
Amreeta menepuk keningnya...
" seharusnya dia sudak kembali..." katanya kemudian
" kembali dari mana.... kemana dia..?! " sekali lagi Zain bersuara agak keras kepada Amreeta
" kamar mandi ya..kamar mandi...hei.....kau..." teriak Amreeta yang melihat Zain ingin segera berlalu dari sana begitu saja. Zain menoleh kepadanya
" ada apa ?! " tanya Zain kemudian dengan wajah seperti panik.
" ada urusan apa kau dengan Alika ?! " tanya Amreeta, membuat Zain menatapnya tajam yang membuatnya bergidik ngeri.
" bukan urusanmu..." satu kata keluar dari mulut Zain sebelum berlalu dari tempat itu dengan cepat.
Amreeta menganga di buatnya
" gilakah dia...bukannya dia yang tadi bertanya duluan padaku, lalu....oh Tuhan apa yang sebenarnya sudah terjadi ? Ada apa sebenarnya di antara kedua orang itu, atau jangan jangan......tidak tidak....tidak mungkin kan..." Amreeta menepuk nepuk kepalanya sembari menggeleng berkali kali menolak pemikirannya sendiri.
Ia jadi menghubung hubungkan kejadian kejadian beberapa waktu tadi
Alika yang tiba tiba mengajaknya melihat pertandingan basket. Satu hal yang tak pernah di lakukan gadis itu. Karena ia paling malas berada di keramaian.
Dan Zain, dia yang selalu melihat kearahnya sejak mereka baru datang tadi, juga setiap berhasil melakukan shoot, pemuda sombong itu akan selalu menoleh kearah mereka. Seolah shoot itu di persembahkan untuk salah satu di antara mereka berdua dan yang jelas bukan dirinya.
Jadi...
Zain berlari menuju toilet perempuan, sesampainya disana matanya memicing melihat Ricko yang meringkuk di pojokan.
Tanpa berkata atau sekedar berbasa basi apapun Zain melewati Ricko begitu saja, kemudian ia memanggil manggil Alika dam membuka pintu pintu toilet yang tidak tertutup
" Maly....Maly.." panggil Zain, ia memang tidak memanggil Alika sama seperti yang lain, ia menganggap dirinya lebih istimewa di banding mereka bagi Alika. Itulah sebabnya selama ini ia tak mau menyebut nama Alika sama sekali,
Dan baru sekali tadi ia menyebut nama Alika dengan bibirnya karena frustasi tidak melihat gadis itu di tribun.
Ricko yang mendengar panggilan dari Zain jadi mengerutkan keningnya.
" siapa yang dia cari...Alika kah, tapi...sejak kapan nama Alika berubah menjadi Maly.." pikir Ricko, tapi tak berani bertanya apapun.
Kini ia hanya sedang fokus merasakan sakit di pusatnya karena tendangan dari Alika yang membabi buta padanya tadi.
__ADS_1
Zain hendak berlalu dari tempat itu, namun matanya menangkap sesuatu yang ia kenal di lantai.
Sebuah ikat rambut...Zain berjongkok mengambilnya. Kembali keningnya berkerut. Ia mengenal ikat rambut itu.
Ini adalah ikat rambut yang kemaren ia belikan untuk Alika saat mereka ada dipuncak. Dan dia sendiri yang mengikatkan ikat rambut itu pada rambut Alika ketika mereka berada di dalam mobil hendak pulang.
Zain berlalu dari tempat itu sembari memasukkan ikat rambut itu kedalam saku celananya setelah sebelumnya menciumnya terlebih dulu dan memastikan aroma rambut Alikalah yang ada di sana.
Ricko bernafas lega setelah Zain benar benar keluar dari tempat itu.
Keluar dari toilet Zain menuju ruang ganti, ia hendak mengambil hand phonenya yang ada di tasnya yang ia simpan di ruang ganti.
Berkali kali ia menelpon Alika tapi tidak aktif. Ia kembali gusar
* dimana.....* satu pesan terkirim pada no Alika tapi centang satu saja
* dimana....*
* dimana...*
* ayo jawab....jangan membuatku sulit *
Cepat cepat ia membuka pesan yang terkirim dari no yang di beri nama "honey".
* terimakasih karena kamu telah berhasil menghancurkan hidupku hingga sehancur hancurnya . Selamat juga karena tujuanmu telah berhasil.
Entah dosa apa yang telah aku perbuat padamu hingga kau benar benar berniat sekali menghancurkan diriku hingga tak bersisa.
Tapi satu yang harus kau ingat, aku bukan budak nafsumu *
Pesan yang terkirim dari Alika kepadanya.
Zain jatuh terduduk seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak tiba tiba begitupun dengan waktu. Tiba tiba ia merasa waktu berhenti berputar begitu saja. Hand phone yang ia pegang jatuh kelantai, beruntungnya tidak terjadi apa apa pada hand phone itu.
Bersamaan dengn itu, Ali datang
" ada apa..apa yang terjadi ?! " Ali terkejut dengan reaksi Zain, ia memungut Hand phone Zain dan ketika hand phone itu menyala karena tak sengaja tertekan olehnya, mata Ali terbelalak tak percaya.
Pasalnya wallpaper hand phone Zain menampilkam foto seorang gadis yang wajahnya juga terpampang sebagai wall paper hp Ohan.
__ADS_1
Ali kemudian menekan kembali, dan ia semakin jantungan melihat nama no itu adalah Honey dan fotonya adalah...Alika
Belum hilang keterkejutan Ali, Zain sudah merebut hp itu dari tangannya. Mata Ali berkedip kedip beberapa kali tanda ia sedang kebingungan.
" Zain...katakan sesuatu " kata Ali
" tutup mulutmu " jawab Zain sembari menyahut tasnya dan secepat kilat pergi dari sana, bersamaan dengan itu Ricko masuk dengan wajah yang masih terlihat meringis menahan sakit.
" kau kenapa ?! " tanya Ali sebelum pergi mengejar Zain, ia sangat khawatir dengan Zain.
Menurutnya selama ini kejiwaan Zain sangatlah labil. Mungkin karena tuntutan sebagai pewaris satu satunya yang harus selalu sempurna.
" tidak ada.." jawab Ricko singkat,
Zain terlihat mengendarai motornya dengan kalap,
" Zain...!! " teriak Ali namun tak di hiraukan oleh Zain, pemuda itu terus berlalu.
" ada apa dengannya ?! " tanya Ohan yang juga melihat Zain tadi seperti orang panik.
" apa om Osmand memanggilnya ?! " tanya Ohan lagi, karena yang ia tahu, hanya orang tuanyalah yang bisa membuat Zain sepanik itu.
Ali kebingungan menjawab. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Ohan.
Ini sudah jelas ada cinta segitiga di antara mereka.
Ali tidak tahu siapa yang menikung dan siapa yang ditikung.
Tapi yang pasti, karena masalah ini...hubungan Zain dan Ohan akan semakin retak dan bermasalah. Pikir Ali.
" entahlah...aku juga tidak tahu, aku akan mengikutinya " kata Ali
" aku ikut " kata Ohan dan seketika membuat Ali bengong.
bersamaan dengan itu.
" Ohan..." panggil Amreeta sembari mendekat.
" tu...di panggil Amreeta, aku pergi dulu " Ali pamit dengan wajah lega.
__ADS_1