Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 66


__ADS_3

Zain menatap kearah luar jendela mobilnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Rahangnya mengeras. Wajahnya merah padam. Keningnya mengerut...jelas ia tengah menahan kejengkelan setengah mati.


" siapa dia Maly...aku tidak suka dengan caranya menatapmu " omel Zain dengan nada bicara yang sangat tidak enak di dengar.


" dia kakak Amreeta...jangan seperti itu.." jelas Alika, ia merasa sedikit takut melihat kemarahan di wajah Zain.


Hal itu sungguh mengingatkannya pada malam di mana Zain merenggut kesuciannya.


Meski kini ia telah mencintai pria itu, namun tak dapat ia pungkiri....aura Zain jauh lebih mendominasi dirinya. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia memang telah tunduk kepada pria di hadapannya itu sudah sejak lama.


Terbukti....selama ini ia sanggup bersikap kasar bahkan lebih dari itu kepada semua pria, namun dengan Zain, ia bahkan seakan tak berkutik di hadapannya.


" oh...dia salah satu pengisi daftar list suamimu yang di buatkan teman mu itu...yang dia bilang aku tak termasuk dalam daftar list itu..." Zain semakin terdengar geram.


Alika menggenggam tangan kiri Zain dan menyentuhkan tangan itu pada pipinya, seketika Zain menoleh karena merasakan basah di kain cadar itu.


" kau menangis ?! " Zain kebingungan melihatnya


" jangan seperti itu...aku takut padamu " suara Alika terdengar bergetar. Jujur ia memang selalu takut dengan kemarahan Zain.


Baginya kemarahan Zain sangat mengerikan.


Zain menarik bahu Alika, mencium pucuk kepala wanita itu.


" dia menginginkanmu Maly....aku merasa khawatir akan itu " Zain sedikit berkata lembut.


" kau sudah pernah pergi meninggalkanku hingga sepuluh tahun. Kau juga selalu meminta perpisahan dariku sebelum ini....apa aku tidak boleh khawatir? " lanjut Zain lagi.


" aku takut kau akan berubah pikiran karena dia " Zain masih melanjutkan kata katanya lagi.


" apa kau lupa...aku bahkan tidak bisa bersentuhan ataupun terlalu dekat dengan seorang pria selain dirimu ?! " Alika berargumen mengingatkn Zain akan kelemahan dirinya kini.


Zain menghela nafas berat. Ia sedikit tercubit dengan kata kata Alika itu. ia sangat sadar...ialah alasan terbesar trauma Alika.


" dia menyukaimu sejak dulu bukan ?! " tanya Zain lagi.


" aku tidak tahu...dia tidak pernah mengatakan itu padaku " jawab Alika polos. Zain menggeleng gelengkan kepalanya.


Istrinya memang sepolos itu.


" kau sudah membuat kesalahan dengan mengatakan aku sebagai istrimu " Alika kembali berkata kata.


" kenapa...kau menyesal karena aku berkata seperti itu, sehingga kau kehilangan kesempatan bersamanya ?! " suara Zain kembali naik satu oktaf.

__ADS_1


Alika semakin menenggelamkan kepalanya di dada Zain.


" Zain...apa kau lupa ? dia rekan bisnismu...yang dia tahu Nadira lah istrimu bukan aku. Aku takut itu akan menjadi skandal keluargamu. Kakek akan semakin tidak suka padaku nanti..." Alika berkata dengan lembut sembari tangannya melingar di pinggang Zaidan.


Ia tahu...pria ini sedang di rundung cemburu, akal sehatnya tak bekerja sama sekali. Oleh karenanya ia mencoba melembutkan hati suaminya tersayang itu.


Zain menghela nafas.


" aku tahu berada di sisiku sangat sulit dan menyakitimu...tapi percayalah Maly....aku akan mati jika kau pergi dari ku " bisik Zain kemudian di telinga Alika.


Zain sangat sadar, Alika sangat di rugikan dan tersakiti karena bersamanya.


Zain menarik tubuh Alika, mendudukkannya dengan benar di jok mobil.


ia memasang self belt Alika. Dan...


" cupp...." Zain mengecup bibir yang tertutup cadar itu.


Alika memukul lengan pria itu dengan manja.


Zain tertawa di buatnya.


" kau tidak kekantor sama sekali.." Tanya Alika setelah Zain mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.


Zain menggeleng sembari tangan kirinya terus menciumi pungung telapak tangan kanan Alika.


" pasti kakek mu akan semakin membenciku karena itu " imbuh Alika lagi.


" tidak akan...aku masih bisa menghandlenya meski tak pergi ke kantor sayang... " jawab Zain.


Ia memang sengaja tak ingin meninggalkan Alika. Ia ingin merasakan kebersamaan mereka setelah pengakuan cinta Alika kepadanya.


" kemana kita...?! " tanya Alika karena merasa tak mengenal jalan yang mereka lalui kini.


" pulang " jawab Zain, Alika semakin di buat bingung. Pasalnya ini juga bukan jalan menuju rumahnya atau juga apartemen Zain.


Hingga mobil Zain memasuki sebuah pagar besi tinggi yang bisa terbuka dan tertutup otomatis.


Seorang satpam segera berlari menghampirinya.


" mamy dan dady ada...?! " tanya Zain kepada satpam itu, membuat darah Alika seakan membeku.


" iya ada tuan muda " jawab satpam itu dengan hormat. Kemudian Zain melanjutkan mengemudi kendaraannya untuk masuk.

__ADS_1


Jantung Alika semakin di buat berloncatan,


Mamy dan dady....apa yang di maksud Zain adalah kedua orang tuanya.


Alika memang pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Tapi tetap saja ia di buat gemetar.


Belum lagi tampilan rumah besar yang bagai istana itu. Sungguh Alika di buat semakin insecure.


" ayo..." Zain telah membuka pintu untuk Alika setelah sebelumnya ia turun lebih dulu.


Zain berdiri di samping pintu sembari mengulurkan tangannya kepada wanita cantik itu.


Zain berniat mengenalkan Alika kepada kedua orang tuanya sebagai istrinya secara resmi. Satu langkah yang ia rencanakan untuk melawan sang kakek.


Zain melirik satu mobil yang telah terparkir lebih dulu di garasi mobil milik keluarganya itu. Perlahan ia menghela nafas.


" tante Namira..." desisnya pelan, sembari tangannya menggenggam tangan Alika yang tiba tiba terasa dingin.


Zain mengusap usap punggung tangan Alika mencoba memberi ketenangan pada wanita itu.


" assalamualaikum...mamy, aku datang " sapa Zain kepada orang orang yang kini terlihat berkumpul di ruang keluarga yang besar itu.


Zain melepas pegangan tangannya pada Alika dan menghambur kepada ibunya yang nampak melongo melihatnya.


Namun sejurus kemudian, wanita cantik yang telah melahirkan Zain ke dunia itu membalas pelukannya dan menciuminya seperti ia mencium anak kecil.


Begitupun dengan sang ayah.


Dua orang lain yang juga berada di sana ikut mendekat dan mengusap bahunya.


" siapa yang kau bawa Zain ?! " tanya mamy Zain sembari beralih melihat kearah Alika yang berdiri agak jauh di sana.


Almayra tidak mengenali Alika tentu saja, karena saat ini gadis itu memakai cadar.


Zain mendekat kepada Alika dan membawanya mendekat kepada ibu dan tantenya. Seakan tahu yang sudah terjadi dua orang pria di sana agak melangkah menjauh.


" salam nyonya...salam tuan " sapa Alika dengan sopan.


mamy Zain seolah tak mampu membendung perasaannya, ia merangsek maju dan memeluk tubuh Alika.


" siapa dia Zain...?! " kini wanita yang terlihat hampir mirip dengan mamy Zain melontarkan pertanyaan.


Zain sedikit bingung dan ragu harus menjawab...tapi ia harus melakukannya.

__ADS_1


" dia istriku tante Namira....Malayka Khumaira Rasyid " jawab Zain dengan tegas dan lantang. Ia sudah siap dengan resiko yang akan ia tanggung kedepannya.


Mungkin adik dari mamynya itu akan membencinya di kemudian hari.


__ADS_2