Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 38


__ADS_3

Hari telah malam ketika Alika mendengar bel apartemennya berbunyi beberapa kali, sebagai tanda ada seseorang di luar pintu sana sedang menunggu untuk di bukakan pintu.


Berkali kali ia mematut dirinya di depan cermin


ini sudah satu minggu dan ia yakin yang datang adalah Zain.


" tok tok tok...non " panggil bik Sumi dengan sopan.


" saya buka ya.." izinnya


" iya bik..masuk saja " jawab Alika sembari berputar di depan cermin meyakinkan jika penampilannya sudah sempurna.


Entah mengapa ia merasa sangat senang Zain akhirnya pulang juga, dan entah mengapa ia ingin terlihat cantik di depannya.


" maaf non..ada tamu " kata bik Sumi, sedikit hati hati dalam setiap katanya, Bik Sumi tahu, siapa yang datang.


" apa bik...tamu ?! " pekik Alika tak percaya sembari menoleh dengan cepat kearah bik Sumi. Bik Sumi mengangguk meyakinkan Alika. Sebenarnya ia tak tega melihat wajah kecewa nona nya itu.


" laki laki atau perempuan bi ?!! " tanya Alika lagi.


" laki laki non..." jawab bik Sumi.


" baiklah bik...tolong minta tunggu sebentar " jawab Alika pelan, ada semburat kekecewaan di sana.


Dengan segera Alika memakai sarung tangan lumayan tebal yang ia tutupi dengan lengan gamis panjangnya.


Ia tak ingin menyinggung perasaan tamunya, Bik Sumi sedikit mengernyitkan keningnya melihat Alika memakai sarung tangan, namun ia memilih segera berlalu dari sana.


Tanpa Alika ketahui, badai yang sebenarnya dalam hidupnya telah datang. malam ini adalah awal Alika menjalani hidupnya yang bagai di neraka.


hidup segan matipun sulit...mungkin seperti itulah kehidupan Alika selanjutnya.

__ADS_1


Senyum yang senantiasa merekah di bibirnya, keceriaan yang selalu terlukis di wajahnya dahulu akan benar benar pudar di mulai dari malam ini.


Alika perlahan menuruni anak tangga, tampak seorang pria berbadan tegap dengan rambut yang memutih di kepalanya, namun demikian sisa sisa tampan di wajah itu masih sangat kental kentara nampak duduk dengan gagahnya di sofa tunggal.


Pria tua yang masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda itu berwajah timur tengah. Tiga orang berbadan tegap dan berjaz hitam bediri di belakangnya.


Dengan hati berdebar tak karuan Alika mendekat sembari menangkup kedua tangannya di depan dadanya.


Dirinya tak mungkin mengulurkan tangan kepada pria itu meski kini ia memakai sarung tangan. Bisa bisa ia langsung pingsan di tempat jika ia memaksakan diri.


" maaf tuan...kalau boleh tahu anda..." belum tuntas kata kata Alika sudah terpotong.


" duduklah..." kata pria tua itu, memotong kalimat Alika dengan angkuhnya. Matanya sibuk memindai penampilan Alika. Dari atas kebawah...dari bawah keatas membuat Alika merasa kikuk.


Di dalam hati tuan besar itu memuji penampilan Alika yang santun dan sesuai dengan kriterianya sebenarnya. Ia juga memuji type wanita pilihan cucu kesayangannya itu. Tak dapat ia pungkiri, Alika memiliki wajah yang tak kalah cantik dari Nadira yang nota bene berasal dari keluarga mampu dan kaya raya.


Sedangkan gadis di hadapannya itu...ia seorang yatim piatu, yang jangankan untuk perawatan dirinya. Ia pasti tidak sempat untuk sekedar memanjakan dirinya.


Tapi Alika tetap terlihat cantik natural tanpa polesan make up di wajahnya. Kulit wajahya juga terlihat putih dan sehat.


" apa kau Malayka Khumaira Rasyid ?! " pria itu mulai bertanya dengan nada otoriternya, Alika sedikit termangu mendengarnya.


Darimana dia tahu dirinya...pikir Alika


" ya..." jawab Alika sembari mengangguk.


" aku..Zain Almeer Al Kahfi...kakek dari Zaidan " tuan besar Zain memperkenalkan dirinya. Alika sekali lagi termangu. Ia bingung bagaimana harus bersikap. Ia merasakan dingin menerpa tubuhnya. Zain tak ada disisinya untuk membantunya menjelaskan keadaannya.


" maaf..saya tidak tahu..." akhirnya kata itu terlontar dari bibir Alika sembari terus menunduk. Aura kakek Zain itu sangat mengintimidasi dirinya.


" aku tahu...itu wajar, kau tidak di perkenalkan kepada kami dan kami juga tidak di perkenalkan kepada kamu " jawab tuan besar Zain sinis. Alika terdiam membisu.

__ADS_1


" apa sudah seminggu Zain tidak pulang ?! " tanya tuan besar Zain lagi.


" iya kakek..." jawab Alika mencoba mengakrabkan diri kepada pria tua itu. Namun jawaban pria itu sungguh di luar ekspektasinya.


" seperti yang sudah ku bilang, kau tidak di perkenalkan kepada kami, dan kami juga tidak di perkenalkan kepadamu...kau paham itu ?! "


Bagai teriris sembilu rasanya hati Alika, ia sadar siap dirinya, ia juga adalah gadis pintar dengan iq di atas rata rata, bukan hal yang sulit baginya untuk menangkap arti dari kata kata pria tua di hadapannya itu. Seharusnya ini sudah ia duga sebelumnya. Tapi....kenapa rasanya masih sangat sakit.


" iya.. tuan..." Alika meralat jawabannya sendiri, wajahnya nampak pias...sudah lama sejak ia pergi meninggalkan kota ini sepuluh tahun yang lalu ia tak lagi di rendahkan seperti itu.


Tapi sekarang...ia harus kembali terhempas sebagai manusia yang tak dianggap.


" sudah ku duga kau memang sangat pintar...mungkin itu adalah salah satu yang mampu menarik perhatian cucuku padamu " kata tuan besar Zain panjang lebar


" berapa yang kau butuhkan ....pergi jauh dari cucuku ?! "


Alika memejamkan matanya sesaat sembari menghembuskan nafas dengan berat. Ia sangat tekejut bukan main.


" apa maksud anda tuan ?! " tanya Alika memberanikan diri.


" jauhi cucuku..." tuan besar mengulanginya lagi.


" aku sudah pernah melakukannya.." jawab Alika dingin.


" aku tahu kau sudah pernah melakukannya, lakukan sekali lagi ....kali ini dengan bantuanku aku pastikan dia tidak akan menemukanmu " paksa tuan Zain pada Alika.


Alika terdiam membisu...otaknya tiba tiba saja seakan berhenti berkerja.


" asal kau tahu...kau bukan satu satunya wanita dalam hidup cucuku....datanglah ke hotel Five Star besok sore. Di sana kau akan lihat siapa yang dengan bangga cucuku perkenalkan kepada kami, disana kau akan lihat siapa yang dengan bangga cucuku bawa menemaninya menemui para relasinya..." sungguh kata kata tuan besar Zain mengoyak sanu bari Alika sebagai seorang wanita.


" setelah itu..aku harap kau tahu posisimu dan keputusan apa yang harus kau ambil. Tuliskan sebesar apapun maumu...aku akan memberikannya. Katakan kemanapun kau ingin aku akan mengurusnya.....kau tidak pantas untuk cucuku, carilah orang kaya yang setidaknya cukup pantas denganmu yang mungkin mau menampung hidupmu dan masa depanmu " sekali lagi tuan besar itu merendahkan harga diri Alika. Sembari berdiri tuan besar Zain membenarkan kancing jasnya.

__ADS_1


" kabari aku secepatnya...aku tahu kau gadis pintar. Tidak sulit bagimu untuk memahami kata kataku " setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban dari Alika..orang tua itu berlalu begitu saja.


Ia melirik sebentar kearah Alika sebelum ia benar benar melanjutkan langkahnya meninggalkan apartemen itu dengan seorang gadis yang nampak syok dan sangat terpukul.


__ADS_2