
Alika menundukkan pandangannya ke lantai, jantungnya berdegup cukup kencang saat ini.
Berhadapan dengan wanita cantik yang dulu hanya bisa ia dengar namanya dan ia lihat dari jauh saja jika datang menyambangi sekolahnya.
Meski ini bukan yang pertama tetap saja membuatnya cukup gemetar dan takut.
Namun demikian...perhatian wanita cantik di hadapannya itu sungguh membuat hatinya berdesir.
Beginikah rasanya di perhatikan seorang ibu....?! Monolognya dalam hati.
" bagaimana keadaanmu..apa tidak ada lagi keluhan paskah keguguran kamu kemaren ?! " tanya Mama Zain dengan lembut.
" alhamdulillah baik nyonya..." jawab Alika
" kenapa masih memangilku nyonya..apakah aku kurang menerimamu ?! " tanya Almayra lagi membuat Alika di buat serba salah.
" tidak nyonya...bukan begitu ...maaf ma..my " Alika menjadi gelagapan karena Almayra yang mengusap lembut punggung tangannya dan menatapnya intens.
" buatlah hatimu nyaman denganku...anggap aku dan dady Zain sebagai orang tuamu, apakah permintaanku terlalu berat untukmu ?? " tanya Alamyra
" tidak...mamy " jawab Alika dengan gugup.
Almayra tersenyum lega.
" terimakasih karena kamu sudah mau memaafkan Zain...dan sungguh, dari dasar hatiku yang paling dalam...aku meminta maaf atas semua yang pernah anak mamy lakukan padamu " kata Almayra dengan tulus.
Alika mengangguk perlahan.
__ADS_1
" terimakasih karena dengan keberadaan kamu di sisinya, kamu sudah menjadikan anak mamy seperti manusia lagi..." lanjut Almayra lagi.
Alika mendongakkan wajahnya kepada Almayra, karena ia sedikit tak paham
" Zain terlihat lebih manusiawi saat kau berada di sisinya sayang....sungguh selama ini Zain seperti robot yang tak berhati. Kaku, sombong dan sangat keras kepala.." Almayra menjelaskan maksud kata katanya kepada Alika.
Dalam hati Alika mengamini kata kata wanita cantik paruh baya itu. Zain dulu memang lebih terlihat seperti robot. Tatapan matanya tak pernah bersahabat, semaunya sendiri...dan wajahnya sangat kaku dan hampir tak pernah ada senyum di bibirnya.
Untung dia mempunyai ketampanan di atas rata rata, dan juga tajir melintir.
" iya mamy..." seuntai kata terucap di bibir Alika.
" persiapkan dirimu....kakek Zain akan segera mencarimu mungkin, apa kau sudah memutuskan pilihanmu seperti yang di minta kakek Zain ?? "
" insya Allah mamy..."
" kami mendukung apapun yang menjadi keputusanmu...tapi satu hal yang harus kau tahu, kakek Zaidan sebenarnya orang baik hanya wataknya saja yang keras dan angkuh..."
" iya mamy..."
" satu hal lagi sayang...mengenai Nadira.." Almayra sebenarnya berat mengatakan ini, tapi ia harus mengatakannya.
Alika mendongal menatap ibunda dari pria yang kini ia cintai itu.
" katakanlah mamy...aku siap mendengarnya.." Alika bersuara mantap.
" Nadira...seperti yang kau pahami, bukan hanya Zain yang memiliki satu orang wanita dalam hidupnya di dunia ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu..tapi yakinlah sayang.Zain...hanya mencintai dirimu, bersabarlah...dan yakinlah, suamimu akan segera menyelesaikan masalah ini "
__ADS_1
Alika mengangguk mengerti.
Almayra berdiri dan mengusap rambut Alika.
" aku sudah tak sabar ingin menggendong cucuku yang terlahir darimu...aku ingin tahu bagaimana perpaduan wajahmu dan Zain nanti " kata Almayra membuat wajah Alika bersemu merah.
Alika turut berdiri dan menghambur memeluk ibunda dari Zain itu. Bahunya telah turun naik menahan tangis.
" terimakasih nyonya...terimakasih sudah mau menerima saya.." ucap Alika di sela sela isaknya.
Almayra turut merasa terharu. Ia balik memeluk wanita itu dan mengusap lembut punggung Alika.
" kau tidak sendiri sekarang...kami akan selalu bersamamu " hubur Almayra dengan lembut.
Alika mengangguk.
" beberapa minggu lagi...Zain akan di resmikan sebagai pemimpin tertinggi perusahaan yang kini ia pegang, aku dengar dia juga berhasil menjadi pengusaha muda paling berpengaruh. Persiapkan dirimu....mamy yakin, kakekmu akan melakukan sesuatu yang melukai perasaanmu.." kata Almayra lagi.
Alika menatap wanita cantik itu tak berkedip.
" semua akan terasa berat sayang...tapi percayalah...kami bersamamu " kata Almayra lagi sembari mengelus Bahu Alika.
" mamy di sini ....?? " tanya Zain yang tiba tiba sudah berdiri di belakang mereka.
" kau menangis Maly...apa mamy..?!! " Zain tak meneruskan kata katanya karena pelototan sang ibu.
" jaga dan persiapkan istrimu baik baik...aku rasa kakekmu tidak akan tinggal diam begitu saja. Peresmian dirimu beberapa minggu lagi " ucap Almyra membuat Zain mengerutkan keningnya mengingat sesuatu.
__ADS_1
Kemudian pria itu terdengar menghembuskan nafas berat.