Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab41


__ADS_3

" Malayka....." teriak Zain dengan histeris, bik Sumi seketika berlari mendekat


" ada apa tuan muda..? " tanya bik Sumi khawatir


Zain tanpa menjawab langsung mengangkat tubuh Alika bermaksud menaikkaannya di atas tempat tidur.


Ketika telah berada di dalam kamar giliran bik Sumi yang menjerit, darah berceceran seiring langkah Zain.


Bik Sumi melihat tangan Alika penuh darah, Zain terperangah....tubuhnya seketika memucat. Ludahnya seakan tercekat di tenggorokan.


Gadis di hadapannya itu memotong nadinya sendiri...Alika berusaha membunuh dirinya untuk yang kedua kalinya.


Gadis itu benar benar terguncang jiwanya hingga ia seakan tak mampu lagi menguasai akal sehatnya.


Sebenarnya Alika sedang mengalami gangguan kejiwaan sejak kegugurannya dahulu. Di bawah alam bawah sadarnya, Ia tak mampu menerima kenyataan dirinya yang telah kehilangan kesuciannya secara paksa, kemudian hamil tanpa ia sadar di usianya yang masih sangat mudah. Di tambah lagi kata kata Ricko benar benar menghancurkan pertahanannya.


Dan selama sepuluh tahun ini ia mati matian membangun kepercayaan dirinya kembali, ia memang telah mampu bangit kembali meski itu tidak lah berhasil sepenuhnya,


Ia masih terpuruk jauh di dasar hatinya, hingga ia tak mampu lagi berinteraksi dengan seorang pria.


Bik Sumi berlari mengambil sapu tangan dan hendak di gunakan mengikat pergelangan tangan Alika yang teriris untuk sekedar menghentikan perdarahan itu.


Sadar dengan apa yang terjadi, Zain kembali mengangkat tubuh Alika. Dengan cepat ia keluar kamar menuju lantai bawah.


" kita kerumah sakit bik.....cepat " teriak Zain, wajah Alika sudah semakin memucat.


Zain mendekap erat tubuh ringkih itu dalam dekapannya.


Zain mempunyai tubuh yang kekar dan tinggi besar, jadi tidak sulit baginya untuk sekedar mengangkat tubuh Alika yang kecil jika di bandingkan dengan ukuran tubuhnya.


" Boris...cepat ke rumah sakit " perintahnya pada seseorang yang sudah di hubungi bik Sumi tadi.


Zain memangku tubuh Alika dan semakin mendekapnya ke dalam dadanya, sementara bik Sumi duduk di sampingnya dengan air mata yang masih mengalir. Ia sungguh trenyuh melihat kedua pasangan suami istri yang jelas jelas berbeda trah itu.


Zain yang notabene seorang putra milyuner, dan Alika yang hanya seorang yatim piatu. Akankah keduanya mampu melewati dinding pembatas diantara mereka.


 Lutut Zain yang memangku Alika nampak bergetar, tangannya terasa sangat dingin.


Sementara Boris menyetir dengan cepat dengan wajah penuh tanya.


Setibanya di rumah sakit, Alika mendapatkan penanganan yang sangat baik, kebetulan dokter yang menanganinya adalah dokter yang dulu pernah menanganinya sepuluh tahun lalu.


Dia dokter Steve, pria tampan berdarah Cina yang saat dulu menangani Alika ia masih menjadi seorang calon dokter berusia 25 tahun.


Kini ia telah menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam, dan saat ini kebetulan ia sedang berjaga.


Dokter steve mengerutkan keningnya melihat gadis berhijab itu.


Dia terlihat jauh lebih cantik dan dewasa.

__ADS_1


Jantungnya berdesir melihatnya.


Kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan tugasya sebagai seorang dokter agar perhatiannya pada gadis itu teralihkan.


" apa ada yang datang menemuinya bik ?! " tanya Zain pada Bik Sumi tanpa menatap wanita baya itu, Zain kini duduk di bangku tunggu di depan ruang pemeriksaan Alika. Bersisihan dengan bik Sumi.


" tuan besar Zain tuan muda.." jawab bik Sumi takut takut. Zain mengepalkan tangannya.


" apa dia mengatakan tentang Nadira ?! " tanya Zain lagi semakin terlihat frustasi. Bik Sumi nampak mengangguk.


Zain menghembuskan nafasnya dengan berat. Matanya terpejam sesaat.


Flass on


Zain masuk keruangan dokter Steve karena ingin segera tahu keadaan Alika secepatnya.


Tentu dokter Steve tidak mampu menolaknya, ia tahu siapa Zaidan sebenarnya. Ia putra tunggal pemilik rumah sakit ini.


" ini bukan yang pertama tuan muda.." dokter steve memulai penjelasannya.


" apa maksud anda dokter ?! "


" entah berapa tahun yang lalu saya lupa tepatnya, gadis itu pernah di bawah kesini oleh seorang wanita dalam keadaan seperti ini, dia juga dalam keadaan habis keguguran " terang dokter Steve, Zain mematung mendengarnya...Alika tak berbohong tentang anak. Pikir Zain.


" dia sangat lemah, dan nyawanya hampir melayang saat itu. Beruntung kami bisa meyelamatkannya tepat waktu.


Sepertinya ia dalam keadaan depresi hingga jiwanya terguncang. Saat ini pun...ia kembali seperti itu " kata dokter Steve lagi


Flass off


Zain menyugar rambutnya dengan kasar,


" dia mengatakan tentang anak bik..." kata Zain lagi lemah


" nona sedang terguncang.. jiwanya sedang labil tuan muda.." jawab bik Sumi juga terdengar pelan.


" dan biasanya orang seperti itu bicara dengan jujur bukan bik ?! " Zain berkata dengan wajah yang sangat menyedihkan


" dokter juga mengatakan kalau dia pernah keguguran bik..." nada suara Zain terdengar sangat putus asa.


" mungkin memang benar nona keguguran tuan muda...tapi saya yakin nona tidak mungkin sengaja melakukannya. meski saya baru mengenalnya tapi saya yakin nona orang baik. Tidak mungkin dia tega menghilangkan nyawa calon anaknya sendiri "


" aku memperkosanya bik " aku Zain semakin terdengar frustasi.


Bik sumi terdiam membisu, ia tak tahu lagi harus berkata apa. Wajar jika sekarang Alika terguncang seperti itu. Ternyata beban hidup yang telah ia alami karena tuan mudanya ini sangatlah menyedihkan dan berat.


Ia baru saja bangkit dari traumnya, tapi justru ia harus kembali terlempar kepada kesakitan lagi.


" aku titip dia dulu bik...aku harus pergi. Hubungi aku jika ada sesuatu " pamit Zain dengan menyerahkan sebuah hand phone t

__ADS_1


merk ternama dengan mode kekinian kepada bik Sumi.


Bik Sumi menerimanya dengan melongo. Setelahnya Zain berlalu dari tempat itu setelah sebelumnya ia melihat Alika yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas brankar rumah sakit.


💦


Zain masih dengan memakai pakaian yang sama, yang penuh darah dan terlihat acak acakan telah berada di dalam mansion sang kakek yang ada di Indonesai.


Tepatnya kini ia tengah berdiri di hadapan sang kakek, dengan penampilannya yang tak biasa. Acak acakan. Keduanya berada di dalam ruang kerja tuan besar Zain Almeer Al Kahfi.


" lihatlah dirimu...ck...kau sudah seperti gelandangan saja, hanya karena seorang wanita yang seperti itu kau jadi begini " belum belum tuan besar Zain sudah mengomentari penampilan Zain yang berantakan.


" aku sudah melakukan hampir semua yang kakek mau, tapi kenapa kakek masih menemuinya " kata kata Zaidan terdengar lirih dan dingin di telinga siapa saja yang mungkin mendengarnya.


" kau belum melakukan semuanya..."


" satu tahun kakek...satu tahun, aku berjanji akan memberimu seorang pewaris "


" aku ingin pewarisku hanya dari Nadira.."


" aku tidak bisa melakukannya kakek, sejak awal aku sudah katakan...aku hanya bersedia menikahinya " jawab Zain tak kalah tegas


" jika dalam satu tahun kau tidak bisa memberiku pewaris, maka kau harus bersiap melepaskannya " hardik tuan besar Zain.


Zaidan menghela nafas berat.


" dan lagi....kau tidak bisa memperkenalkan dia kepada siapapun sebagai istrimu. Selamanya istrimu yang harus di ketahui dunia adalah Nadira. Atau aku akan benar benar meratakan panti asuhan itu dengan tanah...aku tidak main main Zain "


Zaidan kembali mengela nafas berat, panti asuhan itu adalah nafas terakhir Malayka, dan Zaidan tahu itu.


" baiklah kakek, aku setuju tidak akan memperkenalkan dia sebagai istriku kepada siapapun, tapi aku akan membawanya bersamaku kemanapun aku pergi " kata Zaidan kemudian dan sukses membuat sang kakek geram.


" jika tidak..aku pastikan kakek hanya akan mendengar namaku saja tanpa melihatku..." Zaidan mengancam.


" aku tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pembangkang Zain "


" aku tahu kakek...kau selalu mengajarkan aku untuk bertanggung jawab atas semua perbuatan ku. Dia adalah tanggung jawabku seumur hidupnya sejak aku pertama kali menumpahkan darah keperawannnya, kakek juga tahu itu kan "


" Nadira juga bentuk tanggung jawabmu yang lain Zain...jangan kau kira aku tidak tahu sepak terjang mu terhadap wanita. Aku tahu kau sering melakukannya dengan banyak wanita....rasanya hanya dengan dua wanita itu bukanlan hal yang sulit bagimu. Beri aku pewarisku dari Nadira.."


" aku tetap tidak bisa melakukannya kakek, aku yang dulu berbeda dengan aku yang telah mengenal dia.." jawa Zain tegas, tanpa ia sadari..seseorang di luar pintu yang tak tertutup mendengar semua yang ia katakan.


Sebagai seorang istri, ia tahu suaminya itu memang terpaksa menikahinya. Namun mendengarnya sendiri kali ini dari mulut sang suami sungguh seakan dunianya hancur.


Siapa yang sebenarnya korban disini..dia, wanita itu, atau.....entah lah Nadira hanya bisa meremat pakaiannya.


Pintu terbuka, dan Zain keluar dari ruangan itu.


Melihat ada Nadira berdiri di sana, Zain menghentikan langkahnya sejenak.

__ADS_1


" maaf...kau harus mendengar semua ini " kata Zain pelan kemudian berlalu dari tempat itu begitu saja.


Tujuannya hanya satu....rumah sakit.


__ADS_2