
Hari telah menjelang sore, matahari telah berada di ufuk barat meski cahayanya masih mampu menyinari mayapada.
Zain dan Alex baru saja keluar dari mobil.
Ya ...Alex berhasil menemukan keberadaan Alika dengan bantuan tuan Osmand setelah hampir dua bulan lebih ia bekerja keras mencari keberadaan sang istri kedua majikannya itu.
Kemarin ia telah meyakinkan dirinya sendiri mengenai informasi tentang keberadaan Alika.
kedatangan dua orang itu di terima oleh umi Khasanah dengan sangat baik, karena memang umi Khasanah yang telah mengenal dua orang itu sebelumnya sebagai donatur di yatim piatu di kotanya sebelumnya.
Juga sebagai pihak yang telah menolongnya dan anak anak pantinya dari penggusuran waktu itu di panti asuhan lamanya.
Zain pun di izinkan oleh umi Khasanah untuk langsung menemui Alika karena pimpinan panti asuhan itu tahu Zain dan Alika masih terikat tali pernikahan yang sah.
Zain berdiri di ambang pintu yang menghubungkan taman dan halaman belakang.
Tubuhnya terasa gemetar, jantungnya terasa berdegup lebih kencang. Begitupun dengan aliran darahnya.
Untuk sesaat, dunianya seakan berhenti berputar.
Ketika matanya menangkap siluet tubuh seseorang yang sangat ia rindukan.
Di sana....di depannyaa sana, ia melihat seorang wanita berhijab lebar warna peach nut, lengkap dengan kaos kaki yang menutup kakinya nampak tengah sibuk menyiran bunga dan tanaman tanaman hias yang ada di sana dengan selang air yang ada di tangannya.
Zain menatap sendu wanita yang tak lain adalah istrinya sendri itu...wanita yang ia paksakan untuk mencintainya selama ini.
Bayang bayang pemaksaan yang ia lakukan pada wanita itu terekam jelas di otaknya.
Bagaimana ia yang begitu tega merenggut paksa kehormatan gadis itu dengan sangat keterlaluan.
Bagaimana ia terus memaksakan dirinya pada wanita itu, hingga bayang bayang wanita itu hampir meregang nyawa beberapa kali karena dirinya.
Memory memory itu kembali terekam jelas di ingatannya bagai kaset rusak yang terus berputar putar di otaknya.
Tanpa terasa bulir bulir bening menetes di pipinya.
Hampir dua bulan lebih wajah itu tak ia lihat.
Alika nampak berkali kali mengibas ngibaskan sandalnya, mencoba menghilangkan tanah yang menempel di kaos kakinya sambil menunduk hingga tanpa sadar selang yang ia pegang terjatuh dan malah membuat basah dan kotor kakinya yang terbungkus kaos kaki.
Selang itu terjatuh, Alika hendak mengambilnya namun seseorang telah lebih dulu memungutnya untuknya.
Dengan reflek Alika memundurkan tubuhnya, karena ia melihat lengan seorang pria di bawah sana.
Ia tak ingin mengambil resiko dengan posisi yang terlalu dekat dengan seorang pria, yang mungkin akan berdampak pada kehamilannya.
" sayang...."
__ADS_1
Hati Alika berdesir mendengar panggilan itu...ia sangat mengenali suara itu.
Alika seketika mendongak. Mata keduanya bertemu.
Cukup lama keduanya saling pandang hingga Alika lebih dulu memutus tatapan keduanya.
" kakimu kotor...sini biar aku bersihkan " kata Zain dengan lembut kemudian dan berjongkok di hadapan Alika.
Alika melangkah mundur..Zain mendongak kepadanya.
" kau di sini...apa kak Nadira tahu kau kesini ?! " tanya Alika dengan celingak celinguk dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ya...Alika sangat khawatir akan kehadiran Zain di hadapannya.
Bukan karena tak merindukan sosok pria itu, ia bahkan sangat merindukannya hingga ia selalu menangis di malam hari karena merasakan sakitnya karena merindukan.
Tapi ia tak boleh egois, Ia tak ingin karena kehadirannya akan menimbulkan permasalahan lagi diantara Zain dan Nadira juga keluarga apalagi kerjasama bisnis mereka.
Tentang bayi yang ia kandung, ia sudah ikhlas untuk merawatnya sendiri.
Zain tersenyum kecut demi melihat fakta reaksi Alika ketika bertemu dengannya.
Miris..itu yang di rasakan Zain ketika menatap wajah sendu Alika. Wanita itu terlihat lebih kurus dan pucat.
" sayang...jangan mengindar dariku, aku sakit melihatnya.." kata Zain dengan mata berkaca kaca.
Alika terpekur di tempatnya berdiri, di tatapnya wajah pria yang kini berdiri di hadapannya itu.
Tiba tiba ia merasakan lemas dan tubuhnya limbung begitu saja.
Beruntung Zain dengan cekatan segera menangkap tubuh itu.
Dengan langkah lebar ia membawa Alika masuk kedalam.
" tuan muda ...apa yang terjadi ?! " umi Khasanah nampak tergopoh gopoh melihat Zain membopong tubuh Alika.
" entahlah bu...tiba tiba dia ping...kakek...!! " kata kata Zain tak berlanjut karena melihat sosok yang sangat ia kenal juga nampak tergopo gopoh menuju kearahnya. Membuatnya amat sangat terkejut.
Ia sampai melototkan matanya karena sangking tak percayanya dengan apa yang ia lihat.
" ada apa...apa yang terjadi, kenapa di pingsan. Apa yang sudah kau lakukan padanya lagi hah...dasar bocah tengil " sentak tuang besar Zain dengan suara keras namun tetap tak mampu mengusir keterkejutan Zaidan karena melihat kehadiran pria tua itu di sekitar Alika
Dengan cepat matanya berputar kearah Alex yang berdiri tak begitu jauh dari umi Khasanah.
Seolah melempar pertanyaan pada asistennya itu tentang keberadaan kakeknya itu, tapi nihil....
Alex menggeleng gelengkan kepalanya..karena ia pun tak tahu menahu tentang kehadiran tuan besar Al Kahfi di tempat itu.
__ADS_1
Bahkan sejak ia mendapatkan informasi tentang keberadaan Alika, ia sama sekali tak memperoleh informasi tentang tuan besar itu di sekitar Alika.
" Maycle...hubungi dokter Martha, minta cepat datang kemari " teriak tuan besar Zain dengan keras kepada seseorang yang sepertinya tak berada di sana.
Zaidan semakin di buat ternganga melihat kepanikan sang kakek.
Ada apa ini...apa yang sudah tidak dia tahu. Tanya Zaidan dalam hati.
" baik tuan besar " terdengar sebuah jawaban dari seseorang yang namanya di teriakkan oleh sang kakek dari luar sana.
" kau...kenapa berdiri saja di sana, cepat bawa dia masuk..." kali ini Tuan besar bicara dengan nada keras sambil menuding kearah Zaidan.
Sadar dengan yang di maksud sang kakek, Zain segera membawa masuk Alika yang masih tak sadarkan diri ke dalam kamar.
Ia membaringkan tubuh itu dengan sangat hati hati sekali, perlahan ia melepas kaos kaki basah di kaki Alika.
Terasa dingin sekali....ia menggosok gosok telapak kaki itu dengan kedua tangannya. Cukup lama ia berada di dalam kamar itu.
Hatinya sangat perih dan sangat khawatir.
Pikiran buruk segera melintas di pikirannya.
Kenapa Alika tiba tiba pingsan di depannya...atau mungkinkah Alika juga tak lagi bisa berdekatan dengannya...????
Tidak....tidak......tidak mungkin, itu tidak boleh terjadi.
Zain menggeleng gelengkan kuat kepalanya.
" hai kau...apa yang kau pikirkan, keluar kau sini " tiba tiba seseorang menjewer telinganya dan membawanya keluar kamar setelah sebelumnya menyelimuti kaki Alika dengan selimut.
Zain sampai di buat speakless dengan tindakan sang tuan besar Al Kahfi itu pada istrinya itu.
Mulutnya hingga terbuka lebar.
" katakan...apa yang kau lakukan padanya, kenapa dia sampai pingsan hah....?! " tanya tuan besar Zain lagi kepada sang cucu sambil berkacak pinggang. Matanya melotot kearah Zain.
Zaidan sekali lagi di buat termangu oleh perilaku kakeknya itu. Matanya sampai berkedip berkali kali karena sulit mempercayai penglihatan dan pendengarannya sendiri.
Apakan bumi sudah berhenti berputar...ataukah sang kakek yang telah semakin pikun ??
Kenapa ia seakan sangat dekat dan peduli dengan istrinya...wanita yang nota bene sangat di benci oleh kakeknya itu.
" tidak ada..." jawab Zain seketika sambil menggeleng cepat.
" kau jangan macam macam denganku anak muda...dia sedang..." tuan besar Zain yang bicara sambil mencengkeram kerah Zain seketika menghentikan kata katanya karena panggilan seseorang padanya.
" tuan besar...dokter Martha sudah tiba..." kata Maycle menginformasi tuan besar itu.
__ADS_1
Kedua pria berbeda generasi itu sontak menoleh dan melihat kearah yang sama.