
Seorang gadis cantik bergamis coklat susu dan berkerudung warna hitam yang menjuntai menutupi dadanya nampak baru saja turun dari bus yang berhenti tepat di depan sebuah toko kue. Sarung tangan warna senada dengan kerudungnya membungkus kedua tangannya.
" Alika..kau sudah datang ?! " sapa seorang gadis yang memakai celemek didadanya yang segera menghampirinya begitu melihatnya.
Keduanya nampak saling tersenyum hangat lalu masuk kedalam toko kue itu. Toko yang menyediakan berbagai macam kue dan desert serta minuman.
Alika seorang sarjana keuangan, ia berhasil di terima di sebuah universitas negri melalui jalur prestasi dan juga karena rekomendasi beasiswa prestasi dari sekolahnya terdahulu.
Surat referensi yang di berikan pihak sekolahnya terdahulu sangat membantunya dan sangat di akui oleh Alika, surat itu menjadi ujung tombak keberhasilannya meraih predikat sebagai mahasiswa terbaik. Dan tentu itu tidaklah gratis.
Ia sudah di beri tahu, bahwa ia harus siap jika sewaktu waktu tenaganya di butuhkan pihak yang membiayai pendidikannya.
Alika tak mempermasalahkan itu.
tinggal satu semester lagi, maka kuliahnya akan selesai. Ia bekerja paruh waktu di sebuah toko kue milik orang tua salah satu teman kuliahnya.
Ya...Alika memutuskan tinggal di sebuah kota yang terkenal sebagai kota pelajar juga terkenal karena suhunya yang di bawah minus. Tiga tahun lalu ketika ia memutuskan pergi dan memilih kota Malang sebagi tempat tujuannya.
Ia bertemu dengan seorang gadis seusianya yang bernama Santika. Ia putri seorang pengusaha toko kue dan desert.
Keduanya menjadi cepat akrab dan kemudian menjadi sahabat. Di toko kue milik orang tua Santika itu lah Alika bekerja memenuhi segela kebutuhnnya.
Ia pun masih sering mengirim uang atau barang barang ke panti, namun tanpa memberi tahu di mana kini ia tinggal. Ia tidak ingin Ohan atau mungkin Bahkan Zain menemukannya. Ia benar benar ingin mengubur masa lalunya dalam dalam.
Alika sedang asyik menata kue di etalase toko ketika seorang pemuda tampan datang dan duduk di tempat yang sangat mudah untuk memperhatikan Alika.
" shuttt..." sapa pemuda itu pelan mencoba meraih perhatian Alika dan berhasil. Alika mendongak. Seulas senyum tersungging di bibir keduanya.
Pemuda itu adalah Abbas, kakak satu angakatannya di kampus dengan jurusan yang berbeda.
Sudah lama Abbas menyukai Alika, namun ia memilih dengan sabar mendekat kepada Alika. Baginya pelan pelan tak apa asal terlaksana.
Alika mendekat namun tak begitu dekat.
Satu penyakit baru yang di derita oleh Alika semenjak kepulangannya dari rumah sakit paskah kegugurannya dulu. ia tak bisa berdekatan terlalu dekat apalagi bersentuhan dengan laki laki.
Tubuhnya akan langsung gemetar hebat dan keringat dingin mengalir dengan deras. perih tak terkira akan ia rasakan seiring dengan itu.
dokter bilang ia mengalami trauma.
Itulah sebabnya setiap kali bepergian dirinya akan memakai sarung tangan yang cukup tebal.
Dan Abbas tahu itu, mangkanya ia pelan pelan mendekati Alika. ia berharap suatu hari nanti gadis itu akan terbiasa dengannya dan lebih bisa menerima dirinya.
Sudah berkali kali Abbas menyampaikan perasaannya pada gadis itu tapi selalu di tolak dengan halus oleh Alika.
__ADS_1
" mau pesen apa kali ini ?! " tanya Alika lembut
" mau pesen kue seserahan buat ngelamar kamu " goda Abbas membuat Alika tersenyum.
" yang biasanya kan...?! " kata Alika kemudian
" cie..yang udah hapal kesukaan calon imam, makasih ya...calon makmum " lagi lagi Abbas menggoda Alika dan lagi lagi gadis itu membalas dengan senyuman.
" aku dengar besok akan kedatangan motivator dari luar negri Al...dia seumuran dengan kita, tapi dia sudah menjadi seorang motivator handal " kata Abbas setelah Alika duduk dihadapannya.
" benarkah...cewek kah Bas..? " tanya Santika
" entahlah..aku dengar sih cowok " jawab Abbas
" oh..." Santika.
Tiga orang itu memang berteman cukup dekat, Santika sebenarnya menyukai Abbas, tapi ia cukup tahu diri.
Abbas tidak menyukainya, dan ia tahu Abbas menyukai Alika dan ia bisa menerima itu.
Hari yang di ceritakan Abbas datang, ruang di adakannya acara itu telah penuh sesak.
Alika dan Santika tak mendapat tempat karena keduanya yang datang terlambat dan acara sudah di mulai. Kini Alika dan Santika duduk pelataran.
hampir dua jam acara berlangsung, dan akhirnya acara pun selesai, Alika dan Santika hendak meninggalkan tempat itu.
" Alika...." seseorang menyebut namanya, Sontak Alika mendongak,
Dan betapa terkejutnya ia begitu ia tahu siapa pemilik suara yang memanggilnya.
Ia bingung harus bagaimana, larikah...atau...
Pria tampan itu melangkah dengan cepat menghampirinya dan hendak memeluknya, namun reflek Alika segera memundurkan tubuhnya,
Seperti biasa, dengan jarak yang sedekat itu...
tubuhnya pun mulai bereaksi, gemetar, keringat dingan mulai membasahi dahinya, wajahnya seketika memutih seputih kapas.
" kau kenapa ?! " pria itu melangkah maju nampak sangat khawatir.
" berhenti di sana Ohan " kata Alika sembari mengangakat kedua tangannya keatas tanda ia melarang pria itu mendekat kearahnya.
Ohan terkejut melihatnya.
Santika mendekat dan merengkuh bahu Alika.
__ADS_1
" tenanglah Al...kendalikan dirimu " kata gadis itu lembut membuat Ohan mengerutkan keningnya.
" maaf tuan...kami mohon pamit dahulu " pamit Santika, sementara Alika hanya terdiam, wajahnya sulit di artikan
" tungguh...aku bukan orang lain baginya, kami sangat dekat. Aku..aku adalah calon suaminya " Ohan menghentikan langkah Alika dan Santika.
Kedua gadis itu menoleh kepada Ohan. Terutama Alika.
" katakan padaku apa yang terjadi Al...ada apa denganmu " Ohan kembali melangkah mendekat, sakit hatinya melihat Alika memperlakukannya seperti orang lain.
Ohan menggenggam tangan Alika yang kebetulan sedang tak memakai sarung tangan. Seketika tubuh Alika merosot, ia pingsan.
Ohan sangat terkejut, segera ia membopong tubuh Alika dengan setengah berlari menuju mobilnya diikuti oleh Santika. Mereka membawa Alika kerumah sakit.
Ohan terduduk dengan lemas mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Alika.
Gadis itu tak bisa berdekatan atau hanya sekedar bersentuhan dengan lawan jenis. Alika telah mengalami peristiwa yang membuat kejiwaanya terguncang sedemikian rupa hingga alam bawah sadarnya terdoktrin tidak mau berdekatan dengan siapapun lawan jenisnya.
Kini Ohan dan Alika duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah Alika, tadi setelah siuman dari pingsannya Ohan memaksa mengantarnya pulang. Dengan jarak yang lumayan jauh. Keduanya di pisahkan oleh meja.
" apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu Al...kenapa kau jadi seperti ini, bukankah kau berjanji akan menikahiku selepas kita lulus sekolah waktu itu ?? " Ohan tak mampu lagi menahan perasaannya.
Alika menghela nafas berat.
" tidak ada..." jawabnya kemudian, Ohan menatapnya intens.
" aku akan membawamu keluar negri untuk mengobati traumamu "
" aku tidak mau "
" tapi Al..aku ingin menikahimu, dengan traumamu itu pernikahan kita akan menyiksa dirimu "
" tidak ada pernikahan Ohan...maafkan aku "
" tidak Alika tidak..."
" maafkan aku Han...carilah wanita yang tepat untuk mu, aku bukan yang terbaik untukmu " jawab Alika
" apakah ini semua ada kaitannya dengan Zain ?! " tanya Ohan.
Mendengar nama Zain di sebut oleh Ohan, tubuh Alika meremang. Sejenak gadis itu memejamkan matanya.
" tidak ada..." jawab Alika kemudian gadis itu memilih berlalu dari tempat itu dan masuk kedalam rumahnya. Rumah yang ia kontrak hampir dua tahun ini.
Untuk sesaat Ohan tetap diam tak bergerak di kursi kayu itu.
__ADS_1
Alika telah banyak berubah, dia semakin cantik dan mempesona. Dan juga....sulit di gapai.