Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 114


__ADS_3

Zain menatap Alika lekat lekat, di usapnya dengan lembut pipi wanita di hadapannya.


Di kecupnya penuh sayang wajah itu. Wajah yang sejak pertama kali ia melihatnya telah mampu membuat dunianya jungkir balik tak karuan.


Wajah yang mampu membuatnya mempertaruhkan ikatan persaudaraannya demi mendapatkan cinta sang pemilik wajah itu.


Meski ia harus berbuat curang demi mewujudkan cintanya.


Ia tak perduli.


" tak ada sesuatupun yang harus kulakukan, karena memang tak ada satupun hal yang bisa membuatku meragukan mereka..." bisik Zain kemudian.


" tak akan ada satu pun hal di dunia yang akan membuatku meragukan dirimu..." lanjutnya lagi.


" bagaimana jika dia berkata benar, dia melakukannya saat aku tidak sadarkan diri..." jawab Alika penuh kecemasan.


" jangan khawatir...aku cukup mengenalnya, ia tidak mungkin melakukan hal bejat seperti itu. Zubair memang nekat dan sedikit urakan, tapi dia bukanlah pria pengecut. Ia cukup terhormat untuk melakukan hal menjijikkan seperti itu...." Zain mencoba menenangkan Alika.


" aku tahu...ia sedang berusaha nekat merebutmu dariku karena dia mencintaimu...tapi melakukan hal seperti itu, yakinlah...itu bukan dia " lanjut Zain lagi.


Alika terlihat sedikit tenang dan wajahnya juga nampak tak lagi gundah.


" tapi....!! " Alika masih berkata kata lagi


" kita lihat saja nanti....wajah wajah mereka akan membungkam mulut Zubair tanpa kita melakukan apapun " kembali Zain berhasil membuat wajah Alika menyunggingkan senyum.


" kau yakin sekali wajah mereka akan mirip denganmu...bagaimana jika wajah ku lebih dominan pada mereka.." jawab Alika sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.


Entah mengapa, mendengar Zubair berkata seperti itu membuat hatinya berbunga bunga.


Zain tersenyum sembari mengedikkan bahunya, tak lupa ia pun mencebikkan bibirnya.


" tentu saja aku yakin....selama ini aku yang lebih dulu dan lebih besar mencintaimu, aku yang lebih keras berjuang untuk mewujudkan cintaku...aku juga yang selalu bekerja keras membuat mereka hadir " jawab Zain penuh percaya diri membuat wajah Alika seketika bersemu merah.


" kau ini apa apaan...apa yang kau bicarakan itu " kata Alika malu.


" apanya yang apa apaan....yang aku katakan itu memang benar dan itulah kenyataannya Maly, selama ini memang benar bukan aku yang cinta sendirian dan mati matian kepadamu " kata Zain lagi.


" semua juga tahu aku yang mati matian mencintaimu bahkan merebutmu dari sepupuku sendiri....tapi percayalah, aku tidak malu mengakuinya, aku justru bangga...kau memang pantas di perebutkan dan di perjuangakan..." lanjut Zain lagi.

__ADS_1


Alika mengusap wajah sang suami dengan lembut


" jangan berkata begitu...aku juga mencintaimu... " kata Alika merasa bersalah karena memang Zain berkata sebenarnya.


Awalnya ia memang tak pernah mau menerima kenyataan Zain adalah suaminya.


Semua yang ia lakukan untuk pria itu hanyalah suatu keterpaksaan saja.


Zain menarik tubuh Alika agar semakin dekat kearahnya.


Di peluknya tubuh itu dengan erat.


" terimakasih sudah mau berusaha mencintaiku..." kata Zain.


" mungkin aku memang sudah lama mencintaimu..hanya saja aku terlambat menyadarinya " kata Alika membuat Zain semakin tersenyum lebar, ia cium tangan Alika yang ia genggam.


" biar ku obati lukamu..." kata Alika kemudian ketika ia teringat Zain habis berkelahi dengan Zubair tadi.


Jemarinya menyentuh pelipis dan pipi Zain yang kebiruan. Juga sudut bibirnya yang sobek.


Zain menggeleng perlahan.


" tapi kau terluka begini Zain..." Alika masih ngeyel.


" luka ini tak sebanding dengan luka yang pernah aku torehkan padamu sayang... " jawab Zain sembari menatap wajah Alika


" selama kau percaya kepadaku, tak akan ada keraguan di hatiku..." jawab Alika sembari memeluk Zain dengan erat.


Pintu di ketuk dari luar dan setelahnya, tak berapa lama....ibunda Zain nampak masuk kedalam dan segera melangkah mendekat kearah Alika.


Zain beringsut ke bawah, ia duduk di sisi kaki sang istri.


" bagaimana keadaanmu...aku harap kau tidak terpengaruh oleh ucapan Zubair tadi sayang..." kata Almayra penuh kecemasan, ia cukup tahu dan paham kondisi sang menantu.


Diam diam ia pun merasa bersalah akan keadaan Alika itu.


Bagaimanapun juga Zainlah penyebab trauma wanita itu.


" tidak mamy...saya tidak apa apa " jawab Alika lembut.

__ADS_1


" tadi perutnya sedikit kaku my..." Zain seakan mematahkan jawaban sang istri.


" pasti kram....sekarang bagaimana, sudah baikan...coba mamy lihat " kata Almayra sembari mengusap lembut perut sang menantu.


" sudah enakan my...tadi Zain bantu usap " jawab Alika sungkan.


Almayra menghembuskan nafas dengan berat.


" jangan berpikir terlalu keras sayang...percayalah, tak ada satu katapun dari Zubair yang bisa membuat kami meragukanmu...." kata Almayra lagi.


Dan kata kata itu sungguh sukses membuat hati Alika lega. Wajahnya tiba tiba terlihat kembali bersinar.


" mana cucuku....bagimana keadaannya ?! " terdengar suara kakek dengan masuk tergopoh gopoh di ikuti ayah Zain di belakangnya.


" dia baik baik saja pi...tenanglah " kata Almayra sembari menuntun pria tua itu untuk duduk di kursi yang dekat dengan Alika berbaring.


" tidak usah...tidak usah bangun, berbaring saja...aku hanya ingin melihat kau baik baik saja, aku tidak tenang sebelum aku melihatnya sendiri " kata Kakek melarang Alika untuk bangun dari berbaringnya.


Andai saja bisa..ingin sekali ia memeluk tubuh ringki wanita yang tengah mengandung cicitnya itu untuk sekedar meringankan beban pikirannya karena ucapan Zubair tadi.


" saya baik baik saja kakek....." jawab Alika sembari tersenyum lembut.


" ya ya ya....kau memang harus baik baik saja, kata kata Zubair tidak ada artinya apapun bagi kami apa lagi mempengaruhimu....kau tetap menantu kebanggaan kami " jawab Kakek Zain sambil mengangguk angguk.


" terimakasih kakek...sudah percaya kepada ku " kata Alika lagi.


" tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayaimu, tingkah dan perilaku Zubair hanyalah wujud sebuah rasa frustasi seorang pria yang gagal mendapatkan apa yang dia inginkan..." kata tuan besar Zain.


" apa yang di lakukan oleh pria itu menjadi salah bukti bahwa kau memang wanita yang patut di perjuangkan, maafkan kakek yang pernah mengingkari itu..." kata kata tuan besar Zain membuat Alika terharu.


" seandainya Zain tidak memperjuangkan mu mati matian waktu itu, aku pasti sudah menjadi laki laki tua yang penuh dengan penyesalan karena telah mencampakkan wanita terhormat seperti dirimu " lanjut tuan besar Zain penuh penyesalan.


" karena di luar sana aku yakin...banyak orang tua yang ingin menjadikanmu seorang menantu. Termasuk keluarga Ibrahim ..." kata kakek lagi dengan wajah sendu.


" papi..." Almayra menggenggam tangan pria tua itu.


" kakek...jangan bicara seperti itu. Dengan kakek bersedia menerimaku saja itu sudah sangat membuatku merasa terhormat " kata Alika sembari menyeka air matanya.


Zain segera mendekat dan memeluk Alika.

__ADS_1


" baiklah baiklah...tetaplah baik baik saja dan selalu bahagia..."


__ADS_2