Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 81


__ADS_3

Alika berdiri di depan jendela ruang perawatannya, sendirian...hari ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang, bik Sumi sedang mengemasi pakaiannya, sementara Zain....


Flass on


Alika dan Nadira saling memeluk, keduanya kini nampak kembali ke ruang perawatan Alika.


Hingga hari menjelang sore, Nadira berpamitan untuk pulang.


" aku pulang dulu Alika..." pamit Nadira


" biar aku antar kau pulang.." tiba tiba Zain berdiri dan bersuara, seketika Alika dan Nadira menoleh kearahnya, kedua wanita cantik bergamis syar'i itu tengah sibuk dengan pemikiran masing masing demi mendengar ucapan Zaidan untuk Nadira.


Tapi...sejurus kemudian Alika tersenyum lembut dan hangat.


" hati hati kak..." pesannya pada Nadira, Nadira mengangguk pelan setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya karena tawaran yang diberikan Zain padanya.


Itu cukup mengguncang jiwanya...


Kembali Nadira nampak memeluk Alika kemudian kembali mengucapkan kata pamit kepada Alika dan melangkah keluar lebih dulu, tanpa ia mengiyakan atau menolak tawaran Zain tadi padanya.


Sepeninggal Nadira Zain melangkah kearah Alika, membenarkan letak selimut wanita itu, mengecup sekilas kening Alika.


" aku pergi dulu...bik Sumi akan segera datang " pamit Zain.


" hati hati berkendara...di luar hujan, jika terlalu malam, menginap saja di sana...terlalu berbahaya jika kau berkendara di tengah hujan, apalagi malam hari. Kau ju..." Alika tak bisa lagi melanjutkan kata katanya kare Zain yang lebih dulu me*****bibirnya.


Agak lama, Alika perlahan memejamkan matanya...


Zain memeluk erat tubuh Alika kemudian mengusap bibir Alika perlahan.


" Jangan terlalu banyak berfikir..." pesan Zain sambil mengusap pucuk kepala Alika, sebelum akhirnya ia benar benar melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan Alika.


Zain melangkah dengan berat meninggalkan kamar perawatan Alika, hingga ia sampai di penghujung lorong yang memisahkan bangsal perawatan pasien vvip dengan tempat parkir bagian bawah rumah sakit itu.


Ya..rumah sakit itu memang rumah sakit swasta yang super mewah, dimana keluarga Al Kahfi juga Ibrahim Khan sebagai pemegang saham terbesar hingga untuk tempat parkir saja ada umum dan vvip.


Angin bertiup cukup kencang, mata Zain menangkap bayangan Nadira yang berdiri sambil memeluk dirinya sendiri.


Tampak memprihatinkan memang, seorang nona muda dari keluarga kaya raya dan di segani...berdiri seorang diri di sana.


Cipratan air hujan yang tersembur karena terpaan angin tampak menabrak tubuh Nadira yang terbungkus gamis.


Sementara gamis dan kerudung panjangnya telah mengibar sejak tadi tertiup angin.

__ADS_1


Wanita itu tampak enggan untuk menghindar dari cipratan air hujan dan membiarkan begitu saja tubuhnya terkena cipratan.


" aissshhh....kenapa ini harus terjadi kepadaku " desah Zain sumbang, ia akhirnya melangkah sembari melepas jaket yang ia kenakan.


" di sini sangat dingin, kau bisa sakit nanti..." kata Zain sambil mengenakan jaketnya pada Nadira.


Nadira terperangah dengan tingkah dan perbuatan Zain padanya.


" ayo..." ajak Zain dan Nadira pun mengikutinya. Keduanya nampak berjalan beriringan masuk kedalam mobil mewah Zain dan tak berapa lama kemudian mobil itu nampak meninggalkan pelataran parkir rumah sakit itu.


Flass of


" nona..." panggil bik Sumi membuyarkan lamunan Alika, Alika yang tadinya menatap jauh ke luar jendela kaca di hadapannya. Nampak sedikit melirik kearah sumber suara.


" apa kita akan menunggu tuan muda nona...?! " tanya bik Sumi hati hati, pasalnya sejak pamit mengantar Nadira, Zain tak kunjung tampak batang hidungnya.


Sementara semalaman kemaren hujan turun dengan begitu derasnya.


Alika menghela nafas dan berbalik menoleh kearah bik Sumi.


" tidak perlu bik...kita langsung pulang saja " jawab Alika sembari tersenyum, tak dapat ia pungkiri...hatinya sakit dan perih.


Tapi ini bukan salah Zain, dirinya yang meminta Zain untuk menginap.


Ternyata tak semudah itu...hmm..aku sudah seperti orang munafik saja, astaghfirullahaladzim...desah Alika dalam hati.


Kini bik Sumi dan Alika telah berada di dalam mobil yang di kendarai pak Boris untuk pulang.


Hampir dua jam perjalanan kini Alika telah sampai di rumah pemberian Zain.


Hari semakin beranjak malam, Alika baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang hamba, ia berdiri di balkon kamarnya dengan di temani lampu yang temaram.


Matanya menatap kelap kelip lampu lampu rumah rumah para penduduk.


" hmmm...indahnya " suaranya terdengar pelan, rambut Alika yang di gerai ia biarkan tertiup angin.


" apanya yang indah...kenapa pulang tak menungguku dan tak mengabariku ?! " tiba tiba Zain telah berada di belakangnya dan memeluknya dari belakang. Dagunya ia tumpukan di bahu Alika.


" eh...." Alika terkejut dengan dekapan tiba tiba Zain itu.


" kenapa tak mengabariku hmmm....?! " Zain kembali mengulang pertanyaannya sembari mencium pipi Alika.


" aku pikir aku bisa pulang sendiri...aku pikir kamu sedang sibuk, jadi...aku ingin sedikit berlatih mandiri " jawab Alika santai sembari mengelus pipi Zain.

__ADS_1


" ck...aku tidak suka kau mandiri, kau harus tergantung padaku..." Zain terdengar berdecak


" kau sangat sibuk semalam ?! " pertanyaan Alika terdengar ambigu, entahlah...apa maksud pertanyaanya yang sebenarnya.


" hmm...kau tahu saja sayang, semalam aku memang sibuk sekali " jawab Zain dengan tetap bergelayut manja kepada Alika.


Sungguh sibuk yang dipikirkan Alika dengan yang di sampaikan Zain sangatlah jauh berbeda.


Zain memang sangat sibuk kemaren malam, hingga sejak dia datang ke mansion sang kakek ia langsung masuk ke ruang kerjanya.


Ajakan makan malam dari sang kakek juga Nadira ia abaikan begitu saja.


Apalagi hujan turun dengan sangat derasnya, jadi ia memutuskan menuruti permintaan Alika untuk menginap saja di mansion.


Sementara Alika, ia berpikir lain tentang kesibukan Zain. Senyum coba ia berikan kepada Zain meski hatinya terasa perih.


" buatkan aku nasi goreng sayang...aku lapar sekali hari ini " pinta Zain


" ulu ulu...laper... ?! " goda Alika tak percaya ucapan Zain.


" hmm..." jawab Zain manja sambil mengerucutkan bibirnya dan mengangguk anggukkan kepalanya hingga terlihat lucu di hadapan Alika.


" sejak kemaren aku tidak makan ...makanya aku lapar sekali "


Alika memelototkan matanya tak percaya, ia mencebik benar benar menganggap kata kata Zain hanya gurauan.


Alika dan Zain turun ke bawah, dengan sabar Zain menunggu Alika membuatkan nasi goreng untuknya hingga nasi itu terhidang di hadapannya ia segera meminta Alika untuk menyuapinya seperti biasa.


Zain makan dengan sangat lahapnya hingga membuat Alika terbelalak.


" kamu beneran lapar atau kelaparan ?! " tanya Alika tak percaya.


" ckkk....di bilangin nggak percaya " omel Zain


" emang kemaren kamu berasa nyuapin aku nggak ?! " Zain malah balik bertanya dengan terus mengunyah suapan dari Alika. bibirnya mengerucut dan keningnya mengerut.


" enggak sih...tapi di sana kan ada kak Nadira, aku rasa sama saja kan..aku atau dia " jawab Alika sambil meringis merasa bersalah.


Kemaren ketika Nadira datang dan mengajaknya keluar, ia tak lagi ingat akan asupan makanan Zain.


Hingga Zain pamit mengantar Nadira untuk pulang...ia samasekali tak terpikirkan akan makanana Zain.


Pria itu memang berubah menjadi bayi jika sedang bersama dengan Alika, ia hampir tak pernah menyuap makanannya sendiri bila ada Alika di sisinya.

__ADS_1


" ckkk...." Zain berdecak sambil melirik kesal kearah Alika, sementara Alika ia meringis tak enak hati dan merasa bersalah.


__ADS_2