Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 28


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Amreeta turut tinggal di kota yang sama dengan Alika dan Santika. Ketiganya memutuskan membuat usaha bersama.


Sepuluh tahu telah berlalu. Alika masih betah dengan kesendiriannya.


Amreeta menikah dengan sesama rekan dokternya, sementara Santika akhirnya menikah dengan Abbas.


Ohan sekarang berada di Turkey. Alika yang sering bepergian ke Luar Negri karena permintaan klien klien yang menggunakan jasa perusahaan di mana ia bernaung. Membuat Ohan tak semudah dulu untuk bertemu dengan Alika. Sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan bisnisnya di sana, meski tidak jarang ia datang ke Indonesia demi bertemu dengan Alika.


Sementara Alika menikmati hidupnya, seorang pria tampan tengah nampak menatap langit tinggi dari balkon kamarnya.


" tuan..semua sudah siap " seorang pria seumuran dirinya mengingatkannya.


" hmmm...sebentar lagi kita berangkat Alex " jawabnya dan di angguki oleh pria yang di panggil Alex itu,


" bagaimana kabarmu...apa kau merindukan aku ?! " bisiknya pelan.


" maaf aku mungkin datang terlambat...." lanjutnya perlahan.


" aku bersumpah akan menemukanmu....sendiri atau tidak, mau atau tidak aku akan tetap membawamu bersamaku "


🌺🌺🌺🌺🌺


Pagi yang cerah bagi seorang Alika...notif pesan di hand phonenya berbunyi.


Tanda pembayaran dari pekerjaan yang baru akan ia kerjakan telah dikirim.


Dan satu lagi pesan dari seseorang di seberang benua sana cukup membuatnya menyunggingkan senyuman. Lucu....pikirnya.


* selamat pagi makmumku....satu doa ku sematkan hari ini, semoga kita bisa segera menjadi halal * satu pesan dari Ohan membuat Alika cukup terhibur. Alika tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan pada Ohan.


Hanya saja ia selalu rilex bicara dan nyaman bersama dengan Ohan. Meski ia tahu ia tak pernah bisa sedekat dulu dengan Ohan karena traumanya.


Alika bersama timnya yang berjumlah lima orang, dua diantaranya laki laki. Dan tiga diantaranya perempuan termasuk dirinya.


Ia telah memakai sarung tangan yang sangat tebal. Ia tidak ingin menanggung resiko hanya karena dirinya yang tidak bisa sekedar bersalaman dengan seorang pria.. kali ini klien yang ia tangani sungguh bukan orang sembarangan, kata pak Rudy mereka dari timur tengah.


Kelima orang itu masuk kedalam privat room dimana meeting akan di laksanakan.


" selamat pagi tuan Rudy...senang bisa bekerjasama lagi dengan anda. Mohon maaf direktur kami sedikit akan terlambat. Maklum beliau langsung dari Jakarta dan bertolak kemari " permintaan maaf seorang pria berpakaian rapi segera terucap.

__ADS_1


" tidak masalah tuan Faritz.." keduanya saling berjabat tangan dan bergantian dengan yang lain, sedang giliran dengan Alika,pria yang di panggil Faritz seolah paham. Dia menangkup kedua tangannya di depan dada.


" akan tetapi jika anda berkenan, anda bisa memulai meeting bersama dengan saya " Faritz kembali menjelaskan.


Pak Rudy selaku atasan Alika menyetujui, sebelumnya mereka memang pernah bekerjasama. Dan juga mereka memulai meeting tanpa adanya direktur Faritz. Boleh di kata, Faritz adalah perwakilan atasannya.


hampir tiga jam telah berlalu, meeting kali ini telah selesai di laksanakan. Kini hidangan telah tersaji dengan lengkap dan berbagai macam.


Sedikit basa basi menghiasi pertemuan kali ini hingga pintu ruang privat room itu terbuka dan menampilkan seorang pria dewasa yang terlihat matang di usianya juga ketampanan khas pria Timur Tengah. Di belakangnya dua orang berjaz hitam turut mengekor.


Seketika Alika merasakan darahnya seakan berhenti mengalir, tubuhnya tercekat. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia meremat jari jemari tangannya sendiri.


Entah mengapa kini merasa tubuhnya sangat kelu, seakan tak ada tulang sebagai penyanggah tubuhnya.


Pria itu masuk dan melangkah kearah meja mereka, bersalaman dengan atasan Alika.


" selamat datang tuan Kahfi..bagaimana kabar anda sekarang, lama kita tak berjumpa " sapa pak Rudy sembari mengulurkan tangannya.


" seperti yang kau li...hat...aku...baik....baik....saja " kata kata pria tampan dengan wajah dingin yang mendominasi itu seakan terjeda jeda ketika matanya bertemu dengan mata Alika. Tangannya tetap memyambut uluran tangan pak Rydy.


Namun perhatian dan matanya menatap nanar Malayka Khumaira Rasyid.


" mari tuan Kahfi...." sapaan pak Rudy atasan Alika sedikit mengalihkan tatapan pria itu dari Alika.


Kini mereka tengah duduk di kursi masing masing dan mulai menikmati hidangan yang tersaji. Sementara Alika mati matian menenangkan dirinya yang sudah gemetaran.


Kenapa ia bodoh sekali, bagaimana ia tidak tahu latar belakang kliennya. Ceroboh sekali dia. Monolog Alika.


" tuan Kahfi...tentu saja, Itu dia....Zaidan Almeer Al Kahfi. Oh Tuhan...apa yang harus aku lakukan " otak Alika terus berputar, ia tak konsentrasi dengan piringnya hingga seseorang meletakkan sesuatu dipiringnya.


Alika reflek menoleh kearah sang pemberi makanan, dia adalah David teman seprofesinya yang duduk berjarak satu bangku darinya.


David duduk di sebelah Erika yang notabene duduk di sisi Alika. Senyum tersungging di bibir David untuk Alika. Tanpa menyadari tindakannya menyulut reaksi di depannya sana.


Alika mengangguk dan tersenyum simpul, namun ketika ia sedikit mendongak kembali jantungnya terasa copot ketika sepasang mata tajam mengarah dengan tatapan menghunus kepadanya.


" uhuk...uhuk...!! " seketika wanita cantik itu terbatuk, dan lagi lagi David dengan cepat mengulurkan gelasnya yang berisi air putih kepada Alika.


Namun segera gelas itu di raih oleh pria tampan bermata tajam di depan sana membuat seisi ruangan terbengong melihatnya.

__ADS_1


Dengan tenang pria itu menyodorkan gelasnya sendiri dan meletakkan gelas David kembali di hadapan David membuat pria itu tercengang.


" minum...! " perintahnya pada Alika ketika gadis itu tak kunjung meminumnya.


" terimakasih....tapi maaf saya punya sendiri " jawab Alika sembari hendak mengambil gelasnya sendiri namun gelasnya justru di ambil dengan cepat oleh pria yang di panggil tuan Kahfi itu, dan kemudian pria itu menenggaknya hingga habis.


Sekali lagi tindakan tuan Kahfi menarik perhatian orang orang di sana. Mereka sampai melototkan matanya tak percaya.


Begitupun dengan Faritz, asisten pribadi tuan Kahfi itu tampak terkejut dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Berkali kali ia menatap kearah Alika dan Atasannya itu.


Alika yang terus menunduk seakan menyembunyikan wajahnya. Sedangkan atasannya terus menatap tak berkedip wanita itu.


Faritz sedikit mengerutkan keningnya kala menatap Alika, ia seakan tak asing dengan wajah wanita itu. Tapi di mana ia melihatnya.


" minum..." perintah tuan Kahfi lagi.


" atau kau..." kata kata tuan Kahfi tak berlanjut karena Alika yang segera bereaksi.


" terimakasih..." kata Alika sembari meraih gelas pemberian tuan Kahfi dan menenggaknya dengan cepat.


Mereka kembali melanjutkan aktifitas makan mereka hingga kembali tuan Kahfi yang tak lain adalah Zaidan Almeer Al Kahfi meletakkan satu daging di piring Alika yang jaraknya sebenarnya lumaya jauh di hadapannya.


" makanlah...aku tidak suka kau yang terlihat kurus sangat kurus " kata Zain tanpa basa basi dan kembali menarik perhatian banyak orang di sana.


Alika yang diperlakukan seperti itu mendongak, ia menoleh ke kanan dan ke kiri kearah para rekan kerjanya dengan wajah canggungnya.


" makanlah..." perintah Zaidan lagi hendak menambahkan sesuatu lagi ke piring Alika, namun segera di cegah oleh Alika.


" tidak perlu tuan...terimakasih, saya bisa mengambilnya sendiri " kata Alika membuat pria itu menatapnya tajam sekali.


Dan sungguh adegan itu membuat mereka yang ada di sana penuh tanda tanya.


Alika keluar dari taksi yang ia tumpangi ketika hari menjelang petang.


Tadi ia berhasil meminta pamit keluar dengan alasan ke kamar mandi, dan selanjutnya ia mengirim pesan kepada atasannya untuk izin pulang terlebih dulu karena alasan sakit.


Dengan langkah cepat dan tergopoh gopoh, gadis itu hendak segera menutup pintu setelah masuk kedalam rumah. Namun tiba tiba ada yang mencegahnya menutup pintu.

__ADS_1


" kau...." Alika terperangah dan terkejut bukan main.


__ADS_2