Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 62


__ADS_3

Zain memeluk tubuh Alika yang menghadap kaca dan membelakanginya setelah bik Sumi dan Alex pamit keluar.


Keduanya masih berada di dalam ruang perawatan Zaidan.


" apa yang sedang kau rencanakan Malayka..."


Tanya Zain dengan berbisik kepada Alika.


" jangan bilang kau berencana membatalkan niatmu bersamaku dan akan pergi meninggalkan aku " lanjut Zain lagi. Ia semakin mendekap tubuh Alika dengan erat.


Alika menggeleng pelan.


" dia juga istrimu...dia berhak atasmu di banding aku, pulanglah....penuhi kewajibanmu padanya " pinta Alika dengan lembut.


Ia kini beralih membalikkan tubuhnya dan menghadap wajah tampan Zain.


Sungguh rumit sekali hidup mereka.


Zain menggeleng pelan.


" sudah aku bilang, pernikahan kami hanyalah sebuah kesepakatan bisnis...aku tak tahu kenapa Nadira bersikap lain seperti itu padaku...sejak awal di antara kami hanya ada kesepakatan semata " jawab Zain lesu.


" apa kau ingin menyesal seumur hidupmu, jika sampai terjadi sesuatu pada kakekmu karena ketidak pulanganmu sekarang "Alika kembali mengingatkan Zain.


" beri aku sedikit ruang untuk memenangkan hati keluargamu....antara aku dan Nadira, insyaAllah aku akan berusaha menerimanya " Alika melanjutkan kata katanya dengan mata yang berkaca kaca saat mengucapkannya.


Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang bersedia berbagi suami dengan wanita lain. Tapi....nasi telah menjadi bubur.


Pada kenyataannya, Zain memang memiliki dua orang istri dan dirinya hanyalah istri kedua.


Zain menghembuskan nafas berat.


Alika menangkup wajah tampan Zain, mengusap pipi yang kini tak lagi mulus karena di tumbuhi bulu bulu halus disana.


Mungkin karena dua bulan ini dirinya sedang menjalani pengobatan, Zain jadi kurang memperhatikan penampilannya.


" maukah kau berjanji satu hal padaku ?! " pinta Alika kepada Zain, air mata telah mengalir di pipinya. Ini memang sakit.

__ADS_1


" maafkan aku...karena keegoisanku ingin memilikimu, aku menempatkanmu di posisi yang sulit dan semenyakitkan ini " Zain berkata lirih penuh penyesalan.


Sungguh tak ia duga...keputusannya menerima syarat dari kakeknya dua tahun lalu dengan menikahi Nadira hanya karena ingin cepat kembali ke Indonesia untuk segera menemukan Alika, malah berbuntut kerumitan semacam ini.


" kumohon berjanjilah padaku..." sekali lagi Alika megulang kata katanya dan memohon kepada Zain.


" hmmm...." jawab Zain berat


" jangan minta perpisahan dariku, sungguh aku tidak akan sanggup....kau sudah janji padaku " Zain berkata dengan cepat, Alika menggeleng


" jika suatu hari nanti kau memilih keluargamu dan Nadira sebagai pendampingmu...." Alika sedikit menjeda kata katanya karena menahan sakit dan perih di hatinya. Zain membungkam mulut Alika dengan jari telunjuknya.


" dengarkan aku...biarkan aku bicara " kata Alika melepas jari telunjuk Zain dari bibirnya dan menggengam jemari Zain.


" jika suatu hari nanti kau tak lagi menginginkan aku berada di sisimu....kumohon katakan langsung kepadaku, aku berjanji aku akan menerimanya...." kata Alika tertunduk menahan isak.


Zain langsung meraup tubuh Alika, mendekapnya erat.


" jangan katakan apapun lagi...itu hanya akan melukai ku juga melukai perasaanmu " bisik Zain.


" baiklah aku akan pulang, tapi ingat...ini karena aku ingin memberi ruang kepadamu di hadapan keluargaku seperti yang kau minta " Zain akhirnya mengalah.


" pulanglah terlebih dulu dengan pak Boris, aku akan pergi ke mansion bersama Alex " minta Zain kepada Alika.


" hmmm..." jawab Alika pelan. Alika baru melangkah beberapa langkah ketika Zain kembali meraih tangannya.


" ada apa ?! " tanya Alika menoleh kearahnya.


" rindukan aku...ku mohon " pinta Zain. Kembali Alika tersenyum sembari mengusap tulang punggung tangan Zain yang memegang tangannya.


" tentu saja....kau....mimpikan aku " kata Alika kemudian.


" tentu saja...tanpa kau minta pun, aku selalu mempikanmu " jawab Zain dengan pasti dan tersenyum lebar.


Alika melepas tangan Zain pada tangannya dan segera berlalu meninggalkan kamar perawatan Zain.


Tanpa sepengetahuan Zain, Alika menghapus air mata yang telah mengalir tanpa permisi membasahi pipinya.

__ADS_1


Sangat mahal nilai yang harus ia bayar demi menerima konsekuensi dari pilihannya.


Berdamai dengan keadaan adalah satu satunya pilihan untuknya.


Berbagi Zain dengan Nadira itulah kenyataannya.


💦


Alika duduk di bangku taman belakang rumahnya, dres gamis warna khaki berikut kerudung instan warna senada mewarnai penampilannya.


Ia menatap tak berkedip ikan ikan koi peliharaan Zain yang berenang kesana kemari.


Bik Sumi datang membawa nampan berisi camilan dan air putih hangat. Minuman yang selalu di minta Alika untuk dirinya sendiri.


" nona sedang apa, anda baik baik saja...?! " bik Sumi bertanya sangat hati hati setelah meletakkan nampan yang ia bawa di meja depan Alika duduk.


Alika menoleh kearah bik Sumi dan tersenyum.


" aku baik baik saja bik..aku hanya sedang melihat ikan ikan itu " jawab Alika.


" anda merindukan pemilik ikan itu nona..." bik Sumi mencoba membuat suasana menjadi hangat.


Berhasil....Alika tertawa,


" tentu saja bik...aku merindukan pemiliknya, tapi aku sadar ...tak hanya ada diriku yang merindukannya " jawab Alika sendu.


" tuan muda hanya mencintai anda nona..."


" aku tahu bik...dan karena aku juga mencintainya, tak akan aku biarkan ia berkubang dosa karena melalaikan kewajibannya " jawab Alika lagi.


" mungkin aku terlihat munafik bik....aku akui ini tidaklah mudah...ini memang sakit, tapi aku harus menerimnya " tak terasa air mata mengalir di pipi Alika.


Bik Sumi mendekat dan memeluk bahu nona mudanya itu.


" percayalah nona....semua hanya akan terasa sulit pada awalnya saja, saat kita telah terbiasa itu akan terasa muda " bik Sumi mencoba memberi dukungan.


Alika mengangguk dalam pelukan bik Sumi.

__ADS_1


Malam semakim larut, angka jarum jam menunjuk angka satu dini hari. Alika baru saja selesai menyelesaikan aduannya kepada sang pencipta.


Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, ketika tiba tiba sebuah lengan kekar memeluk perut datarnya.


__ADS_2