Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 45


__ADS_3

Alika dan Zain juga Alex nampak tengah mengadakan meeting penting di perusahaan. Kolaborasi antara Zaidan dan Alika nampak sangat cocok dan memukau.


Dengan cepat Alika mampu mengimbangi keahlian sang suami. Jam terbang Alika di dunia konsultan keuangan sangat membantu Zain meningkatkan prospek perusahaan yang ketika baru ia pegang dulu telah berada di ambang kehancuran.


Kebangkitan perusahaan ini juga menjadi salah satu syarat di izinkannya Zain menikahi Malayka Khumaira Rasyid.


Seperti saat ini, wanita itu nampak sedang mempresentasikan rencana kedepan perusahaannya kepada calon para pemegang saham.


Setelahnya, Zain membagi tugas mereka. Dirinya dan Alika meyakinkan para calon investor sementara Alex di minta Zain untuk menghandle calon konsumen mereka.


" biarkan aku bersama pak Alex, mungkin anda bisa bersama..." Alika belum sempat menyelesaikan kata katanya Zain telah menatapnya dengan sangat tajam.


Alex menunduk menahan senyum.


Akhirnya disinilah sekarang Alika dan Zain. Duduk berhadapan dengan beberapa orang di sebuah restaurant berbintang.


" bagaimana kabar anda tuan muda Zain..." sapa salah satu dari mereka kemudian mereka nampak bersalaman dan saling berpelukan.


" dia...?!! " tanya seseorang kepada Alika


" dia...." Zain sejenak kebingungan untuk menjelaskan.


" selamat siang...saya Malayka Khumaira Rasyid, asistan pribadi tuan muda Zaidan " Alika memperkenalkan diri dengan menangkup kedua tangannya di depan dada. Kini ia berdiri di belakang Zain.


" ah iya iya.....saya paham sekarang, saya kira tadi anda nona Nadira...maaf maaf " kata rekan bisnis Zain itu sambil menarik kembali tangannya.


" seharusnya saya sadari lebih awal....anda berbeda dari nona Nadira " lanjut pria itu sambil memperhatikan Alika yang separuh wajahnya tertutup cadar.


" tidak apa apa tuan..." jawab Alika sopan sembari menganggukan kepalanya sesaat.


Zain memang meminta Alika memakai cadar ketika bekerja, atau ketika mereka sedang berada di luar rah seperti saat ini.


Pria asing bernama Ameer itu nampak sangat terpesona pada Alika. Tak jarang ia terus mencuri curi pandang pada Alika dan Zain sadar itu.


Andai ia tak membutuhkan banyak investor untuk membangun perusahaannya, sudah pasti ia akan menghajar pria bernama Ameer itu. Zain sedikit menarik kursi Alika agar lebih dekat padanya.


Tak berapa lama mereka nampak terlibat pembicaraan yang serius.


" saya sangat suka dengan gaya asistan pribadi anda ini tuan muda Zain...project yang perusahaan anda rencanakan di sampaikan dengan baik olehnya....kami suka, sangat suka..." puji Ameer sembari tak lepas menatap Alika.


" terimakasih tuan..." jawab Alika sambil menundukkan kepalanya.


Zain menatap tak suka kepada Amir yang lebih terkesan memperhatikan Alika.

__ADS_1


" baiklah..saya akan menanamkan uang saya sebesar yang anda sebutkan tadi dengan syarat...nona Malayka yang menjadi konsultan kuangan anda...saya sangat suka dengan kinerja nona Malayka..." sekali lagi Ameer memuji Alika setinggi langit.


Kesepakatan telah di capai, kini saatnya mereka menikmati makan siang bersama.


Alika nampak membuka smart phonenya dan membaca pesan yang baru di terimanya.


( kembalilah dulu ke kantor...pak Boris menunggu di basemant ) satu pesan terkirim dari Zain.


Tanpa banyak tanya apalagi hendak membalas pesan, Alika segera berdiri dan mohon diri.


" mohon maaf presdir...saya akan kembali ke kantor lebih dulu " pamit Alika kepada Zain dan Zain segera mengangguk.


Alika hendak melangkah ketika suara Ameer menghentikan langkahnya.


" nona Malayka..." panggil Ameer


" ya tuan..."


" semoga suatu hari nanti kita bisa lebih mengenal " kata Ameer sembari berdiri dari duduknya. Zain nampak terkesiap melihat tindakan orang itu.


Alika mengangguk hormat.


" terimakasih tuan..., permisi saya harus kembali ke kantor sekarang " jawab Alika dan dengan cepat ia segera berlalu dari tempat itu. Ia khawatir Ameer mendekat kepadanya.


" entah kapan aku bisa menemukan wanita seperti asistan anda itu tuan muda Zain..."


Zain diam tak menjawab.


Alika nampak turun dari mobil dan mulai memasuki gedung perkantoran Zaidan.


" nona Alika..." sapa Cintya sekretaris Zaidan


" iya mbak..." jawab Alika


" ada tamu untuk anda "


" untuk saya..?! " Alika menunjuk dirinya sendiri.


" iya mbak..." Cintya mengiyakan.


Segera Alika masuk dan saat itu juga darahnya terasa berdesir.


Tuan besar Zaidan telah duduk di kursi Zain dengan menatapnya tajam.

__ADS_1


" kemarilah..." pinta orang tua itu kepada Alika. Alika mendekat dan berdiri di hadapan tuan besar Zain dan hanya berjarak dengan meja kerja Zain.


" apa kau sudah mengambil keputusan ?! " tanyanya langsung kepada Alika. Sejenak Alika terdiam membisu namum kemudian dengan lugas dia menjawab.


" ya..." jawab Alika


" apa keputusanmu ?! "


" pergi..." sekali lagi Alika menjawab dengan tegas. Tadi di pertemuannya bersama Zain dengan rekan bisnis mereka, ia merasa Zain memang tak ingin mengakui dirinya.


Memalukan mungkin memang bagi seorang terpandang seperti Zaidan Almeer Al Kahfi memiliki seorang wanita kedua setelah istri pertamanya....


Kenyataan yang benar benar menampar Alika.


" bagus..sudah ku duga, kau memang gadis pintar. Lalu berapa yang kau minta..."


" tidak ada...tapi ada satu permintaan saya...." kata Alika lagi.


" anda pasti tahu dari mana aku berasal...lindungi mereka dari apapun maka aku berjanji anda atau cucu anda tidak akan pernah lagi melihat saya " terang Alika dengan wajah tegak menatap tuan besar Zain.


" kau memang sangat menakjubkan nona...." kata tuan besar Zain.


" sejak awal saya tidak pernah menyukai cucu anda, dia yang memaksakan dirinya kepada saya...pergi adalah keinginan saya sejak awal " kata Alika dengan tegas.


" cklek..." tiba tiba pintu terbuka dengan kasar dan menampilkan sosok Zain yang masuk kedalam ruangan itu dengan wajah merah padam.


" berani kau melakukan itu...maka aku pastikan aku akan membunuhmu " ancam Zain pada Alika.


Alika berbalik kepada Zain.


" silahkan tuan muda...sekarang pun jika anda ingin melakukannya saya dengan senang hati menerimanya " tantang Alika, sekali lagi Zain menatap penuh kemarahan pada Alika.


" tuan besar...saya akan melakukan yang anda inginkan, jadi berjanjilah anda juga akan melakukan yang saya inginkan " kata Alika sembari menoleh kearah Tuan besar Zain.


" Malayka...." Zain berterik sangat keras pada Alika.


Tak menggubris teriakan Zain, Alika sudah hendak berlalu dari sana.


" aku bersumpah kakek, jika gadis ini berani melakukan yang kau minta. Maka detik itu juga kau akan lihat diriku ini berkalang tanah "


Kata kata Zain sukses membuat Alika menghentikan langkahnya. Entah mengapa membayangkan Zain terluka cukup membuat hatinya sakit.


Tuan besar Zain tiba tiba menatap miris cucu kesayangannya itu. Tak pernah sekalipun ia melihat Zaidan serapuh dan seputus asa itu.

__ADS_1


" tetap bersamaku...atau kau akan benar benar menyesal Malayka..." Kata kata Zain kembali terucap kemudian ia menyeret tangan Alika dengan kasar. Keluar dari ruangan itu.


__ADS_2