
Zain nampak duduk di kursi dekat jendela di ruang kerjanya. ia sungguh ingin marah....sekali lagi, ia kehilangan Alika. Tidak, tidak akan ia biarkan...
Akan tetapi kata demi kata yang di sampaikan yang ayah sedikit membuatnya tenang.
" istrimu tidak hilang....percayalah dady yang akan menjamin itu, selesaikan tantangan kakekmu tentang MAMBA kemudian tentukan sendiri pilihanmu " kata tuan Osmand menenangkan putranya itu.
" kau seorang pewaris....berpikirlah rasional Zain...." lanjut tuan Osmand.
Zain hanya diam tak menimpali apapun kata kata sang ayah, ia terus saja menatap ponsel di tangannya...membaca berkali kali pesan yang dikirim olah Alika padanya.
Pernyataan cinta Alika kepadanya nyatanya sukses sedikit meredam kemarahan pria tampan berhidunga mancung itu.
" sabar lah Zain...tenangkan dirimu. Turuti keinginannya untuk sekali ini " tuan Osmand yang telah datang sejak kepergian Alika dan Nadira tadi nampak menenangkan putra semata wayangnya itu.
" tapi dady....orang yang kukirim untuk mengikutinya bahkan berhasil kehilangan jejaknya dady.."
" Zain dengarkan aku...sabarlah, ikuti keinginannya...aku rasa dia hanya ingin menenangkan dirinya saja, dia hanya ingin kau bersikap adil dan memberi kesempatan kepada Nadira..." kata tuan Osmand.
" aku yakin....selama ini ia banyak merasa bersalah kepada Nadira..." tuan Osmand melanjutkan kata katanya
" Malayka tak mengambil apapun dari siapapun dady, sejak awal aku miliknya.... " jawab Zain tak terima.
" aku tahu Zain....tapi hati dan perasaan wanita sangat lembut. Apalagi jika itu menyangkut sesamanya.... "
" percayalah...aku akan mencarinya sendiri .." lanjut tuan Osmand lagi
" tanks dady..." jawab Zain.
" sebenarnya siapa dalang di balik semua ini..." Zain bertanya dengan serius, melihat ada orang orang sang kakek di balik menghilangnya Alika menurut orang suruhannya tadi.
" Zain...yang di minta Alika padamu memang benar, jadi bersabarah....jangan terlalu banyak berfikir lagi, aku pastikan istrimu akan baik baik saja. Fokuslah pada MAMBA ..." tuan Osmand kembali meyakinkan Zaindan.
" kakek di balik semua ini kan dady ?! " tanya Zain lagi tuan Osmand tak lagi mampu menyangkal. Sang putra terlalu pintar untuk di kelabui.
" hmmm...." akhirnya tuan Osmand berdehem saja untuk mengiyakan.
" kakek mu hanya sedang menguji kedua istrimu Zain, siapa yang terbaik diantara dua orang wanita terbaik itu. Percayalah....jalani saja dulu sesuai keinginan kakekmu "
" dady tahu di mana Alika sebenarnya kan dad...?? "
Tuan Osmand menggelengkan kepalanya, sungguh ia tak tahu kemana sang papi membawa istri kedua putranya itu.
💦
Satu minggu telah berlalu, Alika melewati hari harinya di panti dengan hati senang, ia di sibukkan dengan ikut mengajar anak anak di panti. meski tak dapat ia pungkiri ia sangat merindukan sosok seorang Zaidan.
__ADS_1
Beberapa hari ini, ia teramat sangat merindukan sosok sang suami. Ia bahkan kesulitan mengontrol emosinya sendiri.
Tak jarang ia merasa sangat bahagia dan sangat bersemangat, namun tiba tiba ia juga sangat merasa sedih.
Tubuhnya pun sering kali merasa lemas dan mudah sekali lelah.
Beruntung ada umi Khasanah dan tiga orang pengawal Alika yang bernama, Desy, Novi dan Atika yang setia menghiburnya.
Sedangkan Zubair yang juga masih bertahan di panti itu pun belum berani menemui Alika secara langsung, ia hanya terus memperhatikan Alika dari kejauhan.
Tapi hari ini berbeda, beberapa hari lagi adalah hari terakhirnya di panti. Tiga hari lagi ia sudah harus kembali ke negaranya untuk menjalankan kembali pekerjaannya yang sudah seminggu ini ia tinggalkan karena Alika.
Meeting meeting penting bersama para rekan rekan bisnisnya telah menunggu.
Zubair perlahan mendekati Alika yang tengah bersama anak anak kecil penghuni panti.
Seperti biasa, dimana Alika berada maka tiga orang wanita pengawal Alika itu juga berada.
" ekhemmm...." Zubair mencoba manarik perhatian Alika denga berdehem.
Alika menoleh,
" anda ada perlu tuan..?! " tanya Alika sopan, sepertinya ia lupa dengan sosok Zubair.
Zubair sedikit maju kedepan, ia berdecak ketika Desy segera berdiri di hadapannya.
" silahkan tuan..." jawab Alika
" bisakah kita bicara di tempat lain nona...di sana mungkin ?! " tunjuk Zubair pada taman kecil di depan sana.
" aku takut...mengganggu mereka " pinta Zubair lagi sembari menuding anak anak kecil itu dengan dagunya.
Alikapun akhirnya mengiyakan, ia tidak merasa khawatir karena ada Desy, Novi dan Atika menemaninya.
Kini keduanya telah duduk berhadapan meski berjarak agak jauh.
" apa yang ingin anda bicarakan dengan saya tuan...?! " tanya Alika
" Zubair...nama saya Zubair nona.. " jawab Zubair, bicara seperti ini membuat jantung Zubair tidak baik baik saja. Aliran darahnya juga seakan mengalir lebih cepat dari biasanyan.
" ya ..tuan Zubair, ada apa ?! "
Zubair menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya begitu saja.
" tiga hari kedepan saya harus segera kembali ke negara saya nona, tapi sebelum itu saya ingin minta maaf kepada anda nona..." kata Zubair, akhirnya ia nekat meminta maaf.
__ADS_1
Alika mengerutkan keningnya bingung.
" minta maaf ?! " celotehnya.
" ya nona...minta maaf, tolong maafkan saya " Zubair mulai terdengar bergetar.
" maafkan saya nona...tolong maafkan aku, aku sungguh tak tahu kau memiliki trauma pada laki laki. Sungguh aku tak bermaksud menyakitimu seperti itu.." Zubair mengungkapkan perasaannya. Ia mencoba tak bicara formal. Ia ingin terkesan sedikit hangat di interaksi percakapan mereka yang kedua ini.
Alika kembali bingung
" apa aku mengenalmu tuan ?! " tanya Alika kemudian.
Zubair mengangkat wajahnya menatap Alika.
Seketika Alika gemetar ketika ia mengenali wajah pria di hadapannya itu.
" kau...!! " pekik Alika terkejut.
" ya Alika...ini aku, Zubair...Zubair Ibrahim Khan. Aku kakak kandung Nadira " terang Zubair.
" kumohon tenangkan dirimu, aku tidak akan macam macam lagi padamu " janji Zubair.
Desy mendekat kearah keduanya.
" izinkan aku bicara Alika..." pinta Zubair lagi.
Melihat kejujuran pada raut wajah Zubair, Alika akhirnya mengalah.
Ia meminta Desy untu sabar menunggunya.
Merasa mendapat peluang, Zubair segera menjelaskan duduk perkaranya yang sebenarnya hingga ia nekat melakukan itu.
Alika menghela nafas.
" aku mengerti tuan...aku juga minta maaf karena aku kau menjadi orang yang bukan dirimu " kata Alika kemudian.
Zubair sedikit bernafas lega.
" terima kasih Alika kau mau memaafkan aku " kata Zubair lagi, Alika tersenyum tipis membuat Zubair mati matian menahan pikirannya sendiri.
" bolehkan aku menjadi temanmu Alika....Alika...!!! " Zubair tiba tiba berteriak ketika melihat tubuh Alika yang tiba tiba limbung.
Wanita berhijab itu terjatuh ke tanah, Desy segera berlari hendak menghampiri, namun jarak yang jauh membuatnya terlambat.
Zubair hampir saja menyentuh tubuh Alika yang tergeletak di tanah jika saja sebuah suara barinton tidak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" berhenti di tempatmu tuan muda Zubair...." suara itu begitu lantang menyapu gendang telinga Zubair. Perlahan pria tampan itu memundurkan langkahnya kebelakang.