
Zain nampak kembali menghela nafas.
" baiklah...hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu dengan kedatanganku sendiri padamu saat ini.
Aku harap kau mengerti semua yang aku katakan " kata Zain sembari menggosok gosokkan kedua telapak tangannya pada ke dua pahanya kanan dan kiri secara bersamaan.
" namun...jika kau menginginkan hal yang lain, jangan khawatir, aku tidak akan segan segan meladeninya. Bahkan untuk membuat bisnismu ini berantakan saja bukan hal yang sulit bagiku " lanjut Zain lagi penuh percaya diri, memang apa yang bisa di ragukan pada ucapan seorang Zaidan...kemampuannya dalam bidang cyber bukanlah sekedar omong kosong.
Bahkan hampir seluruh rekan rekan bisnis keluarga Kahfi tahu akan hal itu.
Salah satu kemampuan Zain ini jugalah yang cukup membuat siapapun lawan bisnis keluarganya keder di buatnya meski waktu itu ia masih berusia belasan tahun. mereka akan berpikir berkali kali untuk sekedar membuat masalah dengan tuan muda Al Kahfi itu.
" satu lagi Zubair...percayalah aku jauh lebih bejat dari yang kau kira bahkan dari dirimu sekalipun, hingga hal kotor yang akan ada di otakmu aku pastikan telah lebih dulu mampir di otak ku..." Zain masih menyambung kata katanya yang dengan seriusnya di dengarkan oleh Zubair.
" dan aku pastikan padamu....aku bukan Ohan..." lanjut Zain lagi dan kali ini, ucapannya sarat dengan ancaman kepada Zubair.
Namun pria itu tak menjawab sama sekali ucapan pria di hadapannya itu.
Ia sungguh tak meragukan dan mengakui semua yang Zain katakan.
Zain berdiri dan hendak berlalu ketika panggilan Zubair menghentikan langkahnya.
" Zain....!! " panggil Zubair.
Zain menghentikan langkahnya.
" hmmm..."
" maaf...."
Hening....suasana ruangan itu kembali hening.
" i'ts okay....aku pernah berada di posisimu dahulu, aku tahu rasanya sangat sakit dan sulit. Tapi aku pastikan sekali lagi padamu...aku...bukan...Ohan..." jawab Zain lagi penuh penekanan.
Ia seolah meyakinkan kepada Zubair, bahwa ia tak akan pernah kehilangan seorang Alika karena seorang Zubair, seperti seorang Ohan yang kehilangan Alika karena seorang Zaidan Almeer Al Kahfi.
Zubair terdengar menghembuskan nafasnya dengan berat.
" ya...aku mengerti, tapi tolong...sampaikan salam ku padanya, katakan permohonan maafku padanya.." kata Zubair dengan tulus dan sukses membuat Zain berbalik menoleh kepadanya.
__ADS_1
Mata pria tampan itu menatap nyalang dan tak berkedip ke arah Zubair.
" tidak akan pernah...!! " jawab Zain dengan lantang.
" kau pikir aku akan sudi membantumu membersihkan namamu di hadapan istriku..." lanjutnya.
" kalau begitu..aku akan mengatakannya sendiri kepadanya " tantang Zubair.
" coba saja..kalau kau ingin lihat hasil jerih payahmu ini berkalang tanah..." jawab Zain.
" cihh...dasar posesif, curang kau..." umpat Zubair kesal, ia berharap bisa kembali berhubungan baik dengan Alika meski tak bisa memilikinya.
Tapi ternyata sia sia, sepertinya Zain telah lebih dulu membac pikirannya.
" bodo'...." jawab Zain sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Zubair itu.
Tak ia hiraukan lagi umpatan Zubair yang terlontar untuknya.
Zain sedikit terburu buru keluar dari mobilnya, sedikit berlari ia masuk kedalam rumahnya.
Ia sedikit khawatir karena ia merasa terlalu lama meninggalkan Alika.
" di mana istriku bik ?! " tanya Zain.
" ada di kamar tuan muda " jawab bik Sumi dan Zain segera berlalu dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" cklek..." Zain membuka pintu, dan segera hatinya terasa hangat melihat sang istri di dalam kamar seperti sedang membereskan sesuatu.
" sayang..." panggil Zain dengan manja mendekat kearah Alika.
Alika menoleh dan tersenyum pada pria tampan itu.
" kamu tidak ke kantor lagi Zain...?! " tanya Alika dan membiarkan saja tangan kekar pria itu melingkar di perut buncitnya dan mulai mengusap lembut perut itu sembari bibirnya berada di pundak sang istri.
Semenjak kepulangan mereka dari mansion, Zain memang jarang pergi ke kantor. Ia akan pergi ke kantor di waktu waktu mendesak saja. Ia merasa enggan meninggalkan Alika meski ada banyak orang di rumah.
Ia selalu merasa khawatir dan cemas akan keadaan wanita hamil itu.
" enggak...aku nggak bisa tenang kalau ninggalin kamu " jawab Zain sambil terus mengusap perut Alika.
__ADS_1
" aku baik baik saja Zain....pekerjaan kamu juga penting kan ?! " omel Alika.
" enggak juga..kamu yang paling penting, atau kamu takut aku nggak kaya lagi kalau aku nggak kerja ?! " tanya Zain menggoda Alika.
" aish...meski kamu tak punya apa apa pun, aku akan tetap mengikutimu.." jawab Alika dengan cepat, ia memegang tangan Zain yang berada di perutnya.
" cie....yang udah cinta mati sama aku kayaknya.." goda Zain lagi sambil menduselkan wajahnya di tengkuk Alika membuat wanita itu sedikit geli.
" jangan khawatir sayang, meski di rumah saja...aku tetap memantau MAMBA. Dan lagi ada Alex dan Faritz di sana...mereka cukup bisa di andalkan " terang Zain kemudian dan membuat Alika tersenyum.
" bagaimana keadaan anak anak papa...?! " tanya Zain, kali ini pria itu berjongkok di hadapan sang istri hingga kini wajahnya tepat berada di hadapan perut Alika.
Tangannya kembali mengusap lembut perut itu.
" baik papa..." jawab Alika mewakili bayi mereka.
" tentu saja..papa percaya anak anak papa pasti sehat, dan sepertinya....kalian sangat rindu papa jenguk ya..." lanjutnya lagi dengan mengerlingkan matanya pada sang istri membuat Alika mencebik.
" itu sich maunya kamu...." cebik Alika.
" iya sih maunya kau...tapi itu juga bagus kan sayang buat kamu. Kamu gak lupa kata dokter kemaren...gak papa sering sering di usia kandungan kamu sekarang ini buat ngelancarin proses lahiran kamu nanti.." cerocos Zain sambil membimbing Alika kearah tempat tidur.
" ihh modus kamu..." jawab Alika yang di sahuti tertawa Zain.
" modus yang bermanfaat sayang..." jawab Zain dengan memulai aksinya, memeluk dan menghujani Alika dengan ciuman ciumannya.
Alika sendiri turut menyambut keinginan sang suami, dengan senyum cantik di wajahnya ia membalas setiap belaian dan ciuman Zain padanya.
Sungguh Zain merasa hidupnya sangat bahagia dan lengkap.
Beban tanggung jawab besar di pundaknya sebagai pewaris tunggal keluarga Al Kahfi tak lagi terasa berat ia rasa.
Semenjak Alika benar benar berada di sisinya sebagai istrinya apalagi semenjak kehamilan wanita itu. Ia menjalani tanggung jawabnya dengan senang.
Meski tak dapat ia pungkiri, rasa cemas dan khawatir masih sering mendera hatinya terutama saat malam dan melihat Alika pulas dengan tidurnya, mana kala ia teringat akan persalinan Alika yang semakin dekat.
Apa lagi Alika menolak melahirkan cecar, ia ingin melahirkan secara normal selagi ia merasa mampu.
Sesuatu yang selalu ia ucapkan pada Zain saat keduanya menjelang tidur.
__ADS_1