
Ricko masih tak bergeming menahan sakit dan perih karena pukulan demi pukulan yang di layangkan Zubair dan Abdullah kepadanya.
Pria berwajah indo itupun tetap tak berniat untuk membalas, matanya masih setia menatap kepada Nadira. Ia berharap....wanita itu akan sedikit menghargai pengorbanannya kali ini.
" apa kau pikir Nadira seorang yatim piatu yang tak memiliki siapa siapa hingga kau berani menyentuhnya seperti itu bajingan... " umpat Abdullah dengan kasar, sungguh kata kata Abdullah baru saja membuat seseorang di sana tersindir.
Zain melipat bibirnya rapat rapat dan semakin memeluk tubuh Alika dengan erat.
Ia takut...Alika akan terpengaruh dengan kata kata yang di ucapkan oleh pria itu.
" maaf...." sebuah kata maaf terlontar dari bibir Ricko demi menanggapi kata kata Kakak pertama Nadira itu.
" maaf kau bilang...hei tuan, kata maaf darimu sungguh tak berarti apa apa bagi kami. Harus kau tahu, demi kehormatan wanita itu kami bahkan akan bersedia mempertaruhkan nyawa kami untuknya...." bentak Zubair sambil menuding kearah Nadira dan kembali melayangkan pukulannya kembali di tubuh Ricko.
" bugh....!! " kembali sebuah pukulan terdengar dengan keras.
" uhuk uhuk..." Ricko terbatuk dan jatuh tersungkur di lantai karena tendangan dan pukulan dari Zubair itu. Darah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya
Pipinya.....jangan di tanya lagi, pipi itu sudah ungu kebiruan sejak tadi.
Ricko meringkuk memegangi perutnya yang di tendang Zubair.
" Abdullah....Zubair....!!! " suara panggilan seorang wanita cantik paruh baya seketika menghentikan gerakan dan langkah Abdullah dan Zubair Ibrahim Khan yang terlihat hendak berniat menghajar pria yang sudah meringkuk itu.
Kedua pria itu segera mundur teratur.
" Nadira..." panggil wanita itu kepada Nadira
" ya amma...." jawab Nadira dengan cepat sembari mendekat kepadanya.
" bawa pergi suamimu, dan obati luka lukanya..." perintah wanita itu.
" baik amma..." dengan segera Nadira menghampiri Ricko dan memapah pria yang nampak babak belur itu.
" terimakasih...amma..." kata Ricko sambil menundukkan kepalanya ketika ia berada di hadapan wanita itu.
" hei kau...dia bukan ibumu...tutup mulutmu itu " teriak Zubair dengan garang sembari hendak merangsek maju dan bersiap menghajar Ricko kembali.
" Zubair....." lagi lagi panggilan itu menghentikan langkah kaki Zubair seketika.
" jika kau memang berniat baik kepada putriku...datang kepada kami dan minta dia kepada kami dengan cara baik baik, putri kami seorang wanita terhormat...jadi, mintalah dia dengan cara terhormat pula " kali ini sebuah suara yang terdengar berwibawa dan seakan memberi ultimatum keluar dari seorang Ibrahim Khan.
__ADS_1
Pria itu menatap tajam bagai elang kepada Ricko.
Ricko segera melangkah kearah pria itu dan berdiri dengan sopan di hadapannya sambil tetap di pegangi oleh Nadira.
" baik tuan Khan...saya akan segera melakukannya " jawab Ricko dengan tegas dan berani, kali ini ia tak lagi berani mengikuti panggilan Nadira kepada pria itu karena tak ingin mendapat protes lagi dari tuan muda Khan di sana.
" cihhh....penjilat " cibir Zubair meliha tingkah Ricko, sedang Ricko tak menanggapi dan tak ingin ambil pusing dengan cibiran Zubair itu.
Baginya kini...ia hanya sedang ingin merayakan dan mensyukuri keberhasilannya memperoleh perhatian wanita yang kini tengah memapahnya itu.
Ia tak merasa menyesal karena babak belur, karena dengan begitu...ia bisa mendapatkan perhatian Nadira.
" bawa dia kekamarmu saja Nadira.." tuan besar Zain turut bersuara, diam diam ia merasa ngilu sendiri melihat lebam lebam di wajah tampan Ricko.
" ya kakek..." jawab Nadira kemudian membawa Ricko menuju lantai atas dimana kamarnya di mansion ini dulu berada.
Ketika mereka hendak melewati Alika dan Zain, Ricko menghentikan langkahnya. Ia sejenak melihat kearah Zain.
" sorry brow....aku terpaksa meniru caramu " bisik Ricko berbisik pelan di telinga Zain, setelah ia mencondongkan kepalanya kepada Zain lebih dulu.
Alika dan Nadira nampak mengerutkan keningnya melihat interaksi dari mantan dua rival itu.
" tapi tak seextrim dirimu..." lanjut Ricko kemudian nampak melanjutkan langkahnya dengan di papah Nadira. Zain menatap Ricko sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
" tak apa...sepertinya, karena kebanyakan kena pukul otak anak itu agak sedikit geser sayang " jawab Zain menyembunyikan fakta yang sebenarnya kepada Alika.
Ia tak mau, hubungannya dengan Alika akan di pertaruhkan hanya karena kata kata dari Ricko barusan.
" ayo ke kamar...kau harus istirahat " ajak Zain kemudian.
" hmmm " jawab Alika.
Setelah berpamitan Zain membimbing sang istri untuk naik kelantai atas, menuju kamarnya yang juga ada di sana.
Sebelum itu, ia sempat memberikan tatapan menghunus dan penuh ancaman kepada Zubair yang di ketahui sendiri oleh Zain tengah menatap penuh damba kepada sang istri.
" cihhh....posesif " umpat Zubair pelan sambil membuang muka ketempat lain.
Ia bukannya takut kepada Zaidan, hanya merasa tidak enak saja pada para tetua yang ada di sana.
Ketika Zain nampak sabar dan telaten membimbing istrinya manaiki anak tangga untuk menuju kamarnya dengan di iringi tatapan Zubair pada sosok Alika.
__ADS_1
sementara itu dua orang yang telah lebih dulu berada dalam kamar nampak juga tengah di sibukkan dengan sesuatu.
" au...sakit Nad...pelan pelan ya..plis " rintih Ricko menahan sakit. Sedikit lebay memang karena dia memang sengaja. Tapi sakit...itu juga benar, dia tak berbohong.
Ia hanya sedikit memanfaatkan keadaan, sambil berenang minum air...bagitulah kira kira maksud Ricko, ia ingin di obati sekaligus bermanja manja ria kepada wanita yang telah menyandang status sebagai istrinya itu.
" ck...ini aku juga udah pelan.." jawab Nadira sambil tangannya terus bergerak membersihkan luka di wajah Ricko akibat dari mahakarya kedua kakaknya.
" tahu akan begini...kenapa tak menghindar..?! " Nadira bertanya dengan nada jengkel.
Tak ada jawaban, juga tak ada suara rintihan apapun.
Nadira menghentikan gerakan tangannya, dan matanya beralih menatap kepada Ricko. Sejenak mata keduanya saling bertemu.
Nadira baru sadar, jarak keduaya terlalu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas Ricko di wajahnya.
" ekhemmm...." Nadira berdehem guna menetralkan sesuatu di hatinya yang tiba tiba terasa tapi ia tak mengerti apa itu.
" mau kemana...selesaikan ini dulu, ini sakit....serius sakit lho..." kata Ricko menahan pergerakan Nadira yang nampak hendak pergi dengan tangannya melingkar di pinggang Nadira.
Nadira melotot melihat tangan Ricko yang melingkar di perutnya.
" lepasin nggak...?! " hardik Nadira dengan mata melotot.
" he he he....selesain dulu tapi..." rengek Ricko dengan tersenyum absurd kepada Nadira.
" iya...aku selesaiin, lepas dulu..." kata Nadira dengan wajah merah padam menahan malu dan entah apa lagi, ia sendiri tak tahu yang ia rasakan kini.
" tahu sakit gini kenapa tak menghindar..." kembali Nadira mengulang kata katanya yang tak mendapat jawaban dari Ricko tadi.
" tidak...ini memang pantas aku terima, aku sedikit lega sekarang. Setidaknya...ini sedikit mengurangi rasa bersalahku pada keluargamu..." jawab Ricko jujur dan apa adanya.
" ckk..." Nadira berdecak mendengar jawaban Ricko padanya.
" terimakasih..." kata Ricko sembari memegang jemari Nadira setelah wanita itu menyelasaikan pekerjaannya mengobati luka luka di wajahnya.
" untuk ?! " Nadira tak paham arah pembicaraan Ricko, ia mengerutkan keningnya sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Ricko.
Tapi Ricko tak mau melepaskannya, ia malah menarik jemari itu hingga Nadira semakin mendekat kepadanya.
" terimakasih karena sudah mau mengakui aku sebagai suamimu...cup " kata Ricko sembari mengecup singkat bibir Nadira yang berada di hadapannya.
__ADS_1
Seketika Nadira melotot menatapnya tajam.