
Alika duduk bersandar pada dinding diteras masjid. Di tatapnya hand phone yang ada di tangannya yang hanya menyimpan satu no saja.
Yang tersimpan dengan nama
" PEMILIK "
Flass on
Alika hendak masuk kedalam kamar asramanya setelah berhasil meminta Zain untuk segera pulang dengan susah payah dan akhirnya berhasil dengan sebuah janji kalau dirinya akan hadir sebagai suporter Zain besok di pertandingan basket.
Sebuah suara pesan dari smart phone tertangkap telinganya.
Alika kebingungan, pasalnya ia merasa tak membeli hp setelah hp nya di banting oleh Zain di apartemen pemuda itu beberapa waktu yang lalu.
Kembali suara itu terdengar dan semakin sering, Alika merogoh tasnya.
Ia terkejut karena menemukan sebuah smart phone di sana. Ia membukannya dan segera ia tahu hanya ada satu no di sana.
* kado sebagai tanda kamu milikku * sebuah pesan tertulis utuk Alika dengan emoticon cinta.
Alika sekan di buat tak percaya, kulkas berjalan itu bisa berbuat seromantis itu. Bahkan manamai dirinya sendiri sebagai " PEMILIK"
Tanpa sadar senyum tersungging di bibir Alika.
Baru masuk ke dalam, kembali terkirim sebuah pesan.
* kangen...*
* kangen...*
* kangen...*
* kangen...*
Banyak sekali pesan yang sama yang dikirim oleh Zain kepadanya, membuat Alika tertawa tanpa sadar.
Tawa lebar dan bahagia yang tak pernah terlukis di bibirnya selama ini.
Tanpa Alika sadari, pemuda yang ia beri label pemaksa itu justru mampu melukiskan tawa bahagia di wajahnya.
Flass of
Alika menghela nafas, ia berdiri dan bermaksud melaksanakan shalat. Hari telah gelap pertanda malam mulai datang.
Sementara itu Zain yang telah berada di depan kamar Alika berteriak teriak memanggil Alika
__ADS_1
" Malayka...keluar kamu, aku tahu kamu di dalam " teriak Zain berkali kali
" mas Ali..maaf, tapi memang benar mbak Alika tidak ada di dalam " kata pak Sabar pada Ali, Ali mengangguk mengerti.
" Zain...sabarlah, Alika memang belum pulang " Ali mencoba menenangkan Zain.
" buka pintu itu..atau aku akan mendobraknya " perintah Zain pada Pak Sabar, dan akhirnya dengan sangat terpaksa pak Sabar kemudian membuka pintu itu.
Keadaan Asrama sangat sepi karena para penghuni asrama yang masih mengikuti kegiatan di sekolah.
" Malayka..." Zain langsung menerobos masuk kedalam kamar itu begitu pintu terbuka.
Tubuh Zain jatuh merosot ke lantai begitu menyadari Alika memang tak ada di sana.
Sangat lama ia jatuh terduduk di lantai, otaknya benar benar ngeblank.
Ia merasa tak sanggup jika tidak bertemu dengan gadis itu untuk tahu ada masalah apa sebenarnya.
Bukankah kemaren sampai tadi tidak ada apa apa, mereka baik baik sajakan. Lalu sekarang...kenapa tiba tiba gadis itu mengiriminya pesan seperti itu.
Hari telah semakin gelap ketika Zain bangkit dari duduknya. Sebuah nama terlintas di otaknya sebagai orang yang ia anggap mampu bertanggung jawab atas semuanya.
Ali yang juga masih setia menemaninya dengan duduk di depan pintu segera mengikuti Zain yang telah melajukan motornya keluar asrama.
Alika memang sudah menduga Zain akan mendatangi asramanya, karenanya ia memutuskan bersembunyi terlebih dahulu.
Sesampainya di asrama Alika langsung masuk kedalam kamar, ia terkejut karena pintu yang tiba tiba terbuka.
" ada apa mbak Alika ?! " tanya Bu Ani. Alika seketika menghambur memeluk bu Ani dengan di saksikan pak Sabar yang turut masuk kedalam kamar itu dan buru buru menutup pintu takut di lihat yang lain dan di laporkan kepada Zain.
Entah kenapa melihat kemarahan Zain tadi membuat dua orang itu prihatin kepada gadis yatim piatu di hadapannya itu.
" tolong bantu saya bu Ani...saya tidak punya siapa siapa disini...saya harus pergi " pinta Alika berulang ulang dengan wajah memohon.
Bu Ani akhirnya memutuskan menolong Alika, meski ia tak tahu ada masalah apa sebenarnya diantara muda mudi berlainan kasta ini.
sebagai seorang wanita yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, dapat ia rasakan cinta yang besar di mata seorang Zaidan Almeer Al kahfi pada gadis cantik yang kini nampak sangat menyedihkan dihadapannya itu. Begitupun dengan Oham Omar Yusuf.
Bisa di bilang Alika sangat beruntung karena mampu menarik perhatian dua pangeran tampan itu.
Tapi sepertinya kenyataan tak sesuai perkiraan,
Wanita paruh baya itu membantu gadis itu berberes pakaiannya, memberikannya alamatnya di kampung agar gadis itu bersembunyi di rumahnya yang ada di kampung.
Ya Bu Ani memutuskan menolong Alika dengan memberikannya tempat untuk bersembunyi.
__ADS_1
Dan ibu Ani juga berjanji akan mengurus semua urusannya paskah kelulusannya.
Pak Sabar memesankan taksi kemudian ia membuat cctv selama dua hari belakangan seperti rusak hingga hari ini dan nanti sampai Zain menanyakannya.
" Ohan.....keluar kamu, Ohan...." Zain yang kalap berteriak teriak tak karuan memanggil manggil nama sepupunya itu, sesampainya ia di rumah besar nan mewah kediaman keluarga tuan Althan Omar Yusuf dan Namira Omar Yusuf yang merupakan kedua orang tua Ohan sekaligus om dan tante dari Zain sendiri.
Ohan yang sedang berada di balkon rumahnya dan sedang berusaha menghubungi Alika sejak tadi namun selalu gagal terkejut dengan teriakan Zain padanya. Segera pemuda tampan itu berlari turun kebawah.
" ada apa ini Zain...kenapa kau berteriak teriak seperti orang gila seperti itu " omela Ohan.
" di mana Alika...berhenti mendekatinya Ohan, dia milikku " Zain tak mampu lagi mengendalikan perasaannya, ia berfikir Ohanlah dalang di balik menghilangnya Alika.
Ohan terkejut di buatnya, ia menatap sejenak kearah Ali yang baru saja datang seolah meminta penjelasan. Namun Ali hanya menggeleng saja.
" apa maksudmu Zain...Alika kekasihku " Ohan pun tersulut emosi mendengar klaim sari Zain tentang Alika.
" yang kau dengar tidak salah Ohan...Alika memang milikku, jadi berhenti mendekatinya apalagi ikut campur urusan kami " oceh Zain lagi.
" berhenti omong kosong Zain, kau sama sekali tidak mengenal Alika...bagaimana kau mengakui dia sebagai milikmu ?! Alika kekasih ku Zain...dia calon istriku " jawab Ohan.
Bugh...bugh, Zain meninju Ohan dua kali membuat sepupunya itu terhuyung dan mundur kebelakang.
" lancang...Alika milikku, semua yang ada padanya bahkan aku tahu. Beraninya kau mengaku ngaku "
buhg....
Giliran Ohan menghantam wajah Zain,
" jadi kau dalang di balik wajah sedihnya akhir akhir ini, bajingan kau....brengsek kau Zain" Pertikaian yang berakhir adu jotos tak terelekkan, keduanya sama sama memiliki kemampuan yang tinggi tentang olah fisik. Ali hanya mampu melongo tanpa mampu berbuat apapun.
Hingga Ohan yang sudah terkapar di lantai dan Zain yang menindihnya hendak melayangkan kembali tinjunya di wajah Ohan, namun terhenti karena teriakan seseorang dari dalam rumah.
" hentikan Zain...kau sadar siapa yang tengah kau pukuli itu ?! " seorang wanita cantik berusia 40 tahunan dan hampir mirip dengan mamynya datang mendekat kearah keduanya.
Seorang pria tampan yang hampir mirip dengan Ohan berada di sisinya.
Zain menarik diri tubuh Oham yang ia tindih.
Ohan masih tetap terkapar di lantai.
Zain berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata.
Namira ibu Ohan adalah salah satu orang yang sangat ia hormati setelah kedua orang tuanya juga para tetua yang lain di keluarganya.
Namira memanggil Ohan berkali kali, tapi keponakannya itu telah melesat jauh bersama motornya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1