Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 89


__ADS_3

Suara barinton seseorang itu seketika menghentikan langkah Zubair yang hendak menolong tubuh Alika yang tergeletak di tanah.


" tuan besar Zain...." kata Zubair terkejut


" apa yang mau kau lakukan ?! " tuan besar Zain bertanya dengan mata menatap tajam.


" tuan besar....aku tidak punya maksud apa apa sungguh...aku hanya ingin menolongnya, dia pingsan " ucap Zubair setelah ia tahu siapa yang menghentikan langkahnya.


Tuan besar Zain menatap dengan garang kearah Zubair.


" berani kau menyentuhnya sedikit saja...maka aku akan membunuhmu dengan cara yang tak pernah kau bayangkan anak muda, apakah kau tidak sadar....kau yang membuat ia pingsan " bentak tuan besar Zain lagi.


Zubair terdiam membisu. Ya...dia lupa wanita itu tak bisa ia dekati, ah....desahnya dalam hati.


Sementara Desy, Novy dan Atika berusaha mengangkat tubuh Alika.


" kalian bertiga telah lalai...." kembali tuan besar Zain murka kepada tiga orang anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga Alika.


" maaf kan kami tuan besar...kami berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi " jawab Desy sangat merasa bersalah, ia yang tadi bersama Alika...tapi ia justru kecolongan.


" bawa dia kedalam, dan segera hubungi dokter..." perintah tuan besar Zain pada seseorang yang berdiri di sisinya.


" baik tuan...." segera Maycle sang asisten tuan besar Zain bertindak cepat.


Sementara tubuh Alika telah di bawa ke dalam oleh Desy, Novi dan Atika.


" kau.....jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu seperti waktu itu, kau....berurusan denganku pemuda tengik. Dasar kriminal " umpat tuan besar Zain pada Zubair kemudian meninggalkan pria tampan itu begitu saja.


Glekkk....


Zubair seketika memundurkan kepalanya terkejut dengan ancaman pria tua di hadapannya itu. Ia tiba tiba kesulitan menelan ludahnya sendiri


Ia sangat tahu sepak terjang tuan besar Zain Almeer Al Kahfi itu...pria tua itu tak pernah main main dengan kata katanya.


Usianya boleh saja tua, tapi pengaruh dan kekuasaanya sungguh sulit di tandingi.


Sungguh kuku kuku kekuasaannya telah mencengkeram jauh kemana mana.


Dan Zubair...sangat paham itu. Meski ia adalah putra sahabat sang tuan besar bukan berarti dia terbebas dari kekuasaan dan pengaruh tua besar Al Kahfi itu.


" inikah yang dia katakan tidak suka dengan Alika...tidak suka dan tidak merestui...tapi dia panik bukan main melihat Alika pingsan. Cihh....dasar pria tua..." oceh Zubair dalam hati.

__ADS_1


" berhenti mengumpatiku kriminal " teriak tuan besar Zain lagi.


" hah...." Zubair menganga mendengar teriakan tuan besar Zain kepadanya itu.


Dokter Sherly sibuk memeriksa keadaan Alika yang masih belum sadarkan diri.


Hingga hampir setengah jam wanita cantik berambut panjang itu keluar dari kamar Alika.


Ia menghampiri tuan besar Zain yang berdiri bersama beberapa orang di sana diantaranya Zubair dan umi Khasanah.


" bagaimana keadaannya, dia baik baik sajakan, e.


maksudku pastikan dengan benar....atau aku harus membawanya ke rumah sakit ?! " tanya tuan Zain dan dengan kata kata terakhirnya, ia beralih menatap Zubair dengan mendengus.


" tidak tuan besar...selamat, nona muda sedang hamil. Untuk memastikan usia kehamilannya silahkan membawanya ke dokter obgyn..." terang dokter Sherly.


Tuan besar Zain menganga tidak percaya, matanya berkali kali berkedip kedip.


" kalian dengar itu...kalian juga dengarkan....menantuku hamil....menantuku hamil, dia akan memberikan seorang anak pada Zaidan. Dia...." tuan besar Zain segera menghentikan uforia nya, ia yang tadi mendekati satu persatu orang di sana dan mengabarkan kehamilan Alika,


Dengan bibirnya sendiri ia menyebut Alika sebagai menantunya, tiba tiba berhenti begitu saja ketika menyadari tatapan semua orang tertuju kepadanya.


" ekhem...." dia berdehem untuk menetralkan perasaannya sendiri


" tidak ada tuan besar " jawab mereka serempak. orang orang itu segera melempar pandangannya ketempat lain. Tak terkecuali Zubair.


Tiba tiba ia merasa hatinya perih, pupus sudah harapannya. Bunga di hatinya untuk Alika layu sebelum berkembang.


" kenapa dengan wajahmu itu...?! " tanya tuan besar tiba tiba kepada Zubair.


" hah...saya....kenapa ?! " tanya Zubair kebingungan.


" wajahmu sudah seperti pakaian kotor kau tahu ?! " jawab tuan besar Zain.


" jangan kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang kau pikirkan dan apa yang kau rencanakan kriminal....kau ingin mendekati wanita itu kan ?! Jangan mimpi...." cibir tuan besar Zain kepada Zubair membuat pria itu memiringkan bibirnya ke kanan dan kekiri.


" jika besok aku masih melihatmu disini...jangan salahkan aku jika Emerald menjadi milikku..." kata tuan besar Zain lagi pada Zubair.


Seketika wajah pemuda itu tampak pias, matanya melotot kearah tuan besar Zain yang telah melangkah jauh di hadapannya sana.


" Cristian...." panggilnya tiba tiba pada seorang pria yang sejak tadi berdiri di samping pintu.

__ADS_1


Pria dengan langkah lebar segera mendekat kepadanya.


" kita bersiap..." lanjut Zubair kemudian turut berlalu dari tempat itu.


" baik tuan..." jawab Cristian sang asistand pribadi Zubair.


Dengan cepat pria berambut pirang itu mengikuti langkah sang majikan.


Zubair memutuskan untuk pergi saja secepat mungkin. Ia berniat pamit terlebih dahulu kepada Alika sebelum kepergiannya.


Tapi...mengingat ancaman tuan besar Zain tadi, sudah pasti ia tidak akan diizinkan menemui Alika.


" ah.. Zubair....malang benar nasibmu, di tinggal mati calon istrimu..sekarang cintamu justru bertepuk sebelah tangan...." monolog Zubair dalam hati. Selesai berpamitan dengan semua penghuni panti Zubair pun pergi dengan di iringi tatapan mengintimidasi seorang tuan besar Zain Almeer Al Kahfi padanya.


Alika sudah tersadar dari pingsannya, kini ia tampak tengah di suapi umi Khasanah.


" maafkan aku umi...aku hanya merepotkan saja..." kata Alika penuh penyesalan kepada umi Khasanah.


" jangan bicara seperti itu...kau sudah kuanggap putriku sendiri.." jawab umi Khasanah dengan sabar dan telaten terus menyuapi Alika.


" aku kenapa ya umi...entahlah aku tiba tiba merasa sangat lelah dan lemas " rintih Alika


" kamu...." umi Khasanah belum selesai dengan kata katanya, pintu kamar terbuka.


Alika nampak terkejut melihat orang yang datang menghampirinya itu.


" tuan besar...?! " katanya tertahan, ia seakan tak percaya pria tua itu ada di hadapannya.


Entah kenapa, melihat pria tua ini...jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sangat bahagia. Padahal kan orang itu selalu bersikap buruk padanya.


Pikir Alika.


Tuan besar Zain berdiri di sisi Umi Khasanah yang sedang duduk di hadapan Alika.


" makan yang banyak....lihatlah tubuhnya sudah seperti kayu kering saja..." omel tuan besar kepada Alika.


Alika hanya diam tak menjawab, ia memindai tubuhnya sendiri.


" tidak usah bangun....aku tidak mau melihat mu pingsan lagi, habis ini minum obat...." perintah tuan besar begitu melihat Alika hendak bergerak.


Alika menunduk saja.

__ADS_1


" kau bisa makan ?! " tanya tuan besar lagi


" hah...." Alika kebingungan menjawab pertanyann pria tua itu. Pasalnya ia tak tahu apa yang sudah terjadi padanya.


__ADS_2