Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 94


__ADS_3

Zain dan sang kakek, tuan besar Zain menoleh kearah yang sama. Kearah suara yang memanggil "tuan besar".


Dengan cepat tuan besar Zain melepas cengkeramannya di kerah leher Zain.


" cepatlah...cepat, kau periksa dia, dia pingsan lagi " perintanya kepada seorang wanita yang datang bersama Mycle dengan menenteng tas kerja di tangannya.


Lagi.....pingsan lagi, apa istrinya sering pingsan sekarang ?! Monolog Zain dalam hati sambil mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak sangat khawatir dan cemas.


" baik tuan besar " jawab wanita itu dengan segera dan langsung masuk kedalam kamar Alika.


" ada apa ini kakek...siapa dia ?! " akhirnya Zain tak mampu menahan ingin tahunya.


" diamlah....jangan tanya tanya lagi, aku tak bisa berpikir saat ini " jawab tuan besar Zain ketus.


Semua yang ada di sana hanya diam tak bersuara.


Tuan besar Zain melirik ketiga orang wanita yang juga beridiri di sana sejak tadi.


Tiga orang itu serempak menundukkan kepalanya dalam dalam.


Zain melirik interaksi itu, keningnya mengerut kembali.


Tiga orang ini yang terlihat terakhir kali bersama Alika di Mall.


Jadi benar....kepergian Alika juga ada kaitannya dengan sang kakek. Zain menghembuskan nafasnya dengan kasar.


pintu kamar Alika terbuka, Zain segera mengraksek masuk. Ia tak lagi perduli dengan respon sang kakek nanti.


" bagaimana keadaanya ?! " tanya Zain


" nona muda baik baik saja tuan, dia hanya sedikit terkejut " jawab wanita itu setelah mendapat anggukan dari tuan besar Zain. Karena setelah mendapat pertanyaan dari Zain ia segera menoleh kepada tuan besar Zain.


" ini biasa terjadi di tri mester kehamilan pertama tuan.. " lanjut wanita itu yang tak lain adalah dokter Martha.


Zain seketika membulatkan matanya, mulutnya menganga.


" trimester kehamilan pertama ?! " beonya dengan wajah cengo


" ya tuan....nona muda hamil, kini usia kandungannya menginjak bulan ke tiga " terang dokter Martha kembali, dokter wanita itu masih belum tahu siapa pria muda di hadapannya itu.


Oleh karenanya ia sedikit di buat bingung kenapa pria itu bertanya tanya tentang cucu perempuan tuan besar itu.


Dokter Martha mengira..Alikalah cucu tuan besar Zain, ia mengira begitu karena melihat bagaimana perlakuan pria berkuasa itu kepada Alika.


Zain menangis tergugu seketika, ia mendekat dan bersimpuh tiba tiba di kaki Alika.


Orang orang itu segera berlalu meninggalkan Zain dan Alika yang masih terbaring tak sadarkan diri atas perintah tuan besar Zain. Begitupun denga pria tua itu sendiri. Ia pun berlalu meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


Membiarkan sang cucu di sana dengan segala perasaannya.


Pria itu melipir masuk ke dalam kamarnya yang di persiapkan untuknya. Ia terlihat menyeka sesuatu di sudut matanya.


Ia menghembuskan nafasnya dengan berat.


Seharusnya ia sudah harus melakukan ini sejak awal. Tapi karena keegoisannya ia kehilangan dua orang cicitnya.


Ya...tuan besar Zain merasa frustasi sejak mendengar gadis yang di cintai cucunya itu keguguran untuk yang kedua kalinya.


Apalagi mengetahui fakta..bahwa karena perlakuan sang cucu, gadis itu mengalami gangguan psikologis hingga berdampak ia yang trauma dengan laki laki selain cucunya.


Ia memerintahkan seseorang untuk mencari tahu tentang gadis itu. Kenyataan menghantam jiwa kemanusiaannya.


Perlakukan sang cucu yang tak bermoral pada gadis itu membuat hatinya yang setegar karang di lautan ambruk seketika. Ia merasa telah gagal mendidik Zaidan selama ini.


Zain masih menangis di kaki Alika. Hampir saja ia membuat dosa lagi kepada wanita ini.


Apa yang akan terjadi jika ia tak lekas menemukan wanita ini.


Bagaimana jika ia tak lagi mengetahui akan kehadiran sebuah nyawa yang sangat ia tunggu tunggu selama ini.


Zain masih bergulat dengan kesedihan dan penyesalannya ketika Alika mulai menggerakkan tubuhnya.


" kau sudah sadar..?! " tanya Zain sambil berdiri dan menghampiri Alika sembari mengusap bulir bilir air matanya yang telah menetes sejak tadi.


Ia mengulurkan tangannya kearah wajah yang kini berjamban itu.


Zain segera duduk bersimpuh di sisi pembaringan Alika, meletakkan jemari Alika yang terulur ke wajahnya.


Zain menelan ludahnya dengan sangat susah payah.


Matanya terasa panas.


" kenapa terlihat sangat kotor dan tak terawat begini ?! Kau juga sangat kurus.... " kata Alika terdengar pelan namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Zain, sembari tangannya mengusap lembut pipi pria tampan itu.


Matanya tampak berkaca kaca.


" benarkah...?!! " tanya Zain balik dengan sedikit meringis.


" hmmm...." jawab Alika.


" memang tak ada yang merawatku....istriku pergi meningglkanku sejak dua bulan lalu, bahkan mungkin lebih dari dua bulan..." jawab Zain dengan senyum sedikit manja.


Ia merasakan kelegaan saat melihat Alika menyentuhnya.


Setidaknya kekhawatirannya tadi tak beralasan.

__ADS_1


" ckk...ada kak Nadira di sana, kenapa ....kau masih mengabaikannya ?! " tanya Alika lagi, tapi kali ini dengan wajah yang sedikit mengerut.


Zain diam tak menjawab, ia menidurkan kepalanya di sisi tubuh Alika, kemudian tangannya mengelus lembut perut Alika yang masih terlihat rata.


Perlahan Zain mengusap matanya..


" ada apa...?! " tanya Alika melihat Zain yang seperti menangis.


" ada dia di sini....?! " tanya Zain, ia sudah mendengar tadi...tapi ia masih ingin mendengarnya lagi dari bibir Alika sendiri.


" hmmmm....." jawab Alika sambil menimpali tangan Zain yang mengusap lembut perutnya. Kemudian tangannya mengikuti gerak tangan Zain yang mengusap perutnya.


" aku mencintaimu...." bisik Zain di perut Alika setelah ia mengangkat kepalanya lebih dulu. Mencium cukup lama perut itu Kemudian beralih ke wajah Alika.


Menatap mata bulat nan teduh itu. Sejenak keduanya saling memandang hingga Zain yang kemudian melabuhkan ciumannya di kening Alika dan berakhir di bibir merah cerry wanita itu.


Alika memejamkan matanya, memberi ruang kepada laki laki itu untuk mengeksplor bibirnya.


Zain mengusap lembut bibir Alika setelah ia melepaskan tautan keduanya.


" aku mencintaimu...jangan pergi lagi..." bisik Zain. Tubuhnya membungkuk memeluk erat wanita yang tampak ringkih itu.


Bahunya terlihat naik turun tanda ia menahan tangis.


Zain memang tengah tergugu kini....banyak sekali penyesalan dalam hidupnya yang sangat ia sesali.


" kemarilah..." Ajak Alika sembari menepuk sisi di sebelahnya.


Zain menurut, ia merebahkan tubuhnya di sisi Alika, mengangkat kepala wanita itu untuk di tidurkan di atas lengannya.


" aku sangat merindukanmu..." bisik Alika sembari tangannya melingkar di tubuh Zain dan wajahnya ia benamkan di dada pria itu.


Sungguh Alika merasakan ketenangan dan kenyamanan di sana.


Zain mengusap lembut rambut Alika yang tak lagi tertutup hijab karena dia sendiri yang tadi melepaskannya. Kemudian ia kembali melabuhkan kecupan di kening wanita itu.


" kakek sering berada di sini selama ini ?! " tanya Zain kemudian


" hmmm...." jawab Alika tanpa mengangkat wajahnya.


" dia memperlakukanmu dengan baik...?! " Zain masih bertanya lagi


" iya..." kali ini Alika menjawab dengan bersuara.


Zain kembali mencium kening Alika, kemudian menarik dagu wanita itu....melabuhkan ciuman hangat di bibir tipis itu.


" kau memang sangat luar biasa sayang...." bisik Zain di telinga Alika kemudian.

__ADS_1


__ADS_2