
Malam semakin larut ketika Zain terbangun dari tidurnya. Tadi ia terlelap setelah beberapa jam menerima suapan dari Alika karena efek obat yang ia minum setelah tim dokter kepercayaannya tadi memeriksanya.
Pria tampan beralis tebal itu menggeliat perlahan. Ia memiringkan tubuhnya ke kanan dan kekiri, dan ketika kepalanya menghadap ke kanan...ia melihat Alika duduk di sofa yang ada di ruang rawat itu dengan mata terpejam dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
Rasanya ia tak percaya dengan penglihatan matanya sendiri. Benarkah itu Alika...dan...benarkah wanita itu menungguinya...?
Kedua kaki Alika terjuntai kebawah.
Zain menatap lekat lekat wajah itu
" ternyata tadi memang nyata " bisik Zain dalam hati. Tak jemu ia terus menikmati wajah cantik Alika yang sedang terpejam dan seakan terlena dalam mimpinya.
Seulas senyum tersungging di bibir Zain, ia mengingat awal awal ia mulai mengenal gadis itu.
Pertama kali ia menatap wajah cantik Alika hingga membuat dirinya tanpa sadar terpaku pada wajah cantik gadis itu.
Hingga ia yang nekat merenggut paksa kesucian Alika dan sejak itu ia seakan mengklaim Alika adalah miliknya hingga ia terus menempeli gadis itu di manapun Alika berada.
Sejak awal ia memang sudah di buat mati gaya oleh Alika.
Mata dan hatinya tak bisa berhenti untuk sekedar menatap dan memikirkannya meski ia tak pernah mengenal gadis itu sebelumnya.
Ya...benar yang di katakan mamynya.
Dirinya mencuri cinta Alika dari Ohan dengan begitu sadis dan brutalnya, memaksa gadis itu untuk terbiasa dengannya. Menerima dirinya bahkan memaksa gadis itu untuk mencintainya.
Zain bangkit dan berjalan kearah Alika terlelap sambil duduk.
Wajah cantik Alika sungguh membuatnya damai.
Zain sudah memposisika diri hendak mengangkat tubuh Alika, tangan kirinya telah berada di bahu wanita itu sementara tangan kananya berada di kaki.
Sementara wajahnya hampir bersentuhan dengan pipi wanita cantik itu.
Tapi...
__ADS_1
" mau apa..?! " tiba tiba mata bulat itu terbuka, jarak keduanya sangat dekat, bahkan keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing masing.
" jangan tidur di sini, aku akan membawa mu ke sana...di sana bahkan masih akan sisa untuk tidur kita berdua " kata Zain sembari menunjuk brankar nya dengan dagunya.
" tidak apa apa, aku baik baik saja...di sini saja " jawab Alika, entah mengapa ia merasakan jantungnya tidak baik baik saja dengan posisi ini.
" tidak..kau tidak akan baik baik saja nanti jika tidur di sini. Kau baru saja keguguran " jawab Zain lagi.
" itu sudah dua bulan yang lalu..."
" tetap saja...hanya dua bulan yang lalu, bukan satu ta...hun..." kata Zain pelan, wajahnya tiba tiba membeku.
Zain mengurungkan niatnya menangkat tubuh Alika, namun kemudian ia memutuskan duduk disisi Alika.
Keduanya duduk bersisihan.
Alika membenarkan letak duduknya.
" satu bulan lagi..kau akan pergi ?! " tanya Zain kemudian
" selamat ya..." kata Alika tanpa menjawab pertanyaan Zain padanya.
Alika terdiam membisu
" kau..ingin...ah iya, kau akan segera mendapatkan pewarismu dari nona cantik itu " Alika tersenyum miris.
Zain mengerutkan keningnya tak paham arah pembicaraan Alika.
Namun untuk memperjelas maksud dari kata kata Alika, ia merasa enggan.
" maafkan aku...karena keegoisanku, aku menahanmu disisiku...." kata kata Zain terdengar pelan dan bergetar.
" aku terbiasa mendapatkan yang aku inginkan, memilikimu menjadi salah satu keinginanku...tanpa ku sadari aku telah melakukan berbagai macam cara untuk memilikimu. Bahkan menyakiti dirimu...sungguh itu bukan inginku " lanjut Zain masih dengan suara bergetar.
Ada sesuatu yang hangat megalir di pipi Alika tanpa Zain tahu, karena Alika menunduk saat ini.
__ADS_1
" kini aku sadar...aku tak mungkin terus memaksakan kehendakku padamu, aku...." Zain tak melanjutkan kata katanya karena terpotong oleh Alika.
" apakah kau menahanku hanya karena menginginkan seorang keturunan dariku ?! " tanya Alika masih dengan menunduk.
Zain menggeleng pelan, sesungguhnya seorang anak hanya ia jadikan sebagai alasan untuk bisa menahan Alika di sisinya.
" aku sadar...bersamaku kau hanya akan terluka, aku ...." kembali kata kata Zain terpotong.
" apa karena istri sah mu telah hamil, kau tak lagi menginginkan seorang anak dariku ?! " kali ini suara Alika terdengar bergetar.
Hatinya memang sakit menerima kenyataan Nadira hamil, namun kehamilan Nadira adalah hal yang wajar. Mereka adalah pasangan suami istri yang halal dan tentunya di restui keluarga masing masing.
Zain menatap sendu Alika, ia berusaha memahami kata demi kata yang keluar dari mulut Alika. Namun tetap saja ia tak paham.
Otak cerdasnya tiba tiba ngeblank hanya karena berhadapan dengan seorang Malayka Khumaira Rasyid.
" aku mencintaimu...sungguh, aku menginginkanmu meski kau mungkin tak mau mengandung benihku. Aku sadar aku telah sangat banyak memaksakan diriku padamu hingga kau terluka berkali kali..,tapi percayalah...itu tak akan lagi aku lakukan padamu. Kau bebas memilih hidupmu sendiri sejak..."
" kau tak lagi menginginkan anak dariku ?! " potong Alika lagi, mengulang pertanyaan yang sama yang belum mendapat jawaban dari Zain, dan masih dengan menunduk. Air matanya telah sejak tadi berderai membasahi pipinya.
" hanya kau satu satunya wanita yang ingin kujadikan ibu dari anak anakku " Jawab Zain dengan tegas. Ia sedikit bingung dengan kata kata Alika
Seketika Alika menubruk tubuh Zain, memeluk pria itu dengan erat. Ia menangis sesenggukan. Tak lagi ia tahan air matanya yang meluncur deras tanpa permisi telah membasahi pipi mulusnya.
Alika benar benar menangis.
Baru ia sadari...betapa Zain telah mengorbankan banyak hal untuk dirinya termasuk kebebasannya.
Memang ia akui cara yang Zain gunakan untuk memilikinya sangatlah mengecewakan dirinya.
Sementara dirinya sadari kini, Zain pun telah bertahta di hatinya sejak sebelas tahun yang lalu.
Ketika pria itu mampu membuatnya tersenyum meski pria itu juga menyakiti hatinya.
Hancurnya dirinya bukan karena Ricko yang ingin melecehkannya, akan tetapi kekecewaannya yang besar kepada Zain karena prasangka buruknya kepada pria itu akibat ia terpengaruh dengan kata kata Ricko.
__ADS_1
Zain yang terkejut dengan tingkah Alika, turut memeluk wanita itu dengan erat.
Jujur...ia sangat rindu, sejak tadi ia sudah sangat ingin memeluk bahkan mencumbu Alika namun mati matian ia tahan karena ia tak ingin lagi memaksakan dirinya pada wanita yang ia cintai itu.