
Zain dan Alika masih berada di dalam mobil, dengan Alika yang menatap penuh tanya kepada pria pemaksa itu.
Flass on
Alika sedang duduk di bangku depan kelas mereka yang menghadap kearah taman kelas bersama Amreeta
" aku tuh pengen punya rumah di desa yang ada kebunnya anggur gitu lho Al....terus tiap hari kita jalan jalan di bawah pohon anggur...ihhhh seneng gak Al "
" tiap hari...kita...maksudnya kamu ?! " tanya Alika bingung.
" he he...siapa tahu kamu jodohnya kakak aku, secara kakak aku kan suka sama kamu he he..." Amreeta tertawa tanpa ia tahu ada seseorang di belakangnya yang mengepalkan tangannya erat erat demi mendengar kata katanya.
Alika menggeleng gelengkan kepalanya..
" kalau kamu ?!" tanya Amreeta, Alika memiringkan bibir dan kepalanya serta menuding pelipisnya sendiri dengan jari telunjuknya
" aku tuh pingin punya rumah besar lantai dua yang di desain kayak rumah kaca minimalis yang keliatan banget perabot di dalemnya gitu lo Reet...biar tamu tamu aku kesannya wellcame gitu akunya, terus aku juga pingin liat anak anak aku bermain sambil aku bersih bersih rumah ha ha haa...menghayal emang paling nikmat banget ya... Terus pas kalo suami aku dateng aku juga bisa langsung tahu dan nyambut dia gitu ha ha ha...halu...." jawab Alika tertawa lebar, wajahnya tampak bersinar. Namun sejurus kemudian ia nampak kehilangan senyumnya
" ada apa ?! " tanya Amreeta sedikit kaget dengan perubahan di wajah Alika.
" nggak deh ah...kasian suami aku nantinya kalau aku pengen yang aneh aneh, takut nanti suami aku kebebanan....macam aku putri aja minta rumah yang semewah begitu " jawab Alika.
" mana ada...mau yang jadi suami kamu nanti kakak aku apa Ohan, mereka gak akan kesulitan kok buat wujudin keinginan kamu...." jawab Amreeta pede membuat laki laki di belakangnya kian meradang.
" ye.....sok tahu, ya kalau Ohan dan kakak kamu mau sama aku..." jawab Alika mencebikkan bibirnya.
" ya jelas maulah...kita lihat, setelah kamu lulus nanti, aku pastikan dua orang itu bakal gercep ngelamar kamu "
" sok tahu....emang secantik apa aku ini sampai sampai kamu sepede itu ngomong kayak gitu " oceh Alika di sambut tawa Amreeta.
Flass off
" jadi...?! " Zain mengangkat satu alisnya mempertanyakan arti tatapan Alika padanya.
" Amreeta yang memberitahumu ?! " tanya Alika penuh selidik.
" apa mungkin dia memberitahuku ?! " tanya Zain balik.
Alika memutar pandangannya jengah.
" dasar penguntit..." omel Alika setelah menyadari bagaimana caranya Zain bisa tahu keinginannya tentang sebuah rumah impiannya, dan di sambut tawa lebar Zain.
" ayo turun..." ajak Zain kemudian
__ADS_1
" tunggu...." Alika menahan
" apa bik Sumi dan bik Anti ada di rumah itu juga ?! " tanya Alika
" apa kau ingin mereka juga di sini ?! "
Alika mengangguk tanpa melihat kearah Zain.
" kau senang dengan kerja mereka ?! " tanya Zain lagi. Dan lagi lagi Alika mengangguk.
Zain tersenyum lepas, ia merasa bangga sekali bisa membuat orang pilihannya cocok dengan Alika.
" kalau begitu beri aku satu hadiah nya dulu..." pinta Zain, ia sengaja agar Alika mau lebih banyak bicara padanya.
" hadiah ?! " beo Alika
" hmm..." Zain mendehem sebagai jawaban.
Alika mengerutkan keningnya. Ia tahu...pasti yang di maksud Zain hadiah adalah satu hal yang tidak akan jauh jauh dari urusan ************.
" aku masih belum bisa.." jawab Alika kemudian dengan wajah jengkel
" belum bisa apa ?! " tanya Zain bingung
" aw..." Alika memegangi keningnya yang di sentil Zain.
" mesum kamu ya...."
" cup....sudah ayo turun " ajak Zain setelah menyentil kening Alika dan mencuri ciuman di bibirnya.
Alika mencebik menaham malu, kok bisa bisanya ia berpikir itu....malunya Alika.
Alika menatap takjub bangunan rumah berlantai dua itu. Apalagi isi di dalamnya...
" apa menurutmu...laki laki yang menjadi suamimu sekarang akan merasa kesulitan mewujudkan keinginanmu ?! " bisik Zain di telinga Alika. Alika hanya diam tak memberi jawaban.
Sampai di dalam Bik Sumi dan bik Anti segera menyambutnya.
" nona sudah sampai ? Alhamdulillah..." kata bik Anti dengan mendapat pelukan dari Alika. Awalnya ia merasa sungkan tapi Alika tetap tidak mengurungkan niatnya memeluk bik Anti yang rasanya sudah sangat lama tidak ia temui.
" sudah bik...bik Anti apa kabar, aku kangen " kata Alika.
" saya baik non asal non juga baik baik saja...ya kan bik Sumi " jawab Bi Anti yang di iyakan ole bik sumi
__ADS_1
" ayo kamu istirahat dulu, ngobrolnya nanti aja di sambung lagi...." kata Zain sembari memegangi kedua bahu Alika.
" bik aku ke mamar dulu ya " pamit Alika kepada bik Sumi dan bik Anti.
" ah iya nona silahkan..." jawab bik Sumi dan bik Anti hampir bersamaan.
" semoga Tuhan segera membuka pintu hati nona Alika agar mau menerima tuan muda..." kata bik Sumi sepeninggal Alika dan Zain.
" iya..kasian tuan muda Zain kalau di tinggal nona " bik Anti menimpali.
" bisa bisa dia menggila seperti dulu, dan buntutnya...tuan besar akan membawanya kembali ke Mesir " lanjut bik Anti
" iya...tak pernah kuduga, tuan muda Zain yang sangat dingin itu akan tunduk di hadapan seorang wanita " lagi lagi bik Sumi mengamini kata kata bik Anti.
Kedua wanita paruh baya itu memang menjadi salah satu saksi bagaimana gilanya seorang Zain Almeer Al Kahfi kehilangan Seorang Malayka Khumaira Rasyid.
💦
Hari telah gelap ketika Alika duduk di sisi pembaringan sementara Zain di sofa yang letaknya berseberangan dengan pembaringan tempat Alika duduk.
" sungguh kau ingin pergi dariku ?! " tanya Zain pada Alika yang menunduk.
" hmm.." jawab Alika, entah mengapa ada sesuatu yang memberatkan hatinya untuk menjawab pertanyaan Zain lebih jelas.
" kau akan bersama Ohan jika pergi dariku ?! " tanya Zain lagi.
" entahlah..." jawab Alika singkat dan masih enggan menatap Zain.
Zain berdiri dan melangkah maju kearah Alika, di hadapan Alika ia duduk bersimpuh.
Kedua tangannya ia letakkan di pangkuan Alika, matanya berkaca kaca.
Ada yang terasa nyeri di hati Alika melihat itu, di matanya Zain terlihat sedikit kurus dan pucat. Alika mengerutkan keningnya.
Dia pikir ia melihat Zain lebih kurus karena efek lama tak bertemu, tapi ia telah semalaman bersama pria itu. Tapi tetap saja ia melihat Zain memang lebih kurus dan...pucat.
Ingin ia mengelus wajah itu, mengusap rambut itu dan bertanya
" ada apa denganmu...apa kau sakit...kenapa lebih kurusan sekarang ?! " tapi kata kata itu hanya sampai di tenggorokannya saja, gerakan tangannya hanya sampai pada angan angannya saja.
Bayang bayang pemaksaan yang di lakukan Zain padanya berputar dengan jelas di kepalanya. Kata demi kata yang Ricko lontarkan terpatri jelas di hatinya.
Dan lebih sakitnya lagi...pria ini menjadikan dirinya seorang wanita kedua. Seorang yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab besar kepada pria itu namun pantang untuk di ketahui keberadaannya oleh siapapun, bahkan mungkin keluarganya sekalipun
__ADS_1
Miris sekali memang takdirnya....