
Zain terus menatap tajam kearah pria tua di hadapannya itu yang nampak asyik menyuap makanan di hadapannya dengan sibuk minta ini dan itu kepada Alika.
Ya...kini mereka tengah berada di meja makan, Tuan besar Zain meminta Alika duduk tak jauh dari sisinya.
Meski ia meminta orang lain untuk mendekatkan makanan yang ia inginkan.
Tapi untuk meletakkan di piringnya, ia meminta Alika yang melakukannya.
jadilah ia makan dengan di temani oleh Alika seperti hari hari sebelumnya sebelum Zaidan datang.
Sementara Zaidan, pria tampan berhidung mancung dan sedikit berjambang itu kini, masih tampak mendiamkan saja makanan di hadapannya, matanya tak lepas menatap sang kakek.
" sayang ...aku juga lapar " kata Zain kemudian dengan wajah memelas kepada Alika.
" makan itu....makanlah, kenapa tak kau makan...apa dengan bilang seperti itu kau akan kenyang hah...
Makanlah..." kata tuan besar sambil melotot kepada Zain.
Wajah Zain berubah menjadi masam, umi Khasanah dia seribu bahasa dan menunduk melihat adegan itu.
" kenapa melotot begitu...kalau kau lapar maka makanlah makananmu, kenapa melihat kesini...apa kau mau makan dia " sekali lagi tuan besar berkata dengan suara naik satu oktaf satu kali kepada Zaidan sambil jarinya menunjuk Alika, dan lagi lagi pria tampan itu tak mampu berkata apa apa.
" kamu...makan yang banyak...ayo " kini giliran ia mengisi piring Alika dengan makanan setelah ia sendiri telah menyelesaikan makanannya.
" ayo makanlah..." perintah tuan besar lagi, seperti biasa juga. Tuan besar akan menunggui Alika makan sampai habis.
Sungguh hal itu mengingatkannya pada sang istri dahulu ketika tengah mengandung Osmand dadynya Zaidan juga Almayra saat mengandung Zaidan.
Dulu ia juga selalu menunggui dua wanita itu saat mereka makan hanya untuk memastikan mereka benar benar makan dengan benar.
Dan ia pun merasa lega, kehamilan Alika ini tidak sampai membuat wanita itu sampai tak bisa makan.
Alika bisa makan apapun, hanya saja ia semakin terlihat kurus dan pucat.
Itulah yang membuat tuan besar khawatir dan lebih memilih sering menemani Alika dari pada Nadira.
__ADS_1
" iya tuan besar...tapi..." jawab Alika tak enak hati, kemaren kemaren dirinya memang bisa makan begitu saja karena tidak ada Zain di hadapannya.
Tapi sekarang....rasanya ia tak mampu menelan jika melihat sang suami yang menatapnya seperti itu.
Apalagi Zain tak pernah menyuap makanannya sendiri bila ada dia.
Tuan besar Zain menghela nafas berat, kemudian ia nampak membersihkan mulutnya dan berdiri.
" aku sudah selesai..." katanya kemudian berlalu meninggalkan meja makan itu. Sudut bibirnya sedikit melengkung keatas.
Sepeninggal tuan besar Zain, umi Khasanah pun berpamitan karena sudah menyelesaikan makanannya.
Jadi tinggalah Zain dan Alika saja yang ada di meja makan.
Zain segera mengangkat piringnya mendekati sang istri.
" a...." pria itu dengan cepat dan tanpa segan segera membuka mulutnya.
Alika tersenyum lembut, kemudian ia nampak sabar dan telaten menyuapi sang suami dengan tangannya.
Jujur ia sangat merindukan moment ini selama ini.... menyuapi Zain makan.
Ia sering kali tersiksa saat makan jika ingat Zain selalu makan dengan suapannya setiap kali ada dirinya.
Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.
Sepasang suami istri yang nampak akur dan mesra. Setidaknya gambaran seperti itulah yang dapat terbaca dari Zain dan Alika.
Zain nampak membimbing Alika menuju kamarnya setelah menyelesaikan ritual makan mereka.
Interaksi itu tak luput dari pandangan sesorang yang diam diam mengintip mereka bedua dengan sembunyi sembunyi.
Dia adalah tuan besar Zain, melihat cinta di antar dua anak manusia yang terlihat begitu besar..apalagi cinta Zaidan yang nampak begitu lebih kentara..
Tuan besar Zain menyeka air matanya.
__ADS_1
Hal itu mengingatkan dirinya akan cintanya kepada sang istri yang telah berpulang terlebih dahulu sejak hampir enam tahun lalu.
Dirinya juga tipe suami yang sangat bucin kepada sang istri. Hingga ia selalu membawa istrinya kemana saja ia pergi karena kepentingan bisnisnya.
Ia juga merasa sangat bersalah, selama ini ia telah menutup mata dan telinga dari cinta mereka yang besar satu sama lain.
Apalagi jika ia teringat akan kata kata yang ia lontarkan kepada Alika demi memuluskan niatnya untuk memisahkan mereka berdua.
Tuan besar Zain kembali terdengar menghela nafas.
Pernah ia berada dalam di lema, ia terjebak dalam permainannya sendiri.
Antara Nadira dan Alika.
Jujur ia sangat menyayangi dan sangat mengharapkan Nadira sebagai cucu menantunya.
Namun melihat ketulusan hati seorang Alika berbagi bahkan bersedia mengalah demi kehormatan Zaidan hatinya tercubit dan bagai teriris sembilu.
Ia terasa tertampar.
" tuan besar..." seseorang membuyarkan lamunannya.
" hmmm....." jawabnya kemudian sambil menyusut diam diam air mata di sudut matanya.
" semua sudah siap..." Mycle memberi laporan sambil menunduk.
Ia merasa enggan melihat pria tua yang nampak selalu tegas itu terlihat menyusut air matanya.
Mycle sudah pasti tahu benar dengan penyesalan sang tuan besar, karena selama ini...dirinyalah yang di perintahkan untuk mencari informasi tentang Alika.
" semua sudah siap tuan besar..." lanjut Maycle.
" baiklah....apa kau sudah mengurus segalanya tentang perceraian keduanya ?! " tanya tuan besar Zain memastikan.
" ya...tuan besar " jawab Maycle lagi.
__ADS_1
" bagus kalau begitu, ayo...kita pergi " kata tuan besar Zain sambil berlalu meninggalkan tempat itu.