Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 107


__ADS_3

Semua mata menatap penuh tanda tanya kepada tuan besar Zain dan sibuk mengartikan kata kata tuan besar Al Kahfi itu di pikiran masing masing.


Zain tiba tiba telah duduk pada pegangan tangan di kursi yang di duduki oleh Alika, hingga posisinya sedikit diatas Alika dan menghalangi pandangan Zubair kearah Alika dan itu memang ia sengaja.


Tadi ketika menerima telepon, ia di buat merah padam dan terbakar karena ulah tuan muda Khan itu. Yakni.... pria itu yang dengan tanpa sungkan dan malunya berani terang terangan menatap tak berkedip sang istri. Tatapannya penuh puja pada Alika dan itu benar benar membuat Zain ingin sekali menghajar pria yang baginya tak tau diri itu.


Sebenarnya...perilaku Zubair itu sangat mengingatkan dirinya akan perilakunya sendiri di masa lalu kepada Alika, dulu saat saat pertama ia baru melihat dan bertemu Alika....


Ia yang seakan tak mampu mengalihkan pandangannya dari seorang Malayka Khumaira Rasyid, hingga ia terus menatap setiap pergerakan gadis itu. Hingga berakhir dengan dirinya yang memaksakan diri untuk memiliki wanita itu.


Meski ia harus menggunakan cara nekat dan ekstrim yang akhirnya menghasilkan trauma pada Alika hingga sekarang.


Oleh karena itu, ia merasa khawatir...Zubair pun akan memiliki pemikiran nekat sama seperti dirinya dulu.


Tangan kiri Zain kini nampak memeluk bahu Alika dengan posesif.


Alika yang di perlakukan seperti itu merasa sedikit tak nyaman, ia merasa sungkan karena Zain melakukannya di hadapan keluarganya. Tanpa ia berfikir sedikitpun tentang salah satu orang di sana yang menjadi alasan terkuat Zain melakukan itu kepadanya.


Namun Zain tak bergeming, ia bahkan sesekali mengusap puncak kepala Alika yang tertutup hijab untuk kemudian mengecupnya sesaat membuat Alika semakin kikuk dan serba salah.


Zain seolah ingin mengikrarkan kepada sosok di sebelah sana, bahwa hanya dirinyalah yang berhak atas diri wanita itu.


Sementara yang lain hanya tersenyum menanggapi perilaku Zain itu, hanya tuan besar yang mencebik melihatnya


" jangan pencitraan kau anak muda " ocehnya pada Zain dan di tanggapi oleh pria itu dengan mengangkat bahunya saja sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Sedangkan Zubair, laki laki itu benar benar di buat mendidih darahnya melihat perlakuan Zain pada Alika. Tiba tiba saja wajahnya semakin menjadi merah padam ketika melihat Zain mengambil alih tisu di tangan Almayra dan ganti dia yang kini mengusap peluh di wajah Alika.


Tangan Zubair mengepal erat di bawah meja, hingga buku buku jarinya nampak jelas terlihat.


" andai Wanita ini adalah cucuku...aku pastikan bocah itu sudah tak bernyawa, bahkan mayatnya saja tidak akan dapat di temukan " terang tuan besar Zain melanjutkan kata katanya.


Ia merasa sangat geram kepada Zain, ia ingin mengusap atau memeluk wanita hamil itu sebagai tanda terima kasihnya karena telah mengandung pewarisnya tapi tak bisa karena terhalang trauma Alika kepada laki laki yang di sebabkan oleh prilaku Zain kepada wanita itu.


Zain menatap aneh kepada sang kakek,


" apa.... kau tak terima....asal kau tahu, andai aku di suruh memilih antara kau dan dia.." kata tuan besar Zain menunjuk Alika dan Zain bergantian.


" aku akan lebih memilih dia.


di banding kamu sekarang.....kau tahu....?! " imbuh tuan besar Zain lagi kepada Zain sambil seakan mengejeknya, kali ini Zain mengerutkan keningnya.


" tidak...dengan memilihnya aku bahkan akan memiliki dua " jawab tuan besar Zain sambil mencemooh Zain lagi dan menuding Alika dengan dagunya hingga di sambut tawa dengan yang lain.


" tetap saja kakek...tanpa aku, dia tidak akan bisa memberimu apa apa " kata Zain tak mau kalah.


Alika meremat paha Zain yang ada di sampingnya sambil melotot karena malu.


Bisa bisanya pria itu bicara tak tahu malu begitu....pikirnya. Zain hanya mengaduh manja kepada Alika yang membuat wanita hamil itu semakin salah tingkah.


Sungguh pemandangan yang romantis yang di lihat oleh orang orang itu di antara Zaidan dan Alika.

__ADS_1


Begitupun di mata Nadira, ia tersenyum lebar melihat senyum di wajah Alika.


" sungguh sekarang kau telah mengambil alih posisi ku Alika..." kata Nadira kepada Alika dengan wajah yang nyengir pura pura kecewa.


" mereka semua kini hanya sayang dan memperhatikanmu.." lanjutnya lagi pura pura sedih.


" ah..tidak tidak kakak, aku..." Alika berkata dengan gugup, sontak semua tertawa melihat itu...begitupun dengan Nadira.


" tidak Alika...aku hanya bercanda, kakek tetap akan menyayangiku kan ?! " jawab Nadira kemudian sambil menoleh kepada Kakek Zain yang duduk di hadapannya.


Pria tua itu pun tersenyum lebar.


" tentu saja...kalian berdua adalah hartaku yang berharga. Kau ingat tuan Barnad....jika kau berani menyia nyiakan wanita ini...maka bukan hanya keluarga Ibrahim Khan saja yang harus kau hadapi, tapi juga keluarga Al Kahfi juga " lanjut tuan besar Zain sambil menuding kearah Ricko.


" bukan begitu Osmand ?! " kini tuan besar Zain menoleh kepada sang putra yang tak lain adalah ayah dari Zaidan.


" tentu saja papi....dia juga harus berhadapan denganku jika berani melakukan itu " jawab tuan Osmand dengan yakin dan tegas.


Ricko dengan cepat menegakkan tubuhnya.


" terimakasih karena telah begitu menyayangi istriku...aku berjanji aku akan menyanyanginya dan aku pastikan ia akan mendapatan kasih sayang melebihi kasih sayang yang telah kalian berikan kepadanya " jawab Ricko dengan yakin pula, ia yakin kedua orang tuanya akan sangat menerima Nadira dengan senang hati.


Dulu sekali...ketika ia baru lulus SMA dan kebetulan kedua orang tuanya berada di Indonesia, ia pernah mendengar sang ibu memuji seorang nona muda dari keluarga Ibrahim Khan karena kesopanannya dan juga kecantikannya.


Saat itu mereka sedang ada pertemuan bisnis, dan Nadira datang menemani mendiang sang kakek.

__ADS_1


" minggu depan kedua orang tua dan keluarga besar ku akan datang kepada anda tuan Ibrahim.." lanjut Ricko dan di angguki oleh tuan Ibrahim dan juga Zainab.


Sementara Abdullah dan Zubair hanya melirik tak respek kearah Ricko.


__ADS_2