
Pelataran mansion keluarga Al Kahfi telah terlihat tertata dengan rapi dan indah, para pekerja dengan seragam yang sama telah dari tadi terlihat sibuk dan hilir mudik menyiapkan segala sesuatunya. Juga para pria berbadan tegap juga ada beberapa wanita yang memakai pakaian serba hitam juga nampak bersiaga di sekitaran pelataran itu.
Di bagian tengah tersedia ruang kosong untuk para tamu wartawan yang akan dipersilahkan meliput klarifikasi yang akan di sampaikan keluarga besar Al Kahfi yang tekenal sebagi pebisnis handal dan kaya raya dari Timur Tengah itu.
Sedangkan di pinggir sana berjajar rapi meja meja prasmanan yang telah menyediakan berbagai macam makanan dan minuman untuk para tamu yang akan datang.
Tamu tamu para wartwan pun telah banyak yang berdatangan. Khususnya wartawan wartawan yang banyak meliput tentang dunia bisnis.
Tuan besar Al Kahfi telah mendarat bersama anak dan menantunya semalam.
Begitu juga mantan besannya...keluarga Ibrahim Khan yang turut membawa rombongan keluarga mereka kecuali Nadira Ibrahim Khan. Putri bungsu mereka.
Tuan besar Zain Al Kahfi sengaja menggandeng mantan besannya itu untuk mengklarifikasi semua berita yang ada. Dan keluarga Ibrahim Khan pun tidak keberatan dengan itu.
Mereka selalu mengingat hubungan baik di antara keduanya di masa lalu.
Rencananya, tuan besar Al Kahfi akan mengklarifikasi berita yang kadung menggelinding bak bola panas di media tentang pemberitaan yang menyangkut sang pewarisnya.
Selain karena masalah itu telah mempengaruhi perkembangan bisnis mereka, pria tua itu juga sangat mengkhawatirkan cucu menantunya berikut bayi kembar yang tengah ia kandung.
Apalagi ia sendiri yang turut menjaga di awal awal kehamilan wanita itu. Dia yang mati matian bolak balik Jakarta - Semarang demi memastikan keadaan Alika baik baik saja. Bahkan ia turut merasakan bagaimana bayi bayi itu mengerjai dirinya dengan memaksanya makan di emperan.
Ah....jika ingat itu, ia ingin sekali membawa istri dari cucunya itu, yang tak lain adalah wanita yang dulu pernah ia tentang ikut bersamanya ke Mesir.
Sebenarnya ia ingin melihat sendiri perkembangan kehamilan wanita itu.
__ADS_1
Tapi...rasanya itu sangat sulit terlaksana, mengingat basis pusat bisnis Zaidan ada di sini.
Jika mengingat itu,tuan besar marah marah sendiri.
Sepertinya anak itu memang sengaja melakukannya untuk menghindar jauh darinya...dasar bocah tengil.
Omelnya dalam hati.
" selamat malam......saya mengucapakan terimakasih karena anda semua telah bersedia meluangkan waktu untuk hadir memenuhi undangan kami..." terdengar suara Mycle membuka acara
Ketika semua keluarga Al kahfi dan juga keluarga Ibrahim Khan telah duduk berjajar di tempat yang memang di sediakan untuk mereka.
" seperti yang telah kami sampaikan dalam surat undangan kami, kami hanya memberi klarifikasi menyangkut berita yang membawa nama cucu dari pada tuan besar Zain Al Kahfi " lanjut Maycle.
Tak berapa lama nampak seorang pria tampan berwajah Timur Tengah memakai kemeja dan celana hitam juga kacamata hitam keluar dari mobil tersebut, kemudian ia nampak membuka pintu dan menuntun seorang wanita bercadar dan bergamis hitam.
Sorot kamera seketika mengarah kepada kedua orang itu. Yang tak lain adalah Zain dan Alika.
Para wartawan tak melewatkan kesempatan untuk mengambil gambar kedua orang itu.
Bukan hanya perhatian para wartwan yang teralihkan, tapi juga perhatian seorang pria yang turut duduk berjajar di depan sana.
" tundukkan pandanganmu Zubair.." Abdullah mengingatkan sang adik yang ia ketahui sedari tadi terus menatap kepada Alika.
" ck...dia seharusnya menjadi masa depanku kakak...seharusnya aku yang menggenggam tangannya " sahut Zubair tanpa rasa bersalah dan seketika mendapat pelototan pria tua yang duduk tak jauh darinya.
__ADS_1
Abdullah menyenggol bahu Zubair, Zubair menoleh dan menerima pelototan tuan besar Zain.
Pria itu segera menunduk, ia seketika ingat ancaman pria tua itu waktu itu.
Zain semakin erat menggenggam jemari Alika yang tiba tiba terasa dingin.
Alika dengan perut yang telah terlihat membuncit melangkah bersisihan dengan Zain,
Dengan sabar dan penuh kasih sayang Zain terus membimbing sang istri.
" dia adalah cucuku ....Zaidan Almeer Al Kahfi, dan wanita yang kini bersamanya itu adalah cucu menantu ku, istri sah cucuku..." tuan besar terdengar bersuara dengan suara lantang membuat perhatian sebagian orang terbagi kepadanya.
" dia adalah cucu menantuku...Malayka Khumaira Rasyid " kembali tuan besar memperkenalkan Alika ketika wanita itu telah berada di antara tuan
" sebentar lagi kami akan segera memperoleh cucu kembar " dengan bangga tuan besar Zain melanjutkan kata katanya.
Serempak mereka yang hadire mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan untuk keluarga Al Kahfi. Khususnya Zain dan Alika.
" lalu...bagaimana dengan nona Nadira, bukankah dia juga menantu anda tuan besar, istri dari tuan muda Kahfi ?! " tiba tiba sebuah pertanyaan dengan lantang terdengar.
Seketika suasana yang tadi riuh menjadi hening.
Alika semakin erat menggenggam tangan Zain yang menggenggamnya.
" kami telah lama bercerai..." tiba tiba sebuah suara dari arah belakang terdengar menjawab pertanyaan wartawan itu.
__ADS_1