
Hari ini adalah hari yang sangat di nantikan Ohan, matanya sedari tadi terus menatap kearah pintu ballroom hotel tempat acaranya di adakan.
Tadi pagi di sekolah Alika minta dijemput Amreeta saja, ia tidak mau Ohan yang menjemputnya. Dengan alasan dirinya malu, bagaimana yang berulang tahun malah menjemput tamu nya.
Akhirnya mau tak mau Ohan mengiyakan permintaan pujaan hatinya itu.
Tepat pukul delapan Alika dan Amreeta nampak memasuki pintu ballroom hotel. Senyum lebar segera tersungging di bibir sexy milik Ohan begitu ia melihat Amreeta masuk bersama Alika. Matanya sunguh terpesona dengan tampilan gadis cantik itu.
Alika sungguh memukau banyak tamu yang sebagian besar memang teman teman Ohan termasuk Ricko.
Alika mengenakan midi dress long tunik warna hitam yang di padukan denga rok warna putih juga kerudung warna putih yang menjuntai menutupi dadanya begitupun bagian belakangnya memanjang kebawah.
Tampilan Alika di luar sekolah memang selalu syar'i kecuali jika ia bekerja.
Dan Ohan sudah paham betuk akan hal itu.
Dengan langkah lebar Ohan segera mendekat dan meraih jemari Alika, ia tak memperdulikan gadis itu yang sebenarnya menolak genggaman tangannya.
" untuk kali ini biarkan aku menggenggam tanganmu.." bisik Ohan sembari membawa Alika ketengah ruangan diikuti Amreeta yang tampak senang dengan kegigihan Ohan meraih cinta sahabatnya itu, Ohan membawa Alika ke tengah ruangan dimana disana telah bertengger kue ulang tahun yang besar dan sangat indah tentunya.
" mama sama papa akan datang sedikit terlambat, sabar ya " bisik Ohan lagi kali ini di telinga Alika membuat gadis itu sedikit menjauhkan kepalanya karena Ohan yang seperti ingin mencium dirinya.
Jujur jauh di lubuk hatinya, Alika merasa sangat bahagia. Sebenarnya ia memang memiliki hati untuk pria tampan di sisinya itu. Akan tetapi ia memiliki kewajiban yang besar untuk menjaga marwah dirinya sebagai wanita muslim meski pria itu adalah pemilik hatinya. Hingga label halal melekat pada keduanya.
Namun perbedaan strata sosial membuatnya selalu menyadarkan diri berkali kali.
Interaksi Ohan dan Alika yang terlihat sangat mesra tak luput dari tatapan seorang pemuda tampan yang ada di atas tangga.
Zain menjadikan tangan kanannya yang menumpu pada realling tangga sebagai tumpuan tubuhnya yang sedikit melengkung kebawah, sedangkan tangan kirinya memegang gelas berisi minuman.
Matanya terus menatap tak berkedip dan tak pernah lepas dari sosok Alika sejak gadis itu mulai memasuki ruangan tadi.
Sesekali ia nampak menyesap minuman di tangannya sembari matanya terus menatap gadis yang terlihat sangat bahagia di bawah sana bersama sepupunya itu.
Ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya melihat pemandangan itu, senyum gadis itu yang nampak selalu tersungging untuk Ohan, sesekali pemuda tampan itu menggigit bibir bagian dalamnya karena menahan geram.
__ADS_1
Gadis itu sama sekali tak menyadari keberadaannya kah ? pikirnya penuh amarah.
Alika berpamitan kekamar kecil kepada Amreeta dan Ohan.
" biar aku antar " pinta Ohan
" tidak tidak perlu..aku hanya sebentar, aku tahu kok tempatnya " jawab Alika
" ok...jangan lama lama " pesan Amreeta dan Ohan.
Setengah berlari Alika menuju kamar kecil yang terletak agak jauh dari, hampir sepuluh menit Alika berada di dalam kamar kecil hingga ia nampak keluar dari sana.
Ia melangkah di koridor hotel dan ketika ia hampir mencapai tempat pesta, tiba tiba ada yang membekap mulutnya dan menyeretnya kesuatu tempat.
Kemudian dengan kasar tubuhnya di dorong masuk kedalam kamar yang segera tertutup begitu ia terdorong masuk kedalam.
Tubuh Alika hampir terjerembab jika saja seseorang tidak segera menangkap tubuhnya.
Harum maskulin segara menguar dari tubuh penolongnya itu dan hinggap di indra penciumnnya.
" maaf maaf...maaf aku tidak sengaja masuk, mak maksud ku...aku, aku....ada yang membawaku kesini , dia dia...mendorongku masuk kesini maaf maaf kan aku " Alika terbata bata, tubuhnya benar benar bergetar menahan takut. Tatapan Zain seakan menelanjanginya.
Alika menggosok gosokkan kedua tangannya tanda minta maaf. Alika segera berbalik badan hendak menuju pintu ketika ia melihat Zain mulai melangkah.
" mau kemana ?! " tanya Zain dingin
" maaf..sudah mengganggu anda "
" mau kemana aku tanya ?! " Zain mengulangi kata katanya sembari mendekat kearah pintu dan menguncinya kemudian melempar kunci itu kesembarang arah.
Alika membeliak di buatnya.
" kenapa di buang..bagaimana saya bisa keluar, sungguh maafkan saya...saya sungguh tidak sengaja masuk kesini " Alika semakin ketakutan di buatnya.
Zain menatap intens pada gadis di hadapannya itu, ia kembali melangkah maju mendekati Alika.
__ADS_1
" berhenti disana...mau apa anda, sudah saya bilang saya minta maaf " Alika semakin panik ketika Zain semakin dekat dengannya.
" kau sangat pandai berpura pura, tapi tak apa aku suka dengan gayamu.." ucap Zain dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Alika.
Alika semakin mundur hingga ia terjebak pada dinding dan Zain yang semakin mendekat kepadanya.
" apa maksudmu...minggir, aku mau keluar " kali ini Alika membentak, ia tak lagi berucap sopan.
Zain semakin mendekat dan berhasil menyentuh pipi Alika kemudian dengan pelan tapi pasti ia melepas kerudung gadis itu.
Alika menjerit tertahan, tak pernah ia terlihat rambutnya di hadapan orang lain meski itu Amreeta sekalipun.
Sementara Zain, pemuda tampan berhidung mancung itu terpana melihat kecantikan Alika yang semakin kentera ketika kepalanya tak berkerudung.
Rambutnya yang hitam panjang dan lurus sampai kepinggang terurai begitu indah, Zain menatapnya semakin intens.
" kau berdandan...?! " Zain menyadari ada sedikit kosmetik di wajah cantik Alika
" kau berdandan untuk siapa ? " tanya Zain lagi dan tak mendapatkan jawaban dari gadis itu, karena yang sesungguhnya Alika bingung dengan pertanyan laki laki di hadapannya itu.
Kenapa dengan dirinya yang berdandan, toh ini juga tidak berlebihan. Apalagi ia sedang menghadiri pesta.
" kau berdandan untuk siapa heh....?! " kembali Zain bertanya dengan wajah yang merah padam sembari tangannya mencengkeram dagu Alika membuat gadis itu meronta.
Zain di penuhi rasa cemburu yang besar yang ia sendiri tak menyadarinya. Ia mencium paksa bibir Alika.
Ia terus mencium bibir itu meski Alika terus menolak dan meronta.
Zain memegang tengkuk Alika dan kembali mencium dengan paksa bibir yang tiba tiba menjadi candu baginya itu karena ia merasakan manis di sana.
" apa dia juga menciummu seperti ini hah ?! " kata Zain setengah membentak pada Alika dan terus melanjutkan aksinya.
Alika terus memberontak dan menolak, namun sungguh kekuatannya tak ada setengahnya dari kekuatan Zain. Apalagi pria itu yang sudah seperti orang yang kesetanan.
" setelah ini aku pastikan kau hanya akan mengingat ciumanku, hanya akan ada jejak diriku di tubuhmu "
__ADS_1