
Mendengar penuturan Zain, Nadira menatap Alika dengan tatapan yang semakin sendu.
Hatinya tiba tiba turut merasa peri.
Yatim piatu...bahkan kemaren status itu ia gunakan untuk menyakiti mental wanita malang itu...desis Nadira dalam hati.
Penyesalan seakan menghujam sanubarinya. Apa yang sudah ia lakukan selama ini...bagaimana dia tega melakukan hal hal menyakitkan itu pada Alika.
Bukankah sebenarnya keduanya berada dalam posisi yang sama.....korban keadaan.
Kembali Nadira bermonolog dalam hati
Wanita mana yang tak akan hancur hidupnya bila mengalami hal seperti Alika.
Di perkosa, kehilangan bayinya hingga dua kali, dan di jadikan istri kedua. Sungguh takdir sangat kejam mempermainkan hidup seorang Alika.
Beruntung Alika memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya, sehingga ia masih mampu mempertahankan kewarasannya.
Bisik hati Nadira perih. Sesuatu yang hangat telah sejak tadi mengalir membasahi pipinya tanpa permisi.
Kini ia bisa sedikit paham bagaimana Zain bisa begitu mencintai Alika dengan sangat dalam. Bahkan Zain seakan telah menyerahkan jiwa raganya pada wanita itu.
Nadira menghela nafas dengan berat mengingat perlakuannya selama ini pada Alika.
" siapa mereka ..?! " Nadira menanyakan dalang di balik terpicunya kembali trauma Alika saat ini.
" aku masih mencarinya..entahlah kenapa ini terasa sulit, seakan ada seseorang yang sangat berkuasa besar di balik semua ini " jawab Zain datar dengan sedikit melirik Nadira.
Tiba tiba Nadira teringat akan sosok beberapa orang orang kepercayaan keluarganya di acara peresmian pengangkatan Zain kemaren.
" Ramos...mungkinkah.." hati Nadira berdesir dan menjerit seketika, ketika pikirannya melayang kepada sesuatu yang ia takutkan.
jemarinya yang tengah menggenggam tangan Alika tiba tiba ia lepaskan begitu saja hingga jemari Alika menggantung kebawah, demikian juga dengan tangannya yang juga turut menggantung kebawah, untuk kemudian ia meremat sendiri kain gamisnya.
" Zain aku permisi dulu..ada sesuatu yang lupa yang harus aku lakukan " pamit Nadira tiba tiba dengan wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran.
" hmmm..." jawab Zain datar
" bolehkah aku menemuinya lagi nanti ?! " sekali lagi Nadira memohon penuh harap sebelum ia melangkah meninggalkan ruangan itu.
" tergantung niatmu menemuinya " jawab Zain lagi masih tanpa melihat kearah Nadira.
__ADS_1
" hmmm..." jawab Nadira juga kemudian segera berlalu meninggalkan ruang perawatan itu.
" semoga kau benar benar tak ada hubungannya dengan semua ini Nadira....karena jika iya, kau akan lihat siapa aku sebenarnya, aku bahkan tak akan perduli meski kita pernah berteman dulu... " desis Zain tertahan.
Ya...Zain dan Nadira adalah teman di masa kecilnya. Keduanya pernah sama sama di besarkan di Mesir dan berada dalam komplex perumahan yang sama. Sekolah di sekolah yang sama saat masih setingkat sekolah dasar hingga akhirnya Zain di bawa kakek dari keluarga Almayra, mamynya...
Dan ketika Zain mendapat hukuman dengan di bawa kembali ke Mesir selama satu tahun karena kenakalannya....keluarga Nadira telah berpindah tempat.
Meski demikian, dari pihak para orang tua masih terjalin silahturahmi khususnya kakek Zaidan, hingga tercetus rencana perjodohan dari kakek Zaidan dan orang tua Nadira demi keberlangsungan silahturahmi diantara dua keluarga dan kepentingan bisnis mereka.
Sementara dari pihak sang anak anak, tak ada sedikitpun hubungan tercipta di antara keduanya sejak perpisahan mereka dulu hingga mereka di pertemukan kembali dalam sebuah perjodohan yang mereka anggap sebagai kepentingan bisnis semata.
Ya... Zain sudah mampu meraba siapa dalang di balik semua yang menimpa Alika dari rekaman cctv yang dengan cepat di dapat oleh Alex di area acara.
Hanya butuh waktu untuk membongkar semuanya dan memastikan semuanya.
💦
Nadira sedikit berlari memasuki mansion keluarganya, beberapa menit yang lalu ia nampak turun dari mobilnya dengan tergesa gesa.
Mansion ini biasanya sepi, hanya sesekali di kunjungi jika ada kepentingan tertentu atau keluarga Nadira ingin sekedar berlibur di negara beriklim tropis ini.
Hanya beberapa orang maid dan satpam yang sengaja di tugaskan berjaga atau sekedar membersihkan area mansion ini.
Itu...memang mereka,
Orang orang berbadan tegap itu segera menunduk begitu melihat kehadiran Nadira.
Semua pria yang bekerja di kediaman Nadira memang di wajibkan oleh tuan besar mereka untuk menundukkan pandangannya agar tak menatap majikan perempuan mereka.
" nona..." seorang pria berbadan tegap dan berwajah cukup tampan sekaligus tegas mendekat dan segera menyapanya sembari menundukkan pandangannya.
" Ramos..." Nadira sedikit terkejut melihat pria itu benar benar berada di hadapannya tengah menundukkan wajahnya.
Nadira menggigit bibir dalamnya sendiri.
" ya nona..." jawab pria itu cekatan dengan tetap menunduk. Nadira menghela nafas
" di mana kakak ku...kapan dia datang ?! " berondong Nadira kemudian, hatinya semakin was was takut dugaannya adalah benar.
" ada di balkon atas nona....tiga hari yang lalu " jawab pria itu.
__ADS_1
" hmm...." Nadira segera melangkah menaiki anak tangga hendak menuju tempat yang di maksud.
namun sejenak ia menghentikan langkahnya
" siapa yang membawa kalian kemari ?! " tanya Nadira lagi
" tuan muda Zubair nona.. " jawab Ramos
" apa abiku tahu ?! "
" entahlah nona..." jawaban Ramos tak membuat Nadira puas, tapi ia sadar...mereka hanya bekerja dan menuruti perintah majikannya.
Saat ini mungkin mereka memang sedang di tugaskan bekerja kepada sang kakak.
Nadira melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga hingga ia sampai pada tempat yang ia tuju, Nadira membuka pintu ruangan kaca itu.
" kakak....." panggilnya... tak ada sahutan, Nadira semakin masuk kedalam, tapi tetap tak menemukan sosok yang ia cari.
" kakak..." panggilnya sekali lagi dan tetap tak mendapat balasan, hingga matanya menangkap tirai balkon yang bergera gerak tertiup angin, tanda balkon ruangan itu memang sedang terbuka.
Nadira melangkahkan kakinya ke arah balkon itu.
 Dan benar saja, seorang pria berbadan tegap dan atletis nampak berdiri membelakanginya dan sama sekali tak menyadari keberadaannya. pria itu nampak sibuk dengan gatged di tangannya.
Jika di lihat dari postur tubuh dan gestur tubuhnya dia adalah pria tampan dengan tingkat kehidupan ekonomi yang tinggi juga mapan.
Itu bisa di lihat dari barang barang yang menempel di tubuhnya juga smart phone mewah di tangannya. Pria itu masih saja nampak sibuk dengan smart phone di tangannya tanpa menyadari kehadiran Nadira di dekatnya.
Pria berbadan tegap itu adalah kakak kedua Nadira.
Zubair Ibrahim Khan...
Nadira semakin melangkah mendekat kearah sang kakak dan berdiri di belakang pria itu, hingga ia bisa melihat apa yang sedang di perhatikan Zubair dari smart phone nya.
Hati Nadira mencelos demi melihat apa yang tengah di lihat sang kakak di sana. Foto wanita yang sangat ia kenal.
Zubair tengah menscroll berkali kali demi hanya untuk melihat foto wanita yang sangat di kenal Nadira yang ia simpan di salah satu aplikasi smart phonenya itu.
" jadi benar kakak pelakunya..." Nadira tiba tiba bersuara dan sangat mengejutkan Zubair.
Seketika pria itu memutar tubuhnya dengan cepat dan menatap Nadira penuh selidik.
__ADS_1
" kau...sejak kapan kau ada disana...mengejutkan saja " omel Zubair dengan geram karena ia sangat terkejut dengan kehadiran Alika yang tiba tiba menurutnya, beruntung ia tak menjatuhkan hand phonenya tadi.