
Zain menatap lembut dan penuh sayang wajah Alika yang terpejam di dadanya. Ia tarik selimut hingga leher wanita yang mati matian ia perjuangkan cintanya itu.
Zain perlahan memejamkan mata sejenak, ingatannya melayang kepada beberapa jam yang lalu.
Flass on
Nadira duduk di sisi tempat tidur sementara Zain duduk di sofa.
" mari kita bicara dengan benar Nadira...." Zain memulai perbincangan di antara keduanya. Tadi setelah ia memutuskan pulang ke mansion, tuan besar memintanya menemaninya bermain golf.
Bersama Nadira dan dirinya juga, tuan besar Zain memperkenalkan keduanya kepada teman teman bermain golfnya yang sekaligus juga rekan rekan bisnisnya.
Zain menghela nafas kecewa akan tindakan sang kakek.
Setelah makan malam tadi, Zain dan Nadira naik menuju kamar keduanya
" ya...aku mendengarkan " jawab Nadira dengan tenang.
" kita berdua sudah pernah membicarakannya sebelumnya bukan ?! " Zain mengingatkan akan kesepakatan keduanya sebelum pernikahan mereka.
Tak ada hati di antara keduanya, pernikahan ini hanyalah kesepakatan bisnis. Dan tidak lebih.
" aku berubah pikiran....aku ingin menjalani pernikahan ini dengan benar " jawab Nadira masih dengan wajah tenang.
Zain menatap wanita di hadapannya itu, keningnya mengerut.
" apa yang membuatmu berubah ?! " tanya Zain lagi penuh selidik
" cinta....aku jatuh cinta kepadamu, dan aku rasa itu tidak salah.... Aku jatuh cinta kepada suamiku sendiri " Nadira masih berbicar dengan tenang.
" maafkan aku Nadira...aku tidak bisa menerima kebaikan mu itu. Aku selalu menganggapmu sebagai saudaraku...tidak lebih " Zain mencoba memberikan pengertian.
" kau belum mencobanya Zain....cobalah melihatku, beri aku kesempatan. Aku akan membuatmu melupakan wanita itu " Pinta Nadira
" Malayka....namanya Malayka..." terang Zain sedikit menahan geram. Ia tak suka cara Nadira bicara tentang Alika.
Nadira hanya tersenyum tipis dan dingin.
" terserah...aku tidak ada urusan dengannya. Urusanku hanya denganmu.." jawab Nadira datar.
Zain menatap kearah lain.
Jalannya akan semakin sulit.
" ingatlah Zain...perpisahan diantara kita akan berdampak buruk pada bisnis keluarga kita.
__ADS_1
Aku yakin kau cukup bertanggung jawab untuk menjatuhkan pilihanmu " Nadira seakan tak mampu lagi menyembunyikan luka di hatinya.
" maafkan aku Nadira...sejak awal kau sudah tahu, aku bahkan tak lagi memiliki hatiku sendiri. Pernikahan ini aku terima semata mata karena dia. Tak ada yang aku sembunyikan sedikitpun darimu..." Zain juga tak lagi mampu menahan gelisah di hatinya.
Harus ia perjelas lagi, dimana kedudukan wanita ini di hatinya dan di mana kedudukan Malayka di hatinya.
" kau tahu apa yang akan bisa keluargaku lakukan kepada wanita itu..." Nadira mulai gelap mata, ia mengancam Zain.
Wajah Zain seketika merah padam. Ia bangkit dari duduknya.
" jangan berani menyentuhnya jika kau tidak ingin tahu diriku yang tak pernah kau ketahui....aku bukan pria sebaik yang kau kira... " Zain berbalik mengancam. Tatapan matanya tajam seakan hendak menguliti Nadira.
" andai kau tahu.....bagaimana dia bersedia berbagi diriku denganmu....jangan kau buat aku membandingkan dirimu dengannya. Percayalah aku bukan yang terbaik untukmu " Zain kembali melanjutkan kata katanya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kamar itu.
Meninggalkan Nadira yang masih duduk termangu di tempatnya semula.
π¦
Zain masih bergelung di bawah selimut sembari terus memeluk dan mengecup wajah lembut Alika.
Tadi selepas subuh, Zain kembali membawa Alika untuk bermalas malasan karena mereka yang hampir semalaman tak tidur.
" aku ingin membawamu kesuatu tempat..." kata Zain sambil menyibak rambut Alika
" kemana ?! "
" janji apa ?! " tanya Alika
" jangan pergi sebelum pertandingan selesai seperti waktu itu. Aku mati matian berjuang memasukkan bola kedalam gawang hanya untukmu...tapi kau malah pergi begitu saja dariku " kata Zain lagi dengan wajah menyedihkan.
" maaf...aku sudah salah paham padamu " kata Alika merasa bersalah.
" sepertinya kau selalu salah paham padaku selama ini...kau tidak pernah menilai baik diriku " sekali lagi Zain berkata dengan memasang wajah kacau.
Alika mencebik kan bibirnya.
" jangan salahkan aku...kau yang tidak pernah menggunkan cara baik baik kepadaku "
" kalau aku menggunakan cara baik baik, sudah pasti hari ini tidak akan pernah datang kepadaku Maly. Yang ada...mungkin saat ini kau berada dalam pelukan Ohan, sementara aku...aku akan menjadi pria paling menyedihkan. Atau bahkan mungkin aku akan menjadi pria yang di benci keluargaku sendiri karena aku yang memutuskan menjadi seorang pebinor " cibir Zain pada dirinya sendiri.
" Zainnnn..." Alika menutup bibir Zain dengan jemarinya.
" kau menghajar Ohan habis habisan....?! " tanya Alika kemudian.
" ya...aku pikir hanya dia orang yang akan mampu membuatmu pergi dariku. Andai ku tahu ternyata Ricko biang keladinga....aku pastikan akan membunuhnya waktu itu " Zain sangat geram.
__ADS_1
" tapi aku tak menyesal pernah menghajar Ohan, itu kuanggap sebagai balasan karena dia sudah berani berusaha memilikimu " tambahn Zain lagi
" Zain..kendalikan emosimu, apa kau tahu....kau bermasalah dengan emosimu " kata Alika mengusap lembut wajah Zain.
Zain menghembuskan nafasnya untuk menenangkan hatinya.
Ya...selama ini ia memang kesulitan mengendalikan emosinya sendiri.
Sementara tentang Ricko, Ia sedikit lega.... setidaknya ia sudah memberi pelajaran kepada Ricko dengan mengguncang bisnisnya beberapa waktu yang lalu.
βββββAlika baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian lengkap sementara Zain duduk di sofa dengan memangku laptopnya dan telah berpakaian rapi.
" tok tok tok " pintu kamar di ketuk.
" ya bik...oh, sarapan, kenapa di bawa kemari " Alika segera menerima nampan berisi sarapan yang di bawa bik Sumi.
" tuan muda yang meminta nona..." jawab bik Sumi sembari tersenyum.
" baiklah bik...terimakasih " jawab Alika.
Bik Sumi tersenyum dan segera berlalu dari sana. Dalam hati ia berdoa semoga pasangan itu selalu bahagia.
Alika membawa nampan itu masuk. Zain dengan manja minta di suapi oleh Alika.
Menggeleng gelengkan kepalanya, tak urung Alika pun menyuapi bayi besarnya itu dengan lembut.
Sungguh seorang pria yang telah mampu meraih hati seorang wanita, maka pasti ia akan di rajakan oleh seorang wanita dengan sepenuh hati.
Itulah yang kini di rasakan oleh seorang Zaidan.
Ia benar benar dapat merasakan kasih dan sayang Alika yang begitu besar kepadanya.
" Zain...jangan ikut bertanding, kita melihat saja..." kata Alika di sela sela suapannya kepada Zain.
Zain yang duduk sembari bergelayut di perutnya mendongak kepada Alika
" kenapa...aku ingin kau melihat betapa aku sangat handal memasukkan bola kedalam keranjang "
" aku percaya...kau handa melakukannya tapi saat ini punggungmu sedang bermasalah "
" tidak apa apa sayang...itu bukan masalah bagiku " elak Zain.
" dengar Zain...kita hanya melihat saja atau tidak usah keluar sama sekalk....kita di rumah saja.
Pada Akhirnya Zain menuruti permintaan Alika.
__ADS_1
Tersenyum manis keduanya melanjutkan sarapannya.