
" apa kau sadar dengan yang kau ucapkan ?! " cibir tuan besar
" maaf jika pilihan saya membuat anda kecewa tuan besar, jika Zain masih menginginkan saya berada di sisinya, maka selama itu pula saya akan berada di sisinya, saya tidak perduli...meski saya hanya seorang istri kedua " jawab Alika dengan pasti dan meyakinkan.
" ah aku tahu...mungkin kau berpikir, lebih baik kau memiliki kebunnya saja di banding hasilnya...aku akui kau cerdas juga. Lebih baik mengorbankan yang tidak seberapa untuk sesuatu yang lebih besar , sungguh pemikiran yang luar biasa " sekali lagi tuan besar mengejek dirinya.
Alika tak bergeming, ia tetap duduk dengan ketenangannya.
Keadaan Zain dalam ketidak berdayaan beberapa waktu lalu karena tulang belakangnya yang retak.
Dan semua itu terjadi karena dirinya...membuatnya yakin untuk bertahan.
Dan itu sungguh menyadarkan betapa pria itu mencintai dirinya. Membuatnya yakin dengan keputusannya itu.
Nadira menatap tak bersahabat sama sekali kepada Alika.
Hatinya tercubit mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir wanita itu. Wanita itu rela berkorban untuk suamianya...lucu sekali, hatinya mencibir.
" jika tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, saya mohon diri tuan besar....salam nona, saya permisi " Alika mengakhiri kata katanya dan mohon undur diri dengan sangat sopan. Alika baru saja hendak melangkah meninggalkan tempat itu, ketika seseorang memanggil namanya.
" nona...mari ikut saya..." tiba tiba Alex telah berada di sana.
Ya..asisten pribadi Zain itu bisa dengan mudah keluar masuk mansion itu karena hampir semua tahu, Alex adalah asisten pribadi Zaidan sejak dulu.
Setelah menyapa tuan besar Zain dan Nadira dengan anggukan kepala Alex pamit dan mengikuti langkah Alika.
Tuan besar Zain menahan amarah di hatinya, kehadiran Alex untuk menjemput Alika di mansionnya. Sudah cukup menjadi bukti di mana posisi wanita itu berada di hati cucunya.
Sementara Alika, ia menarik sedikit sisi samping hijab lebarnya dan menutupkan kearah wajahnya. Kemudia ia mengikuti arah langkah Alex keluar dari mansion menuju mobil yang entah kapan di siapkan olehnya.
" mau kemana..." tanya Alika
" tuan muda sudah menunggu anda, maaf...beliau tidak bisa hadir sendiri. Ada meeting yang tidak bisa di tinggal. Mohon jangan tersinggung " Alex bicara dengan panjang lebar.
Alika tersenyum simpul dan segera masuk ke mobil tanpa menunggu Alex membuka pintu.
Alex segera mengikuti dan melajukan kendaraannya meninggalkan mansion itu.
Sepeninggal Alika dan Alex, tuan besar Zain langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu dengan menahan geram.
Sesaat ia berhenti dan melihat kearah Nadira. Hatinya cukup miris melihat cucu menantunya itu.
Bagaimanapun juga apa yang terjadi pada rumah tangga sang cucu adalah tanggung jawabnya.
Dirinyalah yang mengatur perjodohan itu.
Nadira adalah putri bungsu sahabatnya.
" aku baik baik saja kakek...jangan khawatir " katanya menenangkan sang kakek.
__ADS_1
" tentu saja kau harus baik baik saja, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semua ini hanya perkara waktu saja...kau mengerti ?! " kat tuan besar Zain berusaha memberi kekuatan pada Nadira untuk meningkatkan kepercayaan diri cucu menantunya itu dan mencoba menolak keadaan yang memang tidak baik baik saja.
" ya kakek...aku mengerti " jawab Nadira.
Segera setelah mendengar jawaban Nadira, Tuan besar berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara Nadira diam terperkur disana.
perlahan Nadira menghembuskan nafas berat.
haruskah ia menyerah begitu saja, sungguh kehadiran Alex tadi memukul jiwanya.
Sebegitu pentingnyakah wanita itu, hingga Zain memerintahkan sang asisten pribadi langsung yang menjemput Alika.
💦
Alika melangkah mengikuti Alex menuju kantor Zain. Masuk kedalam lift dengan jarak yang lumayan jauh, Alex tahu trauma yang di derita istri siri majikannya itu.
" tok tok.." Alex mengetuk pintu terlebih dulu sebelum membukanya, setelah Zain mempersilahkan Alex masuk dengan di ikuti oleh Alika di belakangnya.
Zain segera merangsek maju memeluk Alika, sementara Alex paham dengan keadaan, ia segera undur diri.
" bagaimana keadaanmu..kau baik baik saja ?! " Zain terlihat sangat khawatir. Ia segera melepas kerudung yang di pakai Alika sebagai cadar.
Alika menggeleng
" aku baik baik saja, memangnya kenapa aku tidak baik baik saja..." jawab Alika pura pura tak tahu.
" kenapa kau masih harus bertanya padaku kalau kau justru sudah tahu semuanya...buktinya kau langsung tahu aku ada dimana dan meminta asisten mu itu untuk menjemputku " jawab Alika lagi masih ada di dalam pelukan Zain.
Zain mencebik...
" aku hanya khawatir...kau akan terpengaruh ucapan kakek " kata Zain lagi.
Alika tersenyum dan mencium tangan Zain.
" kau masih sangat sibuk...?! "tanya Alika.
" ada apa...kau ingin meminta sesuatu padaku, katakan !! " pinta Zain sambil menuruti Alika yang kini mengajaknya duduk di sofa.
" tentang Nadira..." kata Alika lembut, namun tetap membuat ekspresi Zain berubah.
" kenapa...?! " tanya Zain dengan raut wajah masam.
" Zain..dia juga istrimu, dia mempunyai hak atas dirimu. Kenyataan yang tak bisa kau pungkiri...dia tanggung jawabmu "
" aku tahu Maly...kita sudah pernah membahasnya "
" tapi Zain..."
" jangan meminta apapun lagi dariku jika itu menyangkut Nadira....dia bukan urusanmu " kata Zain sambil menidurkan kepalanya di pangkuan Alika.
__ADS_1
Alika menghembuskan nafasnya...ia membelai rambut Zain, Zain memutar tubuhnya hingga wajahnya kini menghadap kearah perut datar Alika.
" kapan dia akan kembali hadir di sini lagi " bisik Zain lagi sambil mengusap lembut perut datar Alika.
" bersabarlah...semua butuh proses bukan ?! " ucap Alika.
" hmm..." jawab Zain singkat kemudian memeluk erat perut Alika dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Kembali Alika mengusap lembut kepala Zain.
Jika melihat Zain dahulu, seakan sulit di percaya...pria dingin berwajah es itu jatuh cinta kepadanya dan ia sendiri...rasanya sulit di percaya, ia yang pada awalnya jatuh cinta kepada Ohan yang ramah dan hangat serta lembut kini malah jatuh hati pada pria pemaksa itu.
Hari yang di katakan mamy Zaidan akhirnya datang juga, sejak dua hari yang lalu Zain sudah meyakinkan Alika untuk tak memenuhi permintaan sang kakek untuk dirinya hadir di acara besar itu.
Zain merasa ada rencana dari sang kakek untuk Alika dalam acara itu.
Namun Alika tetap meyakinkan Zain bahwa dirinya akan baik baik saja.
Zain datang terlebih dulu ke mansion menjemput tuan besar Zain dan Nadira dan juga membawa Alika turut bersamanya.
Tuan besar menatap jengah kepada Alika, wanita itu mengenakan pakaian yang begitu cocok di tubuhnya. Lengkap dengan cadar yang melengkapi penampilannya.
Penampilan Alika tak kalah mempesona dengan Nadira.
Dengan takzim Alika menyapa sopan tuan besar Zain Almeer Al Kahfi dan Nadira.
Kali ini Nadira tersenyum tipis membalas sapaan Alika. Sungguh ia tak menyangka...Zain akan turut membawa Alika untuk menjemput dirinya dan sang kakek.
Sebenarnya Zain telah meminta Alex untuk mengawal sendiri sang istri, namun demikian ia tetap membawa Alika bersamanya untuk meminimalisir hal buruk yang mungkin akan terjadi nanti.
Tanpa Zain ketahui, tuan Osmand pun telah memerintahkan beberapa orang untuk turut mengikuti istri kedua sang putra itu. Yang terdiri tiga orang pria dan dua orang wanita yang memposisikan dirinya untuk lebih dekat dengan Alika nanti.
Tentang Nadira ia
Zain sampai terlebih dahulu di tempat acara. Kehadirannya bersama sang kakek yang namanya sudah di kenal hampir semua pebisnis handal.
Dan seorang wanita cantik yang mereka kenal sebagai seorang putri konglomerat yang juga mereka ketahui sebagai istri Zaidan Almeer Al kahfi cukup menyita perhatian para hadirin.
Zain melangkah di belakang sang kakek, sejajar dengan Nadira. Kemudian di belakangnya...Alika melangkah sejajar dengan Alex dan kemudian diikuti beberapa orang berbadan tegap berpakain seragam warna hitam di belakang mereka.
Sama seperti Nadira yang menjadi pusat perhatian, begitupun dengan Alika. Wanita bercadar itu cukup menyita perhatian para khalayak.
Berbeda dengan status Nadira yang di ketahui sebagai istri Zaidan, keberadaan Alika dipertanyakan.
" siapakah dia...apa hubungannya dengan keluarga Al Kahfi...?! " bisik bisik yang cukup membuat tuan besar melengkungkan sudut bibirya keatas sembari melirik Alika.
Nadira melirik reaksi Zain yang tampak tidak nyaman dan gelisah.
Berbanding terbalik dengan Alika yang tampak tetap tenang dalam setiap langkahnya.
__ADS_1