga dua kali tanpa ia menyadari kehadirannya " lanjut Zain semakin membuat hati Nadira trenyuh.


__ADS_2