
Alika akan melangkah keluar dengan masih mengenakan mukena bagian atasnya ketika Zain menghentikan langkahnya.
" tunggu..." cegah Zain.
Alika menoleh dengan tatapan tak sukanya.
Tanpa bicara Zain menunjukkan luka luka di punggung punggung kedua tangannya.
Jelas luka itu akan terasa sakit
" ada apa ?! " tanya Alika sedikit bingung meraba maksud pria itu.
" sakit...jawab Zain dengan wajah memelas "
Alika mengerutkan keningnya, ia melangkah kearah meja riasnya dan menarik laci di sana kemudia mengambil kotak obat di sana.
Ia mendekat kearah Zain dan Zain segera mengarahkan kedua tangannya kepada Alika.
Gadis itu menghela nafas. Ia menarik kursi dan mulai mengobati luka Zain.
" kau suka melihatku begini ?! " tanya Zain pelan pada Alika membuat Alika melirik sejenak kepadanya.
" sepertinya kau memang suka melihat tubuhku yang sexy, buktinya kau lebih senang melihatku telanjang begini dari pada memakaikan aku baju " oceh Zain.
Alika tak menjawab sedikitpun. ia terus melanjutkan aktifitasnya mengobati luka Zain hingga selesai.
" pakaianku di koper itu.." kata Zain terdengar lagi.
Alika bediri kemudian melangkah kearah koper yang di tunjuk Zain. Memgambil pakaian Zain di sana dan menyerahkan nya pada Zain.
" aku tunggu di luar, aku ingin bicara " kata Alika kemudian ia melanhkah keluar dengan cepat.
Zain tertawa lirih di buatnya.
Beberapa menit kemudian Zain keluar dari kamar Alika dan segera mendekat kepada Alika.
Alika menunggunya di ruang tengah. Ruang tamu sudah bersih dan rapi. Tadi dia sempat melihatnya sebentar.
Di meja telah tersedia teh dan makanan ringan.
Ia ingin mencoba membujuk Zain untuk tidak menikahinya.
Zain duduk di hadapan Alika dengan wajah yang terlihat sangat tampan.
" ada apa ...?! " Zain membuka obrolan. Alika menyiapkan hatinya mati matian.
" mari kita bicara dengan benar..." kata Alika dengan suara sedikit bergetar.
" hmmm.." Zain
" kita bukan lagi anak SMA umur 18 tahun lagi, bicara soal pernikan itu..." kalimat Alika terpotong
" satu minggu lagi kita menikah..."
" dengarkan aku..kita "
" tiga hari lagi..." Zain menjawab lagi, Alika di buat frustasi olehnya.
" pernikahan harus dengan persetujuan dua belah pihak dan aku tidak setuju dengan pernikahan ini "
__ADS_1
" oh ya..." Zain.
" aku mencintai orang lain, aku tidak mungkin menikah denganmu " kata Alika kemudian.
Alika tiba tiba merasakan hawa dingin menerpa wajahnya ketika melihat wajah Zain yang telah berubah muram.
" kita akan tetap menikah " jawab Zain dengan tatapan tajam, hatinya sungguh perih mendengar pengakuan Alika.
" aku tidak bisa...aku...."
" beri aku seorang anak dari rahimmu...setelahnya aku akan biarkan kau memiliki hidupmu sendiri " kata Zain kemudian dengan tegas.
Alika terperangah di buatnya.
Apa maksud pria ini...apa Zain hanya menginginkan anak darinya tapi tidak dengan dirinya. Inikah alasan Zain sebenarnya ? Pikir Alika. Alika seakan semakin membenci pria di hadapannya itu.
Entah mengapa ada setitik rasa sakit dihatinya karena pemikirannya sendiri itu.
" aku tetap tidak setuju..." kata Alika mencoba menutupi luka yang tiba tiba ia rasakan.
" kau akan setuju.." kata Zain sembari menyerahkan handphonenya kepada Alika
" hallo...assalamualaikum Alika " sapa seseorang dari kejauhan sana yang suaranya sangat Alika kenal.
Ibu kepala panti. Sosok seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya.
" ibu...walaikum...salam " Alika terbata menjawabnya karena sangking terkejutnya, bagaimana Zain bisa menelpon ibu kepala panti pikirnya
" bagaimana kabarmu nak...kamu sehatkan ?? "
" alhamdulillah sehat bu...ibu bagaimana ? "
" alhamdulillah sehat nak...ini semua berkat suamimu, ia datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan kami dari penggusuran nak...juga adik adikmu. Maaf kami tidak bisa menghadiri pernikahanmu.." terang ibu kepala panti membuat Alika semakin tercengang.
" terimakasih ibu "
telepon terputus.
Alika diam terpekur di tempatnya, ia melihat wallpaper hand phone Zain adalah foto dirinya yang masih berseragam abu abu putih dulu. Dan smart phone itu sama persis dengan smart phone yang pria itu berikan padanya.
Dan apa barusan....kenapa ibu panti berterimakasih kepada Zain dan mengira Zain adalah suaminya.
" jika aku bisa menyelamatkan mereka dari penggusuran aku juga bisa menjadikan mereka korban penggusuran " kata Zain membuat Alika menatapnya nyalang.
" tanah tempat bangunan kami bukan tanah terlarang...." sinis Alika.
" kalau memang seperti, seharusnya kau paham seberapa besar kekusaanku sekarang " jawab Zian tak kalah tegas, sungguh Alika tak ada apa apanya di bandingkan dengan kewibaan seorang Zaidan Almeer Al Kahfi.
Di hapadan pria tampan berhidung mancung itu, Alika di buat tak berkutik sama sekali. Bagaimanapun ia memutar otaknya untuk melawan pria ini...ujung ujungnya ia tetap tunduk di hadapannya.
Zain mengambil hand phone dari tangannya.
" Tidurlah ini sudah malam. Mulai besok jadwal mu akan sangat padat atau kalau tidak aku yang akan menidurimu " Zain berucap sembari menidurkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Ia menggunakan satu tangannya untuk menutupi matanya.
Alika tercekat, tapi dengan cepat ia segera masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya rapat rapat.
" andai kau tahu apa saja yang sudah aku lewati karena mencarimu...masih kah kau memperlakukan aku seperti ini ?? " desis pelan Zain.
__ADS_1
Pagi hari, Alika telah terbangun lebih dulu..
Tapi ia tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
Suara panggilan seseorang membuatnya terpaksa keluar kamar.
" Alika.....yuhu....aku datang "
Alika buru buru berlari kearah pintu dan membukanya, ia berniat mendorong seseorang yang tak lain adalah Santika dan Amreeta keluar pintu tapi gagal.
Kedua sahabatnya itu langsung masuk begitu saja menuju meja makan yang menjadi satu dengan ruang tengah.
Kedua orang itu belum menyadari seseorang yang kini tengah tidur di sofa depan televisi.
Santika dan Amreeta mengeluarkan bubur ayam bawaan mereka dan makanan lainnya, ini adalah hari sabtu yang merupakan hari berkumpul untuk mereka.
" ini untukmu nona cantik..." kata Amreeta sembari menyodorkan bungkusan kedepan Alika yang wajahnya nampak kebingungan.
" kenapa denganmu...seperti habis melihat hantu saja..." kata Amreeta yang di jawab dengan cekikikan Santika sehingga membuat suasana sedikit ramai.
Alika menggeleng, ia berharap kedua sahabatnya itu tak menyadari kehadiran seseorang di sana.
ketiganya mulai sarapan bersama dengan di selingi obrolan khas wanita. Hingga sebuah deheman membuat ketiga orang itu menoleh kearah sumber suara.
" ekhemmmm....." Zain berdehem dengan keras.
Ketiga gadis itu tak ayal menoleh kearahnya dengan wajah sangat terkejut. Terutama Santika dan Amreeta.
Amreeta menutup mulutnya tak percaya dengan yang ia lihat.
" Al....katakan padaku, apa kau juga melihat yang aku lihat ?! " tanya Amreeta pada Alika.
Alika hanya terdiam membisu.
" siapa dia Al ?! " kini giliran Santika yang bertanya.
" aku suami Malayka...kau belum tahu itu ?! "jawab Zain ketus. Kemudian ia nampak melangkah menuju kamar Alika membuat mata kedua sahabat Alika itu semakin membelalak tak percaya.
" Al...di..di..dia Zaidan, dia Zain...dia..kalian...semalam kalian....oh Alika apa yang kau sembunyikan dari kami. Dia bilang dia...dia suamimu, jadi kau dan dia sudah sudah......" cerocos Amreeta seakan tak percaya.
Alika berusaha menjelaskan yang terjadi kemaren, tapi belum sempat ia menyelesaikan penjelasannya Zain telah keluar lagi dan kini malah turut duduk di meja makan bersama mereka.
Alika tertegun melihatnya.
" aku mau sarapan...perutku lapar sekali " katanya, sungguh wajah tampan Zaidan menghipnotis Santika dan Amreeta.
Tapi tidak dengan Alika. Gadis itu tersenyum hambar kepada kedua sahabatnya itu.
Santika mendorong kotak berisi bubur kehadapan Zain, tapi Zain kembali mendorongnya jauh darinya.
" aku mau masakanmu..." ucap Zain lagi sambil menatap kearah Alika.
Tak kunjung mendapatkan jawaban Zain kini bergantian menatap Santika dan Amreeta.
" kalian masih ada yang sedang ingin di bicarakan dengannya ?! " tanya Zain. Santika dan Amreeta sadar akan sesuatu.
" bukankah ini masih terlalu pagi untuk kalian mengajaknya sekedar untuk bergosip ?! " imbuh Zain lagi membuat dua wanita cantik itu segera berpamitan pulang.
Alika melepas kepergian dua sahabatnya itu dengan tatapan sendu dan seakan berkata.
__ADS_1
" tolong jangan pergi..
Atau bawa aku bersama kalian "