
Tubuh Alika semakin bergetar hebat, keringat dingin mengalir membasahi wajahnya seiring jarak pria itu yang semakin dekat dengannya.
Ia tak mampu berteriak atau sekedar bersuara saja. Alika mati matian mempertahankan kesadarannya ketika pria itu semakin dekat dengannya.
Pria itu semakin dekat dan dekat..dengan lancangnya ia hendak menyentuh wajah Alika
" tak kusangka...kau sangat cantik, jauh di luar ekspektasiku, sungguh luar biasa selera tuan muda Al Kahfi itu..." kata pria itu pelan, Alika mengumpulkan kekuatannya, ia menepis tangan itu.
Memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri mencoba menghindari tangan pria itu yang berusaha menyentuh wajahnya.
" jaga batasan anda tuan...aku adalah seorang istri " Alika berusaha melindungi dirinya,
Kata kata Alika mampu membuat pria itu menghentikan aksinya. Ia kembali menatap Alika
" ceraikan dia dan menikahlah denganku...aku berjanji, aku hanya akan menjadikan kau wanita satu satunya dalam hidupku...aku serius " tawar pria itu kemudian dengan wajah sangat serius.
" kebersamaan diantara kita tidak akan mengakibatkan apapun...aku berani jamin itu " pria itu kembali menjanjikan sesuatu.
Alika menggelengkan kepalanya,
" baiklah...jika kau tak ingin menceraikannya, aku yang akan membuat kau bercerai dengannya " pria itu merangsek semakin maju dan mendekat kepada Alika.
Alika tak mampu lagi menahan sakit di sekujur tubuhnya. tubuhnya seketika limbung ketika pria itu berhasil menyentuhnya kemudian membopong tubuh Alika yang telah kehilangan kesadarannya.
Setelah berhasil membopong tubuh Alika, pria itu membawa Alika keluar dari tempat itu dengan pengawalan yang ketat. Ia menyelinap melalui pintu belakang.
Seseorang menyadari itu, keributan tak dapat lagi di elakkan. Namun sayang....mereka kalah jumlah, Alex berlari dengan cepat menuju mobilnya berusaha mengejar mobil yang lebih dulu telah berlalu dengan membawa Alika bersamanya.
" Zain...." Ricko terengah engah berlari kearah Zain, menarik lengan Zain untuk menjauh dari kerumunan, karena Zain memang sedang berbicara dengan para rekan bisnisnya.
Zain mengerutkan dahinya demi melihat penampilan Ricko, ada beberapa lebam di wajahnya. Juga darah yang sedikit mengalir di sudut bibirnya.
Ia juga menatap penuh curiga, keduanya tak pernah lagi bertegur sapa sejak hari di mana Zain menghajar Ricko habis habisan dulu.
" ada apa ?! " tanya Zain penuh selidik..
" Alika...ada yang menculik Alika " Ricko sedikit bergetar mengatakannya.
Wajah Zain seketika menegang
Ricko memang sempat melihat Alika yang di bopong oleh seseorang yang tak bisa ia lihat wajahnya. Ia tahu dan yakin itu adalah Alika karena ia yang masih sangat hafal dengan pakaian yang tadi di kenakan Alika.
Ia berusaha menghalangi, hingga terjadilah baku hantam diantara dirinya juga orang orang suruhan pembawa Alika itu..
" Alex.." Zain segerah mengedarkan pandangannya mencari Alex
__ADS_1
" Alex mengejar orang itu, sementara aku tadi dengan beberapa orang menghalangi yang lain agar Alex bisa cepat mengejarnya.." lanjut Ricko.
" sial..." umpat Zain , bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk Zain segera membukanya. Wajah Zain seketika menjadi merah padam.
** ceraikan dia....jadikan hanya Nadira sebagai satu satunya wanita dalam hidupmu. Dia milikku sekarang...**
isi pesan itu sungguh membuat darah Zain terbakar, apalagi pesan itu di sertai dengan gambar Alika yang sedang dalam posisi intim dengan seorang pria dalam pencahayaan yang remang remang.
Zain melirik sejenak kearah di mana kini Nadira tengah bercengkrama dengan istri para rekan rekan bisnisnya.
Zain hendak melangkah dengan cepat meninggalkan pesta itu, tapi kemudian ia berhenti sejenak.
" terimakasih..." katanya kemudian tanpa menoleh kearah Ricko, namun Ricko paham dengan maksud Zain itu.
" no prablem....cari aku jika kau butuh bantuan " kata Ricko
Tanpa menjawab Zain segera berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Ia telah berada di dalam kendaraannya ketika ia telah tersambung dengan Alex melalui earphone di telinganya. Sebuah titik koordinat telah nampak di layar smart phonenya yang ia berdirikan di dasboard mobilnya.
Ekspresi Zain terlihat sangat mengerikan, rahangnya mengeras, tatapan matanya sangat tajam dan memerah. Bibirnya membisu seribu bahasa.
Sebuah pesan bergambar kembali masuk kepadanya, ia membukanya...Alika terlihat tertidur diatas tempat tidur tanpa memakai hijab apalagi cadar.
Tubuhnya tertutup rapat dengan selimut
Sebuah pesan tertulis di bawahnya.
Sekali lagi Zain hanya melihat tanpa ekspresi.
** hotel Arkansa, lantai 8 kamar no 356....cepatlah** kembali sebuah pesan masuk, Zain membanting setir dan berbelok arah menuju alamat yang di sampaikan.
Dengan kecepatan maksimal Zain memacu kuda besinya sendirian.
" Arkansa lantai 8 kamar no 356.." ucapnya kemudian kepada seseorang yang tak lain adalah Alex di seberang sana masih melalui ear phonenya.
Tak butuh waktu lama, Zain telah sampai pada hotel yang di maksud. Ia telah masuk kedalam lift ketika tiba tiba Alex turut masuk.
Zain memgernyitkan keningnya ketika ia telah sampai di lantai dan kamar yang di maksud. Ia sedikit mengerutkan keningnya karena melihat beberapa orang berpakaian serba hitam berada di luar kamar,
Melihat keberadaanya, orang orang itu menundukkan kepala kepadanya.
" dady...?! " tanyanya pada Alex
" ya... tuan muda " jawab Alex cepat.
__ADS_1
Zain segera melangkah masuk kedalam kamar, dua orang wanita berseragam hitam juga tengah berjaga di sana.
" maaf tuan muda..kami gagal menangkap orang itu, dia lari melompat balkon " tanpa di minta salah satu dari mereka menjelaskan kepada Zain.
Zain menatap pilu Alika di sana, hatinya perih membayangkan apa yang sudah mereka lakukan pada wanita yang di cintainya itu.
Zain menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya erat. Ia memejamkan matanya sejenak.
Zain meraup tubub Alika kedalam pelukannya, ia sedikit lega karena sang istri masih menggunakan pakaian yang lengkap, hanya hijab dan cadarnya saja yang terlepas.
" tuan muda...telphon dari tuan Osmand.." seseorang menyerahkan handphone pada Zain,.
" ya dady..." kata Zain kemudian setelah mengucapakan salam. Suaranya terdengar parau dan serak karena menahan amarah.
" kau sudah bersamanya ? bagaimana keadaannya ?" tanya tuan Osmand dari seberang sana
" ya dady...aku sudah bersamanya, dia tidak baik baik saja...aku rasa seseorang telah memicu traumanya kembali...."
" apa rencanamu sekarang ?! "
" membawanya kerumah sakit "
" ok...baiklah, maaf kami tak bisa cepat pulang "
" it's ok dady..." jawab Zain singkat.
" dady..." panggila Zain lagi
" ada apa ?! "
" tanks...dady " kata Zain lagi dengan suara bergetar, membayangankan orang lain menyentuh Alika tadi dan membayangkan trauma Alika...membuat Zaidan seperti setengah mati.
" no prablem....jaga dia baik baik, kau tahu keluarga kita punya banyak pesaing dan musuh....mereka akan melakukan segala cara untuk menghancurkan kita " lanjut tuan Osmand
" ok boy....becarfull, klik..." telephone di matikan.
Zain segera mengangkat tubuh Alika keluar dari ruangan itu.
" cari tahu....siapa yang telah menyewa kamar ini " perintah Zain pada Alex.
" ya tuan muda ..." jawab Alex segera melangkah lebih dulu dari Zain. Ia sedikit bernafas lega...setidaknya Nona mudanya itu dapat di temukan dengan cepat.
Ia sempat melirik orang orang berpakaian serba hitam di belakang sana.
Ia mengerutkan keningnya..
__ADS_1
" jadi mereka suruhan tuan Osmand " monolognya dalam hati.