
Mobil yang di kendarai Alika dan Nadira nampak memasuki pelataran parkiran sebuah mall terbesar di kota mereka tinggal.
Kedua wanita itu telah tampak keluar dari kendaraan mereka dan tengah memasuki mall besar itu.
Nadira dan Alika terus melangkah memasuki counter demi counter.
Alika dan Nadira sudah seperti saudara saja, keduanya tampak asyik menikmati kebersamaan keduanya. Hingga beberapa orang berseragam hitam dan berbadan tegap menghentikan langkah keduanya.
" Ramos...kau mengikutiku ?! " Nadira sedikit terkejut melihat siapa yang telah menghentikan langkahnya. Tak berapa lama seorang pria tampan nampak melangkah dengan gagahnya dan dengan gaya coolnya ia mendekat kepada keduanya.
" kakak..." panggil Nadira setengah terpekik pada pria yang baru datang itu. Bukannya menjawab panggilan Nadira, Pria itu malah melirik sejenak kearah Alika yang hanya berdiri terpaku di tempatnya.
Tatapan pria yang di panggil Nadira dengan sebutan kakak itu mengingatkan Alika akan penculikan yang terjadi kepadanya waktu itu.
Alika mundur satu langkah kebelakang, Zubair terus menatap pergerakan dari Alika tanpa merespon sapaan Nadira sejak tadi. Perlahan ia melangkahkan kakinya kedepan kearah Alika,
Sungguh itu gerakan yang sesuai nalurinya sebagai seorang pria dewasa, sungguh baginya Alika adalah medan maghnet yang seakan mampu menarik seluruh perhatian dan kasadarannya.
Jarak keduanya hampir dekat ketika tiba tiba Nadira berhenti di hadapan Zubair, menghalangi pandangan pria itu dari sosok Alika.
" Nadira..." panggil Zubair seakan baru menyadari kehadiran Nadira dengan mata terus menatap kearah Alika.
" berhenti kakak...dia dalam perlindunganku, jaga batasanmu... jangan harap kau bisa mendekatinya lagi " ancam Nadira dengan tatapan menghunus, Zubair langsung menolehkan wajahnya kearahnya.
" ckkk....kenapa, ada apa denganmu, biarkan dia bersamaku Nadira " kata Zubair.
" jaga ucapanmu kakak...dia wanita terhormat, kau jangan bicara sembarangan kepadanya kakak " Nadira bersungut sungut, sungguh ia sudah menahan geram sejak tadi demi melihat tingkah Zubair kepada Alika yang baginya sudah tidak sopan.
Berani menatap Alika langsung, berani berusaha mendekat..dan apa lagi barusan, pria itu benar benar sudah tak waras. Ia berani ingin bersama Alika katanya....
Oh Tuhan...di mana kewarasan sang kakak ini, sepertiya siraman rohani yang telah coba ia berikan kepada pria tampan itu sepertinya tak berfungsi sama sekali.
Terbukti, Zubair masih dengan beraninya menatap langsung kepada Alika.
Nadira dan Zubair nampak masih berdebat, sementara Alika semakin melangkah mundur kebelakang, ia tak ingin lagi terpuruk dengan ingatan akan pria itu yang telah berani menyentuhnya hingga ia merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya.
__ADS_1
Hingga pergerakan tangan seseorang menyentuh lengannya.
Alika terperanjat setengah mati, hampir saja ia menjerit kalau saja ia tak reflek menutup mulutnya
" nona..." sapa orang berpakaian serba hitam yang tiba tiba telah berdiri di sisi Alika.
" mari ikut kami nona..." ajak orang itu dengan sopan, Alika mengerutkan keningnya penuh waspada
" tuan besar sudah lama menunggu anda " kembali orang yang ternyata wanita itu namun berseragam pria seolah membuyarkan keterkejutan dan kewaspadaan seorang Malayka Khumaira Rasyid.
" tidak...aku mau pergi " tolak Alika, namun seorang lagi dari mereka nampak menghalangi langkahnya.
" maaf nona.."
" tolong ikut kami...." pinta mereka lagi
" Zain..." desis Alika dalam hati,
" apa lagi ini..." bisik Alika sekali lagi dalam hati. sejenak ia melirik kearah Nadira yang tampak masih berdebat dengan kakaknya.
Alika menghela nafas, namun kemudian ia memutuskan mengikuti ajakan wanita beseragam itu. Ia sedikit ingat...seragam itu pernah di gunakan seseorang yang menjemputnya karena perintah tuan besar Zain.
" tunjukkan padaku dimana..." kata Alika kemudian.
Tiga orang wanita berseragam hitam itu segera melangkah. Satu di hadapan Alika sebagai penunjuk jalan, sementara dua orang di belakangnya.
Tak butuh waktu lama, setelah menaiki lift beberapa menit, kini Alika nampak tengah memasuki sebuah ruangan vvip di sebuah tempat makan di mall itu.
Seseorang membukakan pintu untuk Alika, Alika melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.
Seorang pria tua yang wajahnya sudah sangat diingat oleh Alika nampak duduk di sana tengah menatap kearah ia datang. Seakan pria itu telah sengaja menunggunya.
" silahkan nona..." dengan sopan penjaga itu mempersilahkan Alika, Alika mengangguk perlahan.
" cklek.." terdengar pintu di tutup kembali, Alika melirik sejenak, namun sejurus kemudian ia kembali menatap tuan besar Zain. Ia menghembuskan nafas perlahan.
__ADS_1
Untuk sesaat ia memejamkan matanya.
" salam tuan besar Zain... " sapa Alika kemudian dengan sangat takzin kepada pria tua yang tak lain dan tak bukan adalah kakek dari Zaidan.
Ia merasa sangat berkewajiba untuk bersikap sopan pada pria itu...terlepas bagaimana pria itu memperlakukan dirinya.
" hmm...kemarilah " jawab tuan besar Zain sekaligus meminta Alika untuk duduk di hadapannya. Meja bundar di hadapannya menghidangkan beberapa makanan khas Indonesia, Alika sedikit melirik sembari keningnya mengerut.
" apa dia bisa makan makanan ini ?! " tanya Alika dalam hati.
Alika menurut, ia melangkah mendekat kemudian duduk di kursi dihadapan kakek Zain. Keduanya duduk berhadapan dan terpisahkan oleh meja bundar di hadapannya.
" bagaimana kabarmu.." sambil meneguk teh herbal di hadapannya, tuan besar menanyakan keadaan Alika.
" alhamdulillah baik tuan..." jawab Alika, dan tuan besar Zain percaya itu.
Wanita itu memang tampak sangat baik baik saja dan jauh lebih baik dari terakhir yang ia lihat di rumah sakit paskah penculikan yang di lakukan Zubair kepadanya.
" setelah kejadian itu...kau masih berani berkeliaran sendiri, sungguh kau memang sangat bernyali..." kata Tuan besar Zain kemudian.
Alika diam tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan...satu respon dari Alika yang membuat tuan besar Zain sedikit menaikkan sudut bibirnya keatas.
Secercah kebanggaan terselib di hati pria itu pada wanita di hadapannya itu.
" atau diam diam kau memang sengaja melakukannya untuk lebih menarik perhatian Zain padamu...?! " lanjut tuan besar Zain, Alika masih saja diam tak bergeming, tatapannya lurus ke bawah.
" atau...kau memang sengaja agar kejadian itu terulang lagi padamu, agar kau bisa merasakan kembali betapa mewahnya pelayanan rumah sakit kami yang dapat kau terima secara gratis itu...ah aku lupa, hal seperti itu memang ciri khas manusia seperti dirimu..." lanjut kakek Zain lagi. Tak ada beban sama sekali pada pria itu ketika berucap
Sekali lagi Alika terdiam saja. Ia memang enggan menjawab kata demi kata yang keluar dari bibir pria tuan paling berkuasa di keluarga Al Kahfi itu dengan emosional. Ia berusaha setenang mungkin.
" maaf tuan besar...." satu kata keluar dari bibir Alika.
" aku tahu...kau sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian Zain dari Nadira bukan ?! "
" itu tidak benar tuan besar..." jawab Alika seketika
__ADS_1
" kalau begitu buktikan..."
Alika segera mendongak menatap wajah tuan besar Zain Almeer Al Kahfi. Sesaat keduanya saling menatap