
Zain dan Alika telah berada di dalam mobil, Zain memutuskan menyetir sendiri tanpa Alex.
Selama perjalanan tak ada yang saling bicara di antara keduanya. Alika sibuk menatap kearah luar jendela. Memperhatikan lampu lampu jalan yang mulai menyala.
Sementara Zain, kepalanya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Pernikahannya dengan Alika telah berlangsung hampir empat bulan, tapi belum juga ada tanda tanda Alika hamil.
Perusahaan yang ia pimpin kini pun telah mulai berkembang pesat.
Zain memarkir mobilnya di bastmant apartement. Kemudian ia mengikuti langkah Alika menuju lift.
Sampai di apartemennya Alika langsung masuk ke dalam kamar mandi kamarnya.
Hampir lima belas menit Alika berada di sana dan baru keluar setelahnya dengan telah mengenakan dres gamis rumahan. Dengan rambut yang di bungkus handuk.
Zain yang duduk di pinggiran tempat tidur terus memperhatikannya. Keduanya kembali saling diam dengan pemikiran masig masing.
Kemudian Zain pun berlalu meninggalkan Alika tanpa sepatah kata.
Di bawah sana ia menghampiri Bik Sumi dan bik Anti menitipkan Alika pada mereka sebelum ia benar benar melangkah keluar apartemen itu.
Alika duduk di sofa yang ada di kamar itu, dan seperti biasa ia akan mengangkat kedua lututnya hingga sejajar dengan dadanya kemudian memeluk lutut itu dengan kedua tangannya. Seolah ia menemukan ketenangan dengan posisi itu.
" cklek..." pintu terbuka, bik Sumi masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
Dengan sabar dan tanpa banyak tanya, wanita paruh baya itu menyuapi Alika dengan sangat telaten.
sembari menyuapi..bik Sumi menyisir rambut panjang Alika.
Tak ada perbincangan, itulah yang selalu di lakukan bik Sumi kepada Alika setiap kali Zain tidak ada di rumah.
Sementara bik Anti memperhatikan dari balik pintu. Raut wajahnya sedih dan matanya yang berkaca kaca setiap kali meihat kondisi wanita cantik itu.
Baru berjalan lima bulan pernikahan mereka tapi wanita itu sudah terlihat sangat kurus di banding pertama kali mereka bertemu dulu.
" anda baik baik saja nona...?! " bik sumi kini yang duduk di hadapannya memulai perbincangan, berharap mendapat respon yang baik dari Alika
" hmmmm..." jawab Alika sambil terus memperhatikan keluar jendela, atau lebih jelasnya balkon.
__ADS_1
" nona...anda harus selalu baik baik saja..." kata Bik Anti ikut menyusul bik Sumi duduk di hadapan Alika.
Alika terdengar menghembuskan nafasnya, kemudian ia terlihat melepaskan kedua tanganannya dari kedua lututnya dan menyadarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
" aku akan selalu baik baik saja bik....jangan khawatir " jawab Alika sembari memejamkan matanya.
Ia mencoba melepaskan rasa lelah di tubuh dan otaknya.
Satu jam, dua jam..tak terasa telah tiga jam Alika dalam posisi seperti itu. Diam tak bergerak.
Selama itu pula bik Sumi dan bik Anti setia menemaninya.
Malam telah semakin larut ketika Zain masuk kedalam kamar, bik Sumi dan bik Anti segera keluar dari kamar. Zain mengangkat tubuh ringkih Alika dan memindahkannya keatas tempat tidur kemudian menyelimutinya.
Beberapa saat setelah ia selesai membersihkan dirinya, Zain turut naik keatas tempat tidur. Masuk kedalam selimut yang sama, memeluk perut datar Alika dengan lengannya dan satu lengannya ia tempatkan untuk bantalan Alika.
Ia membenamkan wajahnya di punggung Alika karena gadis itu yang tidur membelakanginya.
" maafkan aku..." desisnya tertahan, bahu Zain sedikit naik turun tertahan. Ia menangis dalam diam. Perih hatinya melihat Alika seperti tadi.
" cepatlah hamil...aku tidak akan sanggup jika aku harus kehilanganmu " imbuh Zain lagi di sela sela isaknya.
" bertahanlah sebentar lagi di sisiku...kau adalah hidupku " bisik Zain lagi nyaris tak terdengar.
Sementara itu nun jauh di sebuah rumah besar bertingkat yang sangat mewah, yang lebih di kenal orang orang dengan sebutan mansion.
Seorang wanita cantik dengan pakaianya yang tipis dan trasparan sehingga menampilkan bentuk lekuk tubuhnya nampak memegang erat tiang balkon kamarnya di belakang tubuhnya sembari matanya menatap kosong lurus kedepan.
Flass on
Setelah kedatangan keluarga Nadira di mansion tuan besar Zain, Nadira dan Zaidan nampak masuk kedalam kamar.
Namun berbeda dengan Nadira yang sibuk mempersiapkam diri untuk sang suami
Zain nampak sibuk dengan terus memperhatikan layar smart phone nya.
Dengan pakaian tipisnya Nadira mendekat kepada Zain,
__ADS_1
Mendengar langkah kaki mendekat, Zain menolehkan kepalanya dan betapa terkejutnya Zain melihat Nadira datang kepadanya dengan pakain tipis dan transparan seperti itu.
Meski pakaian itu berlengan panjang dan juga panjang ke bawah, namun kainnya yang tipis dan trasparan mampu memperlihatkan apa saja yang ada di dalam kain itu.
Dan sungguh pemandangan seperti itu akan mampu mengalihkan dunia laki laki manapun yang melihatnya.
Tubuh sintal dan belahan dada yang besar milik Nadira. Di lengakapi kulit putih nan berkilat. Belum rambut panjang bergelombangnya.
Nadira benar benar tampil bak seorang bidadari yang memabukkan malam ini di hadapan Zaidan Almeer Al Kahfi.
" Nadira..apa yang kau lakukan ?! " tanya Zain
" aku istrimu Zain...seharusnya aku sudah melakukannya sejak dulu " jawab Nadira, dengan beraninya ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Zain. Aroma wangi yang memabukkan segera menyeruak kedalam rongga penciuman Zain.
Belum sempat Zain menolak, Nadira telah mencium bibir Zain yang seksi dengan dalam.
Ah...wanita mana yang tidak tergoda pada tubuh apalagi bibir sexy seorang Zaidan Almeer Al Kahfi. Terbersit kebanggaan dihati gadis ini pada sosok pria yang kini dalam pelukannya itu.
Zain menarik kedua lengan Nadira yang melingkar di lehernya dan menarik bibirnya hingga ciuman Nadira kepadanya terlepas.
" jangan menjadi wanita murahan Nadira..." sentak Zain.
" seorang istri akan berpahala jika bertingkah murahan di hadapan suaminya Zain.." jawab Nadira tak mau kalah.
" aku berhak atasmu...kau tahu itu " sambung Nadira lagi, Zain sungguh telah di buat merah padam oleh perilaku Nadira saat ini.
Sungguh ia tak mampu melakukannya pada Nadira. Bayang bayang Malayka menari nari di kelopak matanya.
" aku pergi..." Zain segera akan berlalu dari sana.
" aku lebih halal untukmu dari pada wanita murahanmu itu Zain " Nadira sedikit bicara keras.
" jaga bicaramu Nadira...dia bukan wanita murahan " jawab Zain ketus sambil menolehkan kepalanya kepada Nadira. Dingin dan mengerikan...itulah yang Nadira tangkap dari tatapan Zain padanya kali ini.
Nadira mundur beberapa langkah kebelakang, sementara Zain melanjutkan langkahnya keluar kamar itu. Tak perduli meski waktu telah menunjukkan tengah malam lebih, ia memutuskan pergi meninggalkan mansion utama milik kakeknya itu.
" kau telah berbuat dosa Zaidan..." desis seorang pria tua yang memperhatikan Zaidan keluar dengan mobilnya keluar mansion dari atas sana. Tepatnya balkon lantai tiga kamarnya.
__ADS_1