Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 113


__ADS_3

Dengan sabar dan telaten Nadira membersihkan luka luka di wajah Zubair dan kemudian mengobati luka luka itu.


Pria itu sesekali meringis menahan perih.


" katakan kakak..apa lagi yang sudah kau perbuat sekarang, kenapa kakek dan mamy Almayra semarah itu padamu ?! " desak Nadira pada sang kakak.


Zubair membuang muka ketempat lain dengan tetap membisu. Ia merasa enggan untuk bicara.


Bayang bayang Zain merengkuh tubuh Alika tadi cukup membuatnya kehilangan kewarasannya.


Ia benar benar tak mampu mengendalikan hati dan pikirannya karena di bakar rasa cemburu.


" apa tadi aku tidak salah dengar...kau mengaku sebagai ayah dari bayi yang sedang di kandung Alika kakak.....?! " tanya Nadira lagi, tapi kali ini wajah wanita berhijab lebar itu nampak menyiratkan kegeraman sekaligus kekecawaan.


" kau sudah gila kakak....kau benar benar sudah gila..." oceh Nadira lagi.


" diamlah Nadira....memangnya kau pikir apalagi yang bisa aku lakukan untuk memilikinya....


Aku benar benar jatuh cinta pada wanita itu. Aku tak sanggup lagi menahan perasaanku. Aku bisa benar benar gila jika aku tidak bisa memilikinya Nadira "


Zubair berdiri dari duduknya kemudian melangkah mondar mandir kesana kemari dengan terus mengoceh yang membuat Nadira menggeleng gelengkan kepalanya.


Berkali kali pria tampan yang wajahnya nampak memar di sana sini itu menyugar rambutnya hingga rambut yang tadi tertata rapi kini menjadi terlihat berantakan.


Nadira tak mampu lagi berkata apa apa, tak pernah ia melihat kakaknya seberantakan ini.


Zubair selalu terkesan tenang meski ia cenderung urakan bila di bandingkan dengan kakak pertamanya...Abdullah.


Apalagi menyangkut wanita, Zubair tak pernah terlihat terlalu terpengaruh dengan makhluk yang bernama wanita.

__ADS_1


Tapi ini.....ia benar benar seperti tak mengenal sang kakak lagi.


💦


Sementara itu di kamar Zain...pria itu nampak tengah mengelus lembut perut Alika bagian bawah, setelah ia menidurkan istrinya itu di atas tempat tidur dengan sangat hati hati sekali.


Zain memang selalu hati hati bilan menyangkut sang istri.


Ia tahu...fisik wanita yang sangat ia cintai itu sangat lah rapuh sejak ia dinyatakan hamil kembar.


Trauma yang pernah ia alami juga berpengaruh besar pada menurunnya sistem imunnya, apalagi saat hamil begini.


Beruntung..kehamilannya sama sekali tak menyulitkannya sama sekali, hanya fisik dan imunnya sendiri saja yang memang terbilang lemah.


" apa kamu baik baik saja sayang...tolong kuatlah, jaga mama baik baik sayang...." katanya berbisik di hadapan perut sang istri yang kian membuncit di sela sela usapannya di perut itu.


" apa mereka baik baik saja sayang ?! " kini Zain yang duduk di lantai sembari terus mengusap perut membuncit Alika nampak menengadah bertanya pada sang istri.


" tapi...kenapa ini terasa sedikit keras, kau kesakitan...kita kerumah sakit, ah tidak....biar kupanggil dokter kemari..." Zain sudah terlihat panik karena ia merasa perut Alika yang ia sentuh terasa keras dan kaku.


Zain hendak berdiri ketika Alika meraih tangannya dan kembali meletakkannya di atas perutnya kemudian menggerakkan tangan itu dengan gerakan mengusap.


Zain pun menurut, ia duduk disisi Alika berbaring. Dan mulai mengusap kembali perut itu.


" apa masih sakit ?! " tanya Zain masih dengan wajah khawatir.


" sedikit berkurang...karena papanya yang mengusap " jawab Alika tersenyum yang membuat hati Zain sedikit tenang.


" kau tidak apa apa ?! " tanya Zain lagi, kali ini ia menyatukan keningnya kepada kening Alika.

__ADS_1


Ada kelegaan di hatinya melihat senyum wanita itu.


Baginya...senyum Alika adalah nafasnya.


Sungguh.... tadi ia sangat khawatir, ia takut trauma Alika kembali dan akan membuat wanita itu kehilangan kesadarannya dan berpengaruh pada kesehatannya.


Karena kini Alika tengah hamil bayi kembar, dan sungguh itu sangat berpengaruh pada kondisi kesehatannya.


Selama ini..Zain sangat extra menjaga kesehatan juga kestabilan kejiwaan sang istri.


Itulah sebabnya, kemaren ketika ia melihat perubahan pada diri Alika ia segera meminta Alex dan Faritz menyelidikinya.


Dan hasilnya...sungguh di luar prediksinya.


Ia memang sudah mengira Zubair tidak akan diam begitu saja, dia juga sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan Zubair melakukan kenekatan.


Tapi...nekat mengaku sebagai ayah dari bayi yang di kandung sang istri, sungguh itu di luar nalar. Dan jelas tak terpikirkan sedikitpun oleh Zain.


Ia mengetahui dari rekaman cctv yang ada di lantai dua yang sengaja di pasang untuk merekam setiap kejadian di lantai dua.


" kau tidak ingin melakukan sesuatu ?! " tanya Alika sembari menatap lekat lekat wajah Zain.


" melakukan apa hmm.... ?! " Zain balik bertanya sembari mengecup lembut bibir wanita yang telihat pucat di hadapannya itu.


" sesuatu yang mungkin membuatmu tidak ragu pada mereka...." jawab Alika.


" apa itu...?! "


" tes dna mungkin.....!! " Alika berkata dengan wajah sendu.

__ADS_1


Sementara Zain menatapnya lekat lekat.


__ADS_2