
Di sebuah rumah mewah berlantai tiga, yang terletak jauh dari perkotaan...atau tepatnya di tengah tengah perumahan warga,
Di sebuah kamar yang ada di lantai tiga rumah itu. Nampak seorang wanita cantik tengah menatap pemandangan sawah yang menghampar berwarna hijau dan kekuningan di bawah sana.
Kedua tangannya bersedekap di depan dadanya.
Di matanya....padi di persawahan itu sungguh bagai karpet alam yang sengaja di bentangkan oleh sang pincipta untuk dapat di nikmati oleh hambanya yang paling Ia sayangi yakni manusia.
" cklek...." pintu terbuka, nampaklah pria tampan berwajah asing masuk sambil membawa nampan berisi makanan.
Wanita itu menoleh sesaat, namun kembali melempar pandangannya kembali ke luar jendela.
flass on
Tiga bulan setelah perpisahannya dengan Zaidan, Nadira memutuskan akan kembali ke Yordania. Mengikuti kakak sepupunya yang memang telah membangun bisnisnya di sana.
Namun sebelum itu, ia harus melepaskana semua tanggung jawab yang terbeban di bahunya.
Proyek yang ia kerjakan bersama Barnard Construction akan rampung sebulan lagi, tapi Nadira sudah tidak sabar untuk segera pergi meninggalkan negara penuh luka baginya itu.
Ia meminta sang ayah untuk melanjutkan kembali proyek yang ia pegang, dan tuan Ibrahim menyetujuinya.
Pengalihan tanggung jawab sudah di setujui, namun tanpa sepengetahuan Nadira...ada satu sosok pria yang tidak rela akan kepergiannya.
Dia adalah Ricko Aroon Barnard. Diam diam pria itu telah menyimpan perasaan yang begitu dalam kepada mantan istri pertama Zaidan Almeer Al Kahfi itu.
Ia berusaha untuk berbicara baik baik dengan wanita itu, namun selalu gagal untuk bertemu.
Ia sangat tahu tentang perpisahan kedua orang itu. Itulah sebabnya ia berani mati matian mengejar Nadira.
Tapi sayanga.... Nadira sekan memang sengaja menghindarinya. Hingga akhirnya Ricko mengambil keputusan untuk menguntit wanita itu.
Kedua orang tuanya telah kembali ke Pakistan, begitupun dengan kedua kakaknya. Abdullah dan Zubair.
Hari itu ia bersama asistannya terus memantau keberadaan Nadira di mansion orang tuanya itu.
Nadira benar benar memutuskan akan pergi jauh. Ia nampak mengetik sesuatu di smart phonenya ketika ia duduk di taksi yang membawanya ke bandara.
Ia memang pamit untuk pergi ke Yordania, namun terakhir...ia memutuskan memindahkan arah tujuannya tanpa sepengetahuan keluarganya. Nadira benar benar ingin sendiri.
__ADS_1
** abi..amma....aku pergi dulu, jangan khawatirkan aku, aku akan baik baik saja...tolong jangan mencariku dulu. Aku hanya ingin menenangkan diriku dulu. Secepatnya aku akan kembali **
satu pesan ia kirim ke no sang ayah dan ibunya, kemudian ia nampak menonaktifkan smart phone miliknya itu.
Tak lama wanita cantik berhijab dan bergamis syar'i itu nampak menyeret kopernya menuju loby bandara.
Nadira sangat serius dengan tujuannya kali ini. Ia tak ingin lagi menoleh kebelakang hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi mengikutinya di belakangnya.
Hampir saja Nadira hendak masuk keloby bandara hingga ia nampak berbelok kearah kamar mandi.
Hampir sepuluh menit Nadira di sana, sampai ia terlihat keluar dari kamar mandi itu.
Belum jauh Nadira melangkah, tiba tiba ia merasa sesuatu menerpa wajahnya. Ia mencoba mengibas wajahnya dengan tangannya. Tapi...tiba tiba ia kehilangan kesadaran.
Namun seorang pria tampan segera meraih tubuh Nadira.
" nona..." seorang petugas bandara berlari hendak menolong.
" tidak apa apa...dia istri saya, dia sedang hamil muda " jelas pria yang kini nampak membopong Nadira.
Petugas bandara itupun percaya begitu saja.
" baik tuan..." jawab pria itu dengan cepat dan cekatan membawa koper Nadira mengikuti langkah lebar Ricko membawa tubuh Nadira keluar area bandara.
" bersihkan semua jejak yang ada..." perintah Ricko lagi dan di angguki oleh Ryski.
" maaf Zain...aku terpaksa megikuti langkahmu, semoga aku juga berhasil sepertimu mendapatkan hatinya..." monolog Ricko dalam hati sembari meminta taksi yang ia sewa membawa mereka meninggalkan bandara.
Ricko sengaja menyewa taksi untuk membawa Nadira pergi dari bandara untuk menyamarkan jejak jejaknya dan Nadiran.
Sebuah pernikahan sederhana Ricko persiapkan, hingga ia berhasil menikahi wanita cantik nona muda keluarga Ibrahim Khan itu.
Kini Nadira Ibrahim Khan resmi menyandang nama Nadira Ricko Barnard.
Flass off
" makanlah..." pinta Ricko kepada Nadira setelah ia meletakkan nampan berisi makanan itu di meja.
Ricko nampak duduk di sisi pembaringan dengan menatap Nadira lekat lekat.
__ADS_1
" letakkan saja..aku akan memakannya nanti " jawab Nadira tanpa melihat kearah Ricko.
Ricko menghembuskan nafas kasar.
Ia berdiri dan melangkah kearah Nadira. Kemudian ia meraih tangan itu dan membawanya kearah sofa.
Tak ia hiraukan penolakan yang Nadira berikan padanya.
Ricko berjanji...dia tidak akan menyerah hanya karena penolakan Nadira padanya.
" apa sebenarnya yang kau inginkan ?! " tanya Nadira dengan tatapan menghunus kepada Ricko.
" kau ingin menjadi bagian dari keluarga Ibrahim Khan karena bisnismu ?! Memalukan " ejek Nadira pada Ricko.
" aku tak butuh itu...apa yang ku miliki suduh cukup untuk memenuni semua gaya hidupmu " jawab Ricko dengan tenang. Kini ia bersedekap dada di hadapan Nadira.
" lalu... ?! " tanya Nadira dengan masih tatapan tajam dan mengintimidasi.
" dirimu...aku menginginkan dirimu " jawab Ricko sembari maju semakin dekat kepada Nadira, sontak wanita cantik itu reflek melangkah mundur.
" jangan kurang ajar kau..." sentak Nadira
" apanya yang kurag ajar, kau itu istriku...wajar aku
Mendekat kepadamu...kau lupa kita sudah menikah sejak seminggu yang lalu " jawab Ricko dengan menyringai.
Skakmat...Nadira tak berkutik lagi, apalagi kini tak lagi mundur karena telah kakinya talah terantuk tempat tidur.
" jadi....kau pilih yang mana, cepat kau makan ....atau ....kau aku makan " imbuh Ricko semakin mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah Nadira.
Nadira memejamkan matanya rapat rapat, ia dapat merasakan hembusan nafas Ricko di wajahnya.
" aku mau makan...minggir " kata Nadira kemudian, begitu tak merasakan apa apa menyentuh wajahnya Nadira segera membuka matanya dan mendorong tubuh Ricko dari hadapannya.
Nadira melangkah cepat kearah meja di mana Ricko meletakkan makanan yang ia bawa.
Melihat hal itu Ricko tersenyum lebar.
Kena kau....bisik hati Ricko.
__ADS_1